BAIK dan Tepat sekali, Munawir adalah polisi Indonesia yang membawa anak-anak binaannya keluar dari lapangan latihan menuju panggung kompetisi yang mempertemukan peserta dari enam negara. Perjalanan itu bermula dari pembinaan sepak bola yang dijalaninya sejak 2023 bersama anak-anak SSB Garuda Sakti Soccer School.

Seragam polisi membawanya pada tugas kedinasan. Lalu ketika berada di lapangan, peluit, bola, dan anak-anak menjadi bagian luar biasa dari kesehariannya.

Bola bergulir. Anak-anak berlari mengejar permainan. Munawir berdiri di sisi lapangan, mengamati, memberi arahan, dan membentuk permainan dari latihan yang dilakukan berulang atau “konsisten.”

Anggota Polsek Ujung Polres Parepare itu melatih sekitar 20 pelajar di SSB Garuda Sakti Soccer School yang kini berdomisili di Pao, Kabupaten Pinrang.

Di tempat itu, sepak bola tidak berhenti pada urusan menendang, mengoper, atau mencetak gol. Anak-anak belajar datang tepat waktu, bekerja sama, menerima kekalahan, sekaligus menghargai lawan.

Munawir memiliki lisensi pelatih sepak bola usia remaja. Bekal itu digunakannya untuk mendampingi pemain muda mulai dari latihan dasar hingga membawa mereka mengenal pertandingan di luar daerah.

Pilihan Munawir untuk membina anak-anak mempunyai cerita sendiri.

Ia pernah berada pada posisi anak-anak yang sekarang berdiri di hadapannya. Ketika kecil, ia melihat banyak anak memiliki kemampuan bermain sepak bola, tetapi tidak mudah menemukan pelatih maupun jalan untuk mendapatkan pembinaan.

“Dulu kami saat kecil banyak yang pandai sepakbola, namun tidak ada yang bisa melatih dan memberikan jalan. Karena itulah saya merasa terpanggil untuk mendidik dan melatih anak-anak dan memberikannya jalan serta kesempatan untuk berprestasi,” ujar Aiptu Munawir saat dikonfirmasi tim InsertRakyat.com, pada Selasa (11/8/2026).

Pengalaman masa kecil itu kemudian menjadi bagian dari alasan Munawir memilih membina generasi berikutnya.

Ia mencoba membuka kesempatan yang dulu tidak mudah ditemukan.

Salah satu hasil dari proses tersebut terlihat pada 2025.

Anak-anak binaannya tampil dalam Event Nasional Bali 7Seven dengan membawa nama Sulawesi Selatan. Ajang itu diikuti peserta dari enam negara.

Perjalanan kompetensi itu mempertemukan anak-anak yang sehari-hari berlatih di Sulsel dengan pemain dari berbagai daerah dan negara. Lapangan pertandingan bola di bali itu menjadi ruang baru untuk mengukur kemampuan yang selama ini mereka bangun dalam latihan.

Ada suasana yang berbeda ketika sebuah tim meninggalkan lapangan latihan dan memasuki arena kompetisi.

Rutinitas latihan berubah menjadi pertandingan. Bola yang biasanya dimainkan bersama rekan sendiri harus diperebutkan dengan lawan yang belum mereka kenal. Setiap gerakan, kesalahan, kerja sama, dan keputusan di lapangan menjadi pengalaman baru.

Di sana anak-anak belajar bahwa sepak bola juga tentang keberanian menghadapi lingkungan yang berbeda.

Munawir, (katanya), pengalaman seperti itu menjadi bagian penting dari pembinaan pemain muda.

Ia tidak hanya ingin anak-anak mempunyai kemampuan bermain, tetapi juga memperoleh jam terbang dan kesempatan bertanding melalui klub resmi.

“Harapan saya tidak banyak, hanya ingin melihat bakat-bakat anak-anak kami dapat tersalurkan. Semoga akan melahirkan atlet-atlet sepakbola berbakat di masa depan yang akan mengharumkan nama bangsa,” harapnya.

Selain Sepak Bola

Aktivitas pembinaan Munawir tidak berhenti pada sepak bola.

Ia juga tercatat dalam kepengurusan Percasi Parepare dan Bridge Parepare. Ia turut terlibat dalam pembinaan atlet hingga atlet catur dan bridge Parepare tampil pada event regional tingkat Sulawesi Selatan.

Namun sepak bola menjadi salah satu ruang yang paling dekat dengan perjalanan anak-anak binaannya.

Di satu sisi, Munawir menjalankan tugas sebagai anggota Propam Polsek Ujung. Di sisi lain, ia hadir sebagai pelatih bagi anak-anak yang sedang mencari ruang untuk mengembangkan kemampuan. Dua kehidupan itu berjalan beriringan di rasa oleh Munawir.

Pada pagi atau waktu dinas, seragam polisi menjadi bagian dari pekerjaannya. Di lapangan, ia berhadapan dengan anak-anak, bola, latihan, dan proses panjang yang tidak selalu terlihat dalam sebuah pertandingan.

Perjalanan yang Lebih Panjang dari Pertandingan

Boleh jadi, bagi anak-anak yang datang berlatih, Munawir mungkin hanya terlihat sebagai seorang pelatih dengan peluit di tangan. Namun sebuah perjalanan kompetisi tidak dibangun dalam satu pertandingan.

Ada latihan yang berulang, disiplin yang harus dijaga, kekalahan yang harus diterima, kerja sama yang harus dipelajari, serta keberanian untuk kembali bermain setelah pertandingan berakhir pada satu babak.

Pengalaman tampil di Bali dengan peserta dari enam negara menjadi salah satu bagian dari perjalanan itu.

Anak-anak yang berlatih di Sulsel itu, mendapat kesempatan melihat dunia sepak bola yang lebih luas dari lingkungan latihan mereka.

Bali menjadi tempat mereka bertanding, bertemu pemain dari daerah lain dan negara lain, serta membawa nama Sulawesi Selatan sejak saat itu hingga kini 2026 dan seterusnya.

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, perjalanan tersebut juga memberi gambaran lain tentang arti ruang bagi generasi muda.

Ruang untuk berlatih. Ruang untuk bertanding. Ruang untuk kalah dan belajar. Ruang untuk membawa kemampuan ke tempat yang lebih jauh.

Munawir memilih membuka ruang itu melalui sepak bola.

Polisi ramah itu tidak menjanjikan jalan yang mudah. Ia hanya berusaha memberikan kesempatan yang dulu sulit ia temukan ketika masih kecil.

Kendati, dari lapangan latihan anak-anak binaan Munawir, pernah melangkah ke Bali, membawa bola, pengalaman, serta nama daerah mereka ke tengah kompetisi yang diikuti peserta dari enam negara.

Perjalanan itu belum selesai, sebab bagi pemain muda, satu pertandingan bukan akhir. Melainkan menjadi awal dari perjalanan berikutnya.

Baca Juga : Sejak 1970, Guru Aceh Ini Masih Mengajar di Usia 79 Tahun

 

Laporan : Erwin

Editor      : Supriadi Buraerah