JAKARTA, InsertRakyat.com — Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT) Ahmad Riza Patria mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan memperkuat kesiapsiagaan bencana (Aman) di desa dengan mempelajari praktik yang diterapkan Jepang.
Ajakan itu disampaikan Ahmad Riza Patria saat menghadiri kegiatan Kolaborasi dan Dukungan ICMI DKI Jakarta untuk Jakarta dan Indonesia bertema “Masyarakat Siap Belajar dari Jepang untuk Kesiapsiagaan Indonesia” di Operational Room Kemendes PDT, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan ORDA ICMI Jakarta Selatan bekerja sama dengan Jepang. Riza menilai kesiapsiagaan menjadi kebutuhan bagi Indonesia yang memiliki tingkat risiko bencana tinggi.
Menurut Riza, bencana tidak selalu dapat dicegah. Namun, dampak yang ditimbulkan dapat ditekan melalui pengetahuan dan kesiapan masyarakat.
“Pengalaman Jepang menunjukkan ketangguhan sebuah negara, bukan hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh karakter masyarakat yang disiplin, terlatih, dan saling peduli,” kata Wamendes Ariza.
Riza menyebut Indonesia memiliki lebih dari 75 ribu desa dengan karakteristik dan risiko yang berbeda. Desa pesisir, misalnya, menghadapi ancaman tsunami dan gelombang pasang, sedangkan desa di lereng gunung menghadapi risiko erupsi dan longsor.
Risiko lain terdapat pada desa yang berada di sepanjang aliran sungai karena menghadapi banjir dan tanah longsor saat musim hujan. Sementara desa di kawasan hutan dan lahan gambut rentan terhadap kebakaran, sedangkan wilayah kering menghadapi kekeringan dan krisis air bersih.
“Tidak sedikit desa yang berada di kawasan patahan aktif dan bisa saja guncang gempa bumi tanpa peringatan,” kata Riza.
Karena itu, pembangunan desa menurut Riza perlu mencakup kesiapan masyarakat menghadapi bencana. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan irigasi perlu berjalan bersama penguatan pengetahuan, kesiapsiagaan serta gotong royong masyarakat.

Kemendes PDT, kata Riza, terus mendorong pembangunan desa yang tangguh melalui penguatan kapasitas masyarakat, peningkatan kualitas tata kelola, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.
“Kami meyakini kesiapsiagaanan bencana harus menjadi bagian dari pembangunan desa. Tidak ada lembaga yang mampu untuk bekerja sendiri, pemerintah memerlukan akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, komunitas, dan masyarakat,” kata Wamendes Ariza.
Riza juga mengajak berbagai elemen masyarakat menjadi bagian dari Sahabat Desa. Menurut dia, dukungan kepada desa diperlukan saat desa menghadapi tantangan, termasuk risiko bencana.
“Saya mengajak Keluarga Besar ICMI, para akademisi, para profesional, Para Filantrofi, media, komunitas, serta seluruh elemen masyarakat untuk menjadi bagian dari Sahabat Desa. Mari kita jadikan desa sebagai ruang pengabdian, ruang inovasi, ruang kolaborasi,” kata Riza.
Ia menegaskan, belajar dari Jepang bukan berarti menyalin seluruh praktik yang diterapkan negara tersebut. Praktik yang dinilai sesuai perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan Indonesia.
Selain dialog publik, kegiatan tersebut diisi bakti sosial berupa pengobatan gratis THT yang diikuti 300 peserta. Kegiatan itu dilaksanakan Badan Otonomi Perempuan ICMI DKI Jakarta bersama ICMI Orwil DKI Jakarta.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Orwil DKI Jakarta yang dijadwalkan berlangsung pada 26–27 September 2026.
.
Reporter : Syamsul Bahri
Editor : Tim Redaksi














































