INSERTRAKYAT.com,– Satu bungkus plastik yang menyumbat selokan mungkin terlihat sepele. Begitu pula tumpukan daun di mulut drainase atau pasir yang menutup jalur aliran air. Namun, saat hujan turun deras, benda-benda kecil itu dapat mengubah perjalanan air menjadi persoalan besar. Genangan muncul, halaman rumah terendam, jalan sulit dilalui, dan aktivitas warga terganggu.

Musim hujan selalu membawa kebutuhan yang hampir selalu sama disetiap lingkungan, yaitu “kesiapan.” Langit memang tidak dapat diminta menunda hujan, tetapi masyarakat dapat mengurangi risiko dengan mengenali kondisi lingkungan sebelum air meluap.

Perhatian terhadap kesiapsiagaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam silaturahmi Wakil Ketua Umum Lembaga Gerakan Intelektual Satu Komando (GISK), Sahiruddin, dengan Kapolsek Kindang, Iptu Hendra Yunus, S.H., di Kabupaten Bulukumba.

Pertemuan itu membahas keterlibatan masyarakat menghadapi perubahan cuaca menjelang musim hujan. Salah satu perhatian utamanya ialah kondisi drainase, saluran air, serta tumpukan sampah dan material di sepanjang pinggir jalan yang dapat menghambat aliran air.

Pengalaman warga Kindang menghadapi bencana longsor juga menjadi catatan yang relevan. Dalam pemberitaan InsertRakyat.com pada 5 Juli 2025, longsor menerjang Dusun Benteng Senggang, Kelurahan Borongrappoa, Kecamatan Kindang. Material tanah dan batu menutup akses jalan menuju Kota Bulukumba.

Warga dari wilayah Na’na’ bersama anggota GISK kemudian turun melakukan kerja bakti. Mereka membersihkan material longsor menggunakan cangkul dan sekop agar akses jalan kembali dapat dilalui. Kegiatan gotong royong itu berlangsung di tengah kewaspadaan terhadap kemungkinan longsor susulan.

Peristiwa tersebut memberi gambaran bahwa kondisi lingkungan Kindang membutuhkan perhatian berkelanjutan, terutama saat curah hujan meningkat. Setelah jalan kembali terbuka, upaya pencegahan tetap perlu berjalan agar warga tidak terus menghadapi gangguan serupa.

Kapolsek Kindang mengimbau warga menjaga kebersihan lingkungan, memeriksa saluran air, dan melakukan pembersihan sejak dini. Saluran yang rusak atau tersumbat perlu mendapat penanganan agar air hujan tidak meluap ke kawasan permukiman maupun jalan.

Imbauan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam upaya pengurangan risiko bencana. Jika ditelisik pada panduan kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), masyarakat perlu mengenali ancaman di lingkungan masing-masing, menjaga saluran air, memantau informasi cuaca, serta menyiapkan langkah penyelamatan keluarga.

Artinya, kesiapsiagaan tidak harus menunggu kehadiran petugas atau datangnya peringatan bencana. Warga dapat memulainya dengan memeriksa selokan di depan rumah, membersihkan sampah yang menghalangi aliran, dan melaporkan kerusakan saluran kepada pemerintah setempat.

Persoalan drainase juga memiliki hubungan langsung dengan keselamatan pengguna jalan. Dalam pedoman pemeliharaan jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, fungsi saluran perlu dijaga agar air tidak tertahan dan mengganggu badan jalan. Saluran yang tersumbat dapat mempercepat terbentuknya genangan, sementara air yang terus mengalir tanpa kendali berpotensi mengikis bagian tertentu dari lingkungan jalan.

Sahiruddin menyambut baik imbauan Kapolsek Kindang. Ia menilai kesiapan menghadapi perubahan cuaca membutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat. Pemerintah dan aparat memiliki peran penting, tetapi warga juga perlu mengambil bagian melalui tindakan pencegahan di lingkungan masing-masing.

“Antisipasi harus dilakukan sejak dini. Jangan menunggu terjadi banjir atau luapan air baru kita bergerak. Kebersihan lingkungan dan saluran air merupakan tanggung jawab bersama,” ungkap Sahiruddin.

Ada beberapa pekerjaan sederhana yang dapat menjadi kebiasaan warga menjelang musim hujan. Pertama, bersihkan selokan dari plastik, dedaunan, lumpur, dan material lain yang menghambat aliran. Kedua, periksa talang atap dan saluran pembuangan di sekitar rumah. Ketiga, jangan membuang sampah ke sungai, parit, atau drainase. Keempat, laporkan saluran yang rusak dan titik genangan berulang kepada aparat desa atau pemerintah setempat.

Keluarga juga perlu memiliki persiapan dasar. Simpan dokumen penting dalam wadah kedap air. Letakkan obat-obatan, senter, perlengkapan pertolongan pertama, dan nomor kontak darurat di tempat yang mudah dijangkau. Pastikan seluruh anggota keluarga mengetahui jalur menuju lokasi aman apabila banjir mengancam.

Warga yang tinggal di sekitar sungai dan kawasan lereng perlu meningkatkan kewaspadaan. Air sungai yang naik dengan cepat, aliran yang berubah keruh dan membawa material, retakan tanah, atau guguran kecil di lereng dapat menjadi tanda bahaya. Jangan menunggu keadaan memburuk untuk menjauh dari lokasi berisiko. Ikuti informasi resmi dan arahan petugas.

GISK,  (Sahir,-red) berharap hubungan antara kepolisian, pemerintah setempat, lembaga sosial, dan masyarakat terus berkembang menjadi kerja sama yang bermanfaat. Kesiapsiagaan perlu hadir dalam kegiatan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan hingga menyampaikan informasi mengenai potensi bahaya.

Musim hujan tidak pernah meminta izin sebelum datang. Karena itu, masyarakat perlu menyiapkan lingkungan sebelum hujan menguji kemampuan saluran air, ketahanan rumah, dan kewaspadaan warga.

“Satu selokan yang bersih mungkin hanya menyelesaikan persoalan kecil di depan rumah. Namun, jika setiap keluarga melakukan hal serupa, kepedulian itu membentuk perlindungan bersama. Keselamatan lingkungan tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, jauh sebelum genangan pertama muncul,” kuncinya.

Penulis: Wahyuddin

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL