Oleh Agusni AH
NYARIS setiap ujung malam, gedung tua itu mengeluarkan desah-desah parau yang memecah kesunyian pekat tanpa cahaya. Suara-suara itu terdengar ketika para penghuni telah terlelap setelah seharian bergelut dalam hiruk-pikuk kehidupan.
Gedung tua peninggalan Belanda itu dahulu menjadi pusat konsentrasi logistik pemerintahan kolonial. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut sempat difungsikan sebagai kantor Kewedanaan di ujung barat Nusantara. Bertahun-tahun kemudian, gedung itu menjadi tempat tinggal sekelompok pejuang yang mengibarkan panji perjuangan.
Setiap malam sunyi, desah-desah misterius itu terdengar bagai makhluk yang tengah mewartakan kegundahan dari lorong waktu yang kelam. Salah seorang penghuni gedung tua itu mencuri pandang ke sekeliling, lalu memasang telinga, berusaha menangkap arah datangnya suara yang kian memilukan.
Malam-malam berlalu tanpa mampu membuat seorang penghuni gedung itu memejamkan mata. Pikirannya melayang, hatinya diliputi kegelisahan. Namun, kegundahan itu bukan semata-mata disebabkan oleh desah-desah parau yang selalu terdengar setiap ujung malam. Ia menyadari, suara itu hanyalah gema dari pertikaian yang terus membelah para penghuni gedung tua.
Sedikit demi sedikit ia menangkap banyak persoalan yang melatarbelakangi lahirnya ratapan pilu itu. Mereka yang mengatasnamakan diri sebagai pejuang, penerus yang sebagian besar masih belia, kini mulai terpecah ke dalam berbagai faksi. Persaudaraan yang dahulu mereka kedepankan, dan kebersamaan penuh bangga menjaga khittah dari simbol mendasar sejak kelahirannya dua tahun setelah bangsanya merdeka, perlahan terkikis oleh kepentingan masing-masing.
Di tengah kegelisahan yang menggelayut dalam benaknya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sesosok tubuh besar berjubah hijau-hitam. Mula-mula sosok itu hanya meringis lirih. Tak lama kemudian, isaknya pecah menjadi sedu sedan yang panjang. Dari kejauhan, sekitar lima puluh meter, ia tampak berdiri tegak, lalu perlahan limbung, seolah tak lagi sanggup memikul beban duka yang mengimpit tubuh dan jiwanya.
Seiring tubuh berjubah hijau kehitaman itu luruh ke lantai gedung tua, dari sekujur raganya mengalir sesuatu yang menyerupai darah, tetapi bukan berwarna merah. Cairan itu pekat, kelam, seolah memendam seluruh luka yang tak pernah sempat terucapkan.
Seorang penghuni gedung tua itu berdiri membeku. Rasa ngilu dan penasaran berkelindan di dadanya. Dengan langkah tertahan ia memberanikan diri mendekat. Namun, semakin dekat ia melangkah, aliran yang menyerupai darah dari tubuh sosok berjubah itu justru kian melebar, merambat perlahan di lantai, seakan menghalangi setiap niatnya untuk mengetahui siapa gerangan sosok itu.
Mula-mula ia mengira sosok itu adalah hantu yang menghuni gedung tua tersebut. Rasa takut membuat langkahnya nyaris terhenti. Namun, semakin dekat ia mendekat, semakin jelas pula wujud yang terbaring di hadapannya. Jubah besar yang menyelubungi tubuh itu ternyata bukan kain biasa, melainkan perpaduan dua warna panji perjuangan yang selama ini mereka junjung tinggi. Kini panji itu seolah menjelma menjadi sosok yang terisak, meratap pilu, terluka oleh laku para penghuni gedung tua itu sendiri. []
(Langsa, 5 Februari 1997, dalam gelisah menyambut hari lahirnya HMI ke-50 tahun).
Biodata:
Agusni AH. Aktif menulis esai, opini, cerpen, dan puisi. Buku antologi tunggalnya adalah Teja Merambat Bumi, serta Merengkuh Asa yang ditulis bersama Putra Zulfirman, dan Tikai (segera terbit). Karya-karyanya juga terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, di antaranya Lagu Kelu dan Maha Duka Aceh. Cerpennya telah dimuat di harian Waspada Medan dan waspada.id. Pada era 1990-an, karya-karyanya juga terbit di harian Serambi Indonesia serta beberapa media daring lainnya. Di tengah aktivitasnya sebagai penyelenggara pemilu, ia tetap menekuni dunia literasi sebagai ruang untuk merawat nalar, rasa, dan nurani.
Penulis: Agusni AH
Editor: Muhammad Subhan
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah Ruang Sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.




