Oleh Supriadi Buraerah.

PERLAHAN, ujung jari itu menyusuri lembaran bertitik timbul (bayangkan saja). Sesekali berhenti, lalu bergerak lagi, seolah sedang merangkai sesuatu yang hanya dapat dikenali melalui sentuhan. Dari pola-pola kecil itu, lahir kata demi kata, membuka jalan menuju dunia pengetahuan yang begitu luas. Barangkali tak banyak yang tahu, di balik cara membaca yang sederhana itu tersimpan sebuah kisah tentang seorang anak, sebuah keterbatasan, dan penemuan yang mengubah kehidupan jutaan manusia. Siapa dia, dan bagaimana kisahnya bermula?

Akhir pekan (suasana) sering mengundang orang meninggalkan rutinitas. Sebagian memilih perjalanan, sebagian mencari hiburan, sementara sebagian lain membuka buku dan membiarkan pikirannya berkelana. Tidak perlu tiket, kendaraan, atau koper. Sebuah halaman dapat membawa pembaca melintasi zaman, mengenalkan peradaban yang jauh, bahkan mempertemukannya dengan pengalaman hidup yang belum pernah ia alami.

Buku memiliki banyak hal; [keistimewaan] yang jarang disadari. Ia tidak hanya menyimpan kalimat, tetapi juga memindahkan pengalaman dari satu kepala ke kepala lain. Melalui tulisan, seseorang dapat mempelajari penemuan ilmuwan, menyusuri sejarah bangsa, memahami pergulatan manusia, atau mengenali gagasan yang lahir jauh sebelum dirinya hadir di dunia.

Setiap bacaan menyediakan pintu dengan ukuran berbeda. Buku sejarah mengajak pembaca menelusuri hubungan sebab dan akibat. Sains memperkenalkan cara kerja alam. Filsafat menguji dasar pemikiran. Sastra membawa pembaca masuk ke ruang batin manusia, sedangkan biografi menyuguhkan perjalanan panjang seseorang dalam menghadapi perubahan, kegagalan, dan pencapaian.

Perjalanan membaca berlangsung melalui proses tidak selalu terasa berat, bahkan lebih ringan daripada mengapa alis terangkat seketika (itu). Sebuah istilah baru bertemu dengan pengetahuan lama. Kalimat yang semula terasa asing perlahan memperoleh arti. Gagasan yang sebelumnya berdiri sendiri mulai terhubung dengan pengalaman sehari-hari. Dari pertemuan itulah wawasan bertumbuh.

Penelitian psikologi dan pendidikan turut memberi penjelasan mengenai manfaat kebiasaan membaca. Studi longitudinal yang dilakukan Alice Sullivan dan Matt Brown terhadap data British Cohort Study menemukan hubungan antara kebiasaan membaca untuk kesenangan pada masa kanak-kanak dan perkembangan kemampuan kognitif hingga usia remaja. Hubungan paling kuat tampak pada pertumbuhan kosakata, disusul kemajuan kemampuan matematika.

Temuan tersebut memberi gambaran bahwa membaca ikut menyediakan bahan bagi perkembangan bahasa dan penalaran. Kosakata yang semakin luas membantu seseorang mengenali perbedaan makna, menyusun pikiran secara lebih tertib, serta menyampaikan gagasan dengan lebih tepat. Orang yang memiliki banyak kata tidak otomatis memiliki banyak pengetahuan, tetapi perbendaharaan bahasa yang kaya menyediakan perangkat untuk memahami dan menguraikan dunia.

Manfaat membaca juga merambah kemampuan sosial. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology: General pada 2024 menghimpun 70 eksperimen dengan 371 ukuran efek. Penelitian itu menemukan manfaat kognitif dalam skala kecil dari kegiatan membaca fiksi, terutama pada sejumlah kemampuan yang berkaitan dengan empati dan pemahaman terhadap pikiran orang lain.

Kajian lain dari Júlia Ferreira Rezende dan Nadia Shigaeff, peneliti yang berafiliasi dengan Universidade Federal de Juiz de Fora, Brasil, menelaah 16 publikasi empiris mengenai fiksi dan kognisi sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa cerita dapat membantu pembaca memahami niat, tindakan, dan hubungan antarmanusia. Pengaruhnya bergantung pada karakter pembaca, bentuk bacaan, serta kegiatan pendamping seperti diskusi.

Artinya, membaca cerita tidak serta-merta membuat seseorang lebih bijaksana. Namun, narasi memberi kesempatan untuk berlatih memahami kehidupan dari pengalaman yang berbeda. Pembaca dapat mengenali kecemasan tokoh, menimbang keputusan yang rumit, atau mengikuti akibat dari sebuah tindakan tanpa harus mengalami seluruh peristiwa itu secara langsung.

Kemampuan tersebut dekat dengan istilah perspective-taking, yakni kecakapan memahami keadaan melalui sudut pandang orang lain. Dalam kehidupan sosial, kemampuan ini membantu seseorang menahan penilaian yang tergesa-gesa, membaca konteks, dan mempertimbangkan alasan di balik tindakan orang lain. Buku tidak menggantikan pengalaman hidup, tetapi dapat memperluas bekal seseorang sebelum berhadapan dengan pengalaman tersebut.

Perjalanan membaca bahkan memiliki jalur yang tidak selalu melewati mata. Sebagian orang mengakses pengetahuan melalui suara, sebagian menggunakan teknologi pembaca layar, dan sebagian meraba huruf Braille. Cara berbeda itu tidak mengurangi nilai pengetahuan yang mereka peroleh.

Huruf Braille merupakan sistem tulisan sentuh yang memungkinkan penyandang disabilitas netra membaca dan menulis melalui pola titik-titik timbul. Sistem ini lahir dari pemikiran seorang pemuda Prancis bernama Louis Braille, yang kehilangan penglihatan setelah mengalami kecelakaan di bengkel kerja ayahnya. Kecelakaan itu terjadi saat ia berusia tiga tahun. Pada usia lima tahun, ia telah kehilangan penglihatan sepenuhnya.

Kisah penemuan Braille memiliki hubungan menarik dengan dunia militer. Sebelum Louis mengembangkan sistemnya, seorang perwira artileri Prancis bernama Charles Barbier menciptakan metode komunikasi yang dikenal sebagai night writing atau tulisan malam. Sistem tersebut memungkinkan tentara membaca pesan dalam gelap tanpa menyalakan lampu yang dapat mengungkap posisi mereka kepada musuh.

Louis mengenal sistem titik timbul karya Barbier saat belajar di lembaga pendidikan bagi tunanetra di Paris. Ia melihat peluang untuk mengembangkan metode tersebut agar lebih sederhana dan mudah dibaca melalui sentuhan. Pada usia 15 tahun, tepatnya sekitar 1824, Louis berhasil merancang sistem enam titik yang menjadi dasar huruf Braille modern.

Susunan enam titik itu menghasilkan 64 kemungkinan kombinasi. Setiap pola dapat mewakili huruf, angka, tanda baca, dan berbagai simbol. Inovasi seorang remaja yang dahulu kehilangan penglihatan tersebut kemudian membuka akses membaca dan menulis bagi jutaan penyandang disabilitas netra di berbagai negara.

Tidak semua orang terlahir dengan penglihatan yang sama. Ada yang mengalami kebutaan sejak lahir, ada pula yang kehilangan kemampuan melihat setelah menjalani sebagian perjalanan hidup. Mereka tidak memilih keadaan tersebut. Namun, keterbatasan penglihatan tidak menghapus rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, atau hak untuk memperoleh pendidikan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Angka itu mengingatkan bahwa akses terhadap informasi dan sarana bantu bukan persoalan kecil. Buku yang mudah dijangkau pembaca awas belum tentu dapat digunakan oleh pembaca dengan disabilitas netra.

Di Indonesia, Kementerian Agama menyusun Iqro’na, panduan praktis membaca Al-Qur’an Braille yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas sensorik netra Muslim. Penyusunannya melibatkan ahli, praktisi, serta komunitas tunanetra dari sejumlah daerah. Materinya disusun bertahap, mulai dari pengenalan huruf hingga kaidah bacaan Al-Qur’an.

Mushaf Braille memungkinkan pembaca mengenali huruf hijaiyah dan tanda baca melalui ujung jari. Titik-titik timbul itu membentuk sistem tulisan yang dapat dipelajari, dibaca, dan dilatih. Jari menjadi jalur pengenalan huruf; pendengaran dapat membantu pembelajaran; ingatan dan pemahaman bekerja bersama dalam proses membaca.

Kajian Ahmad Jaeri yang diterbitkan dalam jurnal Ṣuḥuf mengenai penerapan Braille pada Mushaf Standar Braille Indonesia juga membahas penyesuaian sistem tulisan tersebut untuk kebutuhan membaca Al-Qur’an. Upaya itu menunjukkan bahwa akses keagamaan memerlukan perangkat yang sesuai dengan kebutuhannya.

pengetahuan bertemu dengan sisi kemanusiaan yang lebih luas. Tuhan memiliki kuasa atas ciptaan-Nya. Manusia hadir dengan keadaan fisik, kemampuan, dan pengalaman yang beragam. Ada orang yang membaca melalui mata, ada yang melalui ujung jari, ada pula yang mengandalkan pendengaran. Perbedaan jalur itu tidak menjadikan martabat seseorang lebih rendah atau lebih tinggi.

Manusia diberi akal untuk belajar, hati untuk merasakan, dan kemampuan untuk mengembangkan diri. Kesempurnaan penciptaan tidak layak diukur hanya dari kelengkapan fungsi tubuh. Seseorang mungkin memiliki keterbatasan pada satu kemampuan, tetapi mengembangkan kecakapan lain melalui latihan, pendidikan, lingkungan yang mendukung, dan ketekunan.

Karena itu, aksesibilitas menjadi bagian penting dari budaya literasi. Buku Braille, buku audio, teks digital yang kompatibel dengan pembaca layar, perpustakaan inklusif, serta pendampingan yang tepat dapat membuka jalan menuju pengetahuan. Teknologi bantu bukan kemurahan hati yang diberikan sesekali, melainkan sarana agar setiap orang dapat belajar dan mengambil keputusan secara mandiri.

Membaca juga tidak harus dimulai dari buku tebal atau bacaan akademik. Seseorang dapat memulainya melalui cerita pendek, artikel pengetahuan, biografi, karya sastra, buku sejarah, atau bacaan keagamaan. Hal terpenting bukan ketebalan halaman, melainkan kesediaan mengikuti gagasan sampai memperoleh pemahaman.

Akan lebih bermanfaat apabila kegiatan membaca disertai kebiasaan mencatat istilah baru, memeriksa informasi, membandingkan pendapat, dan menghubungkan bacaan dengan kenyataan. Dengan cara itu, pembaca tidak hanya mengumpulkan kalimat. Ia belajar memilah fakta, mengenali asumsi, menguji argumen, dan menyusun pendapat dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ada pula manfaat yang tumbuh dari kebiasaan membaca bersama. Percakapan tentang sebuah buku dapat mempertemukan pengalaman yang berbeda. Anak belajar mengungkapkan pikiran, orang dewasa memperoleh bahan untuk meninjau kembali pengetahuannya, sementara keluarga memiliki ruang untuk berbagi cerita. Perpustakaan dan komunitas baca dapat menjadi tempat bertemunya orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Piknik pikiran tidak selalu berlangsung di tempat yang jauh. Ia dapat dimulai dari kursi rumah, bangku taman, ruang perpustakaan, atau sudut sederhana di dekat jendela. Seseorang dapat berangkat dari satu halaman, lalu tiba pada pengetahuan tentang tubuh manusia, sejarah bangsa, perubahan iklim, kecerdasan buatan, kebudayaan, atau kehidupan masyarakat di belahan dunia lain.

Dari satu buku, pembaca dapat menemukan pertanyaan. Dari pertanyaan, ia mencari penelitian. Dari penelitian, ia memperoleh sudut pandang baru. Pengetahuan itu kemudian diuji melalui pengalaman dan percakapan. Rangkaian tersebut membuat kegiatan membaca terus bergerak, tidak berhenti sebagai hobi yang hanya mengisi waktu senggang.

Ada orang yang memiliki penglihatan, tetapi jarang membuka bacaan. Ada yang tidak dapat melihat tulisan cetak, tetapi tekun mempelajari Al-Qur’an melalui Braille. Ada yang mempunyai banyak buku, tetapi belum tentu mengolah isinya. Ada pula yang hanya memiliki akses terbatas, tetapi tetap berusaha memperluas pengetahuan melalui suara dan teknologi.

Keadaan itu memberi cermin tentang cara manusia menggunakan kemampuan yang dimilikinya. Keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup kesempatan belajar. Sebaliknya, kelebihan juga tidak patut menjadi alasan untuk berhenti mengembangkan diri. Setiap orang memiliki ruang untuk bertumbuh, selama akses, kemauan, dan kesempatan memperoleh dukungan yang layak.

Maka, akhir pekan dapat menjadi waktu yang baik untuk menanam kebiasaan kecil: membaca beberapa halaman, menyimak buku audio, mempelajari istilah baru, atau mendiskusikan satu gagasan bersama keluarga. Kebiasaan sederhana itu dapat berkembang menjadi kecakapan memahami informasi, berbahasa, mengambil keputusan, dan menghargai pengalaman orang lain.

Panen pengetahuan tidak ditentukan oleh berapa banyak buku yang tersusun di rak. Ukurannya tampak pada cara seseorang memahami persoalan, menggunakan bahasa, memperlakukan sesama, serta mengambil keputusan setelah memperoleh informasi. Ada yang membaca dengan mata, ada yang meraba dengan jari, dan ada yang menyimak melalui suara. Jalurnya beragam, tetapi kesempatan untuk belajar semestinya terbuka bagi semua.

Satu halaman dapat menjadi awal perjalanan. Satu istilah dapat membuka pemahaman. Satu cerita dapat memperluas empati. Dan satu kebiasaan membaca, apabila dirawat, dapat mengubah cara seseorang melihat dunia, dan bahkan bagi mereka yang tidak melihat dunia melalui biji mata.

Manakala berbicara mengenai literasi, acap kali angka terlihat berkilau di atas tabel,  membentuk estetika yang sedemikian rumit untuk dinalar secara sekilas. Sebab, satu nilai naik, nilai lain turun, lalu sebuah daerah mendapat predikat tertentu. Apa pernah ada pertanyaan, di balik angka survei, apa sebenarnya yang sedang diukur, siapa yang menjadi responden, dan kondisi apa yang hendak digambarkan?

Indonesia memiliki sejumlah indikator yang berkaitan dengan literasi. Perpustakaan Nasional mengukur Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), sedangkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) menggambarkan kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi melalui berbagai media.

Kedua indikator itu tidak mengukur hal yang sama. IPLM menggambarkan upaya pemerintah daerah dalam membina dan mengembangkan perpustakaan sebagai sarana belajar sepanjang hayat. TGM mengukur perilaku membaca masyarakat melalui survei.

Perpusnas melaporkan TGM nasional 2024 mencapai 72,44. Survei tersebut melibatkan 174.226 responden berusia 10–69 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Angka itu memberikan gambaran mengenai kegemaran membaca berdasarkan instrumen survei yang digunakan.

Lalu kemudian Programme for International Student Assessment (PISA) dari OECD mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Dalam hasil PISA 2022, sebanyak 25 persen siswa Indonesia mencapai setidaknya Level 2 dalam kemampuan membaca. Angka tersebut bersinggungan dengan proporsi peserta yang memenuhi tingkat kecakapan dasar menurut kerangka asesmen PISA.

TGM dan PISA tidak dapat dipertukarkan. TGM berhubungan dengan kebiasaan masyarakat memperoleh informasi, sedangkan PISA menguji kemampuan siswa memahami, menggunakan, dan merefleksikan bacaan dalam situasi tertentu. IPLM pun memiliki fokus berbeda karena menilai pembangunan ekosistem perpustakaan.

Perubahan metodologi juga perlu mendapat perhatian. Perpusnas menetapkan pembaruan formulasi pengukuran IPLM dan TGM pada 2025. Karena itu, pembaca perlu memeriksa pedoman dan tahun pengukuran sebelum membandingkan hasil antar tahun.

Indeks literasi akan lebih [bermakna] apabila masyarakat membaca angka bersama definisi, metode, cakupan responden, dan konteks kebijakannya. Tanpa ketelitian tersebut, angka mudah berubah menjadi slogan, sementara persoalan yang hendak diukur justru luput dari perhatian.

Penulis:Supriadi Buraerah, Sekolah Menulis Elipsis.

Untuk mendapatkan informasi dan berita terbaru, ikuti kanal media sosial InsertRakyat.com melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, dan TikTok. Tetap terhubung dengan informasi, perluas wawasan, dan ikuti perkembangan berbagai peristiwa bersama kami.

Temukan kami di:

WhatsApp Channel | Facebook | Instagram | TikTok

BERITA TERKINI EDITORIAL