Oleh Muhammad Subhan

SALAH satu jebakan berpikir yang paling sering muncul dalam perdebatan publik adalah menyederhanakan persoalan yang rumit menjadi dua pilihan yang tampak tegas. Dalam logika, cara berpikir demikian dikenal sebagai dilema palsu (false dilemma), yakni menghadirkan seolah-olah hanya ada dua kemungkinan, padahal kenyataan menyediakan jauh lebih banyak pilihan.

Pertanyaan, “Pilih orang santun namun sebenarnya salah atau pilih orang kasar namun sebenarnya benar?” tampak provokatif. Sekilas terlihat cerdas. Bahkan, ia terdengar seperti pertanyaan filosofis yang mengajak orang berpikir lebih dalam, padahal justru sebaliknya.

Pertanyaan itu mengandung cacat logika yang fatal. Ia memaksa orang memasuki ruang yang sempit, lalu menyuruh memilih salah satu sudut ruangan seakan-akan tidak ada pintu keluar.

Mengapa kita harus memilih orang santun yang salah? Mengapa pula harus memilih orang kasar yang benar? Mengapa tidak memilih orang yang benar sekaligus santun?

Kenyataan kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa ribuan guru, ilmuwan, ulama, dokter, hakim, peneliti, dan pemikir mampu menyampaikan kebenaran tanpa perlu memaki orang lain. Mereka tidak kehilangan ketajaman berpikir hanya karena menjaga kesopanan. Mereka juga tidak kehilangan keberanian hanya karena menghormati lawan bicara. Justru kemampuan menyampaikan kritik secara santun merupakan tanda kematangan intelektual yang paripurna.

Kekeliruan lain muncul ketika kekasaran diam-diam diberi status istimewa, seolah-olah menjadi bukti otentisitas keberanian. Dalam banyak perdebatan, orang yang berbicara keras dan meledak-ledak sering dianggap lebih jujur dibanding orang yang berbicara tenang. Padahal, volume suara tidak memiliki hubungan ilmiah maupun logis dengan validitas argumen.

BACA JUGA :  Festival Literasi dan Denyut Buku-Buku di Jantung Kota Padang

Kebenaran tidak lahir dari nada suara. Kebenaran lahir dari koherensi logika, kecukupan data, ketepatan metodologi, serta kemampuan sebuah argumen bertahan terhadap kritik.

Ironisnya, mereka yang mengaku membela rasionalitas kadang terjebak dalam kontradiksi. Mereka mengatakan perdebatan diperlukan untuk menguji gagasan. Pernyataan itu benar. Ilmu pengetahuan memang berkembang melalui kritik dan sanggahan. Namun, masalah mendasar muncul ketika kritik bermutasi menjadi serangan personal (ad hominem). Saat karakter seseorang dijadikan sasaran utama, perdebatan perlahan meninggalkan wilayah gagasan dan masuk ke wilayah prasangka. Orang tidak lagi menguji argumen, sebaliknya mulai menghakimi individu. Di titik itulah diskusi kehilangan daya ilmiahnya.

Seorang peneliti tidak dapat menyimpulkan sebuah teori salah hanya karena pembuat teorinya memiliki sifat buruk. Seorang hakim tidak dapat memutus perkara berdasarkan kesukaan pribadi terhadap terdakwa. Pun demikian, seorang editor tidak dapat menolak naskah hanya karena tidak menyukai karakter penulisnya. Argumen harus diperiksa melalui argumen. Bukti harus dijawab dengan bukti. Logika harus dibantah dengan logika. Karakter manusia memang penting dalam kehidupan sosial, namun karakter bukan alat ukur tunggal untuk menentukan benar atau salahnya sebuah gagasan.

Ada persoalan yang lebih menarik untuk dibahas: mengapa sebagian orang merasa bahwa kekasaran adalah harga yang harus dibayar demi memperoleh kebenaran? Kemungkinan besar karena mereka menyamakan ketegasan dengan agresivitas. Padahal, keduanya berada di kutub yang berbeda. Ketegasan berfokus pada substansi; agresivitas berfokus pada lawan. Ketegasan mengejar kejelasan; agresivitas mengejar kemenangan psikologis. Ketegasan memperkuat argumen; agresivitas sering kali menjadi kompensasi ketika argumen mulai melemah.

BACA JUGA :  Balasan Surat Digital Buat Uda Yulfian Azrial

Dalam psikologi komunikasi, dikenal gejala bahwa ketika seseorang merasa posisinya terancam akibat kepanikan yang tak terkontrol, intensitas emosinya akan meningkat. Kata-kata menjadi lebih keras dan serangan personal mulai bermunculan. Fenomena ini terjadi bukan karena argumentasinya semakin kuat, justru sebaliknya: emosi sedang mengambil alih ruang yang semestinya ditempati oleh nalar. Oleh sebab itu, kekasaran tidak dapat diperlakukan sebagai indikator keberanian intelektual, ataupun tanda bahwa seseorang sedang membela kebenaran. Sering kali, kekasaran hanyalah kebisingan yang menutupi kelemahan penalaran.

Perdebatan memang penting, sebagai tanda manusia berpikir. Bahkan, peradaban modern dibangun oleh tradisi perdebatan yang panjang. Filsafat Yunani, ilmu pengetahuan modern, sistem hukum, hingga demokrasi bertumpu pada kemampuan manusia mempertentangkan gagasan. Akan tetapi, tujuan akhir perdebatan bukan menciptakan musuh atau menjatuhkan mental lawan, sebaliknya memperbaiki kualitas pemahaman terhadap “kebenaran” yang dicari. Bukan “pembenaran”.

Ketika seseorang berkata bahwa dirinya memilih orang kasar yang benar daripada orang santun yang salah, sesungguhnya ia sedang terjebak dalam kerangka berpikir yang keliru. Ia menerima asumsi naif bahwa kesantunan dan kebenaran berada pada kubu yang saling bermusuhan. Padahal, sejarah intelektual dunia menunjukkan hal yang sebaliknya. Kebenaran yang kuat tidak membutuhkan makian sebagai tongkat penyangga. Argumen yang kokoh tidak memerlukan penghinaan sebagai alat bantu napas. Jika sebuah gagasan memang benar, biarkan ia menang melalui kekuatan penjelasannya, bukan melalui kekasaran yang berisik.

BACA JUGA :  Pariwisata Sumbar Harus Terus Berbenah

Mari kita uji cacat logika ini dengan membawanya ke ranah domestik dan profesional yang lebih nyata. Bayangkan seorang istri yang disodori pilihan: “Pilih suami yang melakukan KDRT tapi memberi cukup uang, atau suami santun tapi tak memberikan nafkah?” Pertanyaan ini menjebak karena mengaburkan esensi pernikahan yang ideal, yakni suami yang menafkahi sekaligus menyayangi tanpa kekerasan. Menerima dikotomi palsu ini sama saja dengan memaklumi kejahatan domestik atas nama pemenuhan materi.

Logika cacat yang sama akan tampak pada profesi lain. Apakah kita mau menyerahkan nyawa kita di meja operasi kepada seorang dokter bedah yang memaki-maki asistennya secara brutal dengan dalih “yang penting operasinya berhasil”? Atau, maukah kita mengonsumsi obat dari seorang apoteker yang kasar dan serampangan dalam pelayanan hanya karena ia mengklaim racikan obatnya manjur? Tentu tidak. Kita menuntut profesionalisme yang utuh: keahlian yang mumpuni sekaligus etika yang terjaga.

Begitulah. Memisahkan kebenaran dari kesantunan adalah upaya malas untuk melegitimasi kedangkalan budi. Peradaban yang maju tidak dibangun oleh orang-orang yang harus merusak kemanusiaan orang lain demi menegakkan sebuah argumen. Kebenaran dan kesantunan bukanlah dua hal yang harus saling mengorbankan; keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama bernama martabat manusia. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis