Azmi ‘Ulya. Lahir di Tangerang, 16 Februari 2010. Sejak usia dini, ia telah menunjukkan ketertarikan pada dunia kata, terutama puisi. Karya-karyanya diterbitkan sejumlah media.
KECEWA
telah banyak luka kutanggung dalam drama ini
skenario perjumpaan tak pernah menjadi nyata
aku mempertaruhkan nasib pada harapan
yang bertepuk sebelah tangan
hingga akhirnya kecewa datang
ketika kulihat
terlalu banyak yang sibuk memikirkan dirinya sendiri.
negeri yang kucinta kini bercampur dengan kecewa
negeri yang dahulu kupuja tak lagi mudah kubanggakan
kemajuan yang digembar-gemborkan terasa hampa
bukan karena rakyat kehilangan cinta
tapi karena negeri tak lagi berpihak kepada mereka.
penguasa telah duduk di takhta
sementara rakyat masih bergelut dengan lapar
jarak antara istana dan sawah semakin jauh
petani dan buruh terus bekerja
namun suaranya tenggelam
selama mulut mereka masih dibungkam.
di mana demokrasi yang pernah dijanjikan?
di mana sila kelima yang seharusnya ditegakkan?
jangan biarkan keduanya tinggal menjadi slogan
tanpa keadilan yang benar-benar dirasakan rakyat.
kami tidak meminta belas kasihan
kami menuntut keadilan
kami, para pemuda dan rakyat, hanya ingin didengar
kami tak membutuhkan janji yang berulang
apalagi air mata yang datang setelah semuanya terlambat.
kami hanya menginginkan keadilan yang merata
sebab negeri ini telah lama merdeka
namun kemerdekaan seakan hanya dinikmati
mereka yang berkuasa dan bermodal
sementara petani dan buruh terus memikul beban kehidupan.
bangkitlah, rakyat.
jangan biarkan mata dibutakan,
telinga ditulikan,
dan mulut terus dibisukan.
Tangerang, 2026
KOPIKU PAHIT, KOPIMU?
kutuliskan aksara-aksara taman berbunga berpohon layu di cakawang
duduk termenung di depan kopi hitam. sialan, rasa kopiku menerawang.
kopiku terasa pahit
kata semesta:
“nikmatilah saja,
nikmatilah”
halah, hanya sebuah kopi, masa bermakna?
lantas bagaimana dengan kopi yang kau seduh,
lebih bermakna?
kopi hitam dengan rasa pahit tak lebih kurang,
tak lebih pahit dari sebuah realita
dan semuanya terasa:
rasa pahit juga.
Tangerang, 2026
Penulis: Azmi ‘Ulya
Editor: Ayu K. Ardi
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah Ruang Sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.






