Cerpen S. Prasetyo Utomo

USAI minum matcha[1] di minshuku[2], Ryota melangkah lambat-lambat mengelilingi Danau Saiko. Tenang dan senyap genangan air danau memantulkan bunga sakura bermekaran di antara bayang-bayang Gunung Fuji. Di sisi Ryota, berjalan Akihiro, lelaki tua pemilik toko barang antik di kawasan Nakamise-dori, Kuil Asakusa. Mereka memandangi angsa-angsa berenangan di atas air. Wajah Ryota diliputi kebimbangan, sehari menjelang memasuki Hutan Aokigahara, mencari pedang wakizashi[3] yang digunakan bunuh diri seseorang. Ia tak yakin akan menemukan pedang pendek itu. Lagi pula, apakah sebuah pedang yang digunakan untuk bunuh diri, tidak berpengaruh buruk pada jiwa seseorang?

Meninggalkan apartemen di Tokyo, Ryota melakukan perjalanan kereta api ke kaki Gunung Fuji, Prefektur Yamanashi, lalu menginap di minshuku tepi Danau Saiko. Ia berangkat bersama Akihiro, berhasrat mencari pedang pendek wakizashi di Hutan Aokigahara. Ia pernah memasuki hutan pekat itu untuk mencari Harumi, kekasihnya, yang berniat bunuh diri setelah mengalami kekerasan dari kakak kandung, seorang yakuza.

Dalam pekat hutan, Ryota melihat samar pedang wakizashi tergeletak di sisi kerangka manusia. Saat itu ia bimbang, tetapi dalam kebimbangannya ia teringat sosok Harumi yang mesti diselamatkannya. Ia meninggalkan pedang pendek itu, dan terus mencari Harumi hingga bertemu gadis itu. Ia bujuk Harumi untuk mengurungkan niat menggantung diri, dan kembali pulang bersamanya. Ia tuntun tubuh gadis lemah yang mabuk sake, tak lagi memiliki gairah agar terbebas dari bisikan roh-roh jahat yang membujuknya untuk bunuh diri.

Ryota dikenal sebagai aktor annagata[4] dalam setiap pementasan kabuki. Ia menyelamatkan Harumi, seorang penulis naskah Teater Kabukiza. Harumi selalu mencipta lakon dengan trik adegan menegangkan, karena ia mengagumi Tsuruya Namboku[5]. Akan tetapi, belakangan pengaruh Takizawa, sang sutradara, sangat kuat dalam kehidupan Harumi. Lambat laun Takizawa memikat hati Harumi. Ryota tersingkir dari sisi gadis penulis naskah kabuki itu. Ia berupaya memiliki pedang katana dan wakizashi zaman shogun untuk memenuhi tantangan Takizawa: menyelesaikan pertarungan dengan pedang. Ia baru memiliki pedang katana zaman shogun Tokugawa Ieyasu yang dibeli dari Akihiro, dan merasa perlu memiliki pedang wakizashi sebagai pelengkapnya.

Ryota mengajak Akihiro untuk melacak pedang pendek wakizashi ke Hutan Aokigahara. Ia tahu lelaki tua Akihiro tak bakal menolak ajakannya. Akihiro memiliki toko barang antik di Nakamise-dori, kawasan perbelanjaan yang berderet memanjang di depan Kuil Asakusa. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi turis. Ia mengoleksi pedang katana dan wakizashi zaman shogun.

“Besok kita lacak pedang pendek di dalam hutan,” kata Ryota. “Siapa tahu pedang itu dibuat pada zaman shogun.”

Dari Danau Saiko ke arah selatan terbentang Hutan Aokigahara, tempat orang-orang menyusup masuk ke dalam rimbunan pohon ratusan tahun dan tak kembali lagi.

“Saya memerlukan pedang wakizashi untuk dipasangkan dengan pedang katana!” kata Ryota, meminta persetujuan Akihiro yang tampak tenang.

*

MENINGGALKAN Danau Saiko saat pagi masih berkabut tipis, Ryota diiringi Akihiro melangkah ke selatan. Mereka memasuki Hutan Aokigahara. Ryota berharap bisa menemukan pedang wakizashi. Ia merasa perlu mengajak Akihoro karena lelaki tua itu memiliki keahlian mengenali asal-usul pedang samurai. Lagi pula, Ryota mengenal lelaki tua keturunan ronin[6] yang mengoleksi pedang-pedang samurai zaman shogun itu.

Dengan langkah beriringan, Ryota dan Akihiro memasuki hutan Aokigahara.

“Bagaimana kalau kita berpencar?” pinta Akihiro. Ia ingin melakukan perjalanan dalam hutan seorang diri. Ia menguji keberuntungan Ryota memasuki Hutan Aokigahara yang pekat dan angker, dengan roh-roh yurei[7] pucat berambut panjang terurai bergentayangan.

Ryota tak dapat memastikan apakah pedang wakizashi masih tergeletak di tempatnya dalam hutan sebagaimana dilihatnya beberapa waktu silam. Masih pagi saat lelaki muda itu memasuki hutan pekat. Ia melangkah bimbang. Apakah pedang pendek itu akan ditemukannya di kesunyian hutan? Hutan ini gelap, lembap, dan menyesatkan siapa pun yang memasukinya. Ia melangkah sambil memasang selotip yang ditempel di batang-batang pepohonan. Selotip itu menjadi tanda yang menuntunnya keluar dari rimbun pepohonan ratusan tahun.

Di mana letak pedang pendek itu? Ryota tak bisa menduga. Ia mesti mengikuti jalan setapak gelap licin di tengah hutan, menuruni jurang yang dinaungi pohon-pohon besar. Ia menyelinap di antara batang-batang pepohonan paling rapat. Tak diketahuinya arah matahari. Roh gentayangan yurei, perempuan pucat dengan baju putih, samar-samar menampakkan sosoknya.

Gerimis tipis di atas permukaan hutan saat Ryota mengikuti sosok yurei yang berlari ke tengah hutan. Ia menyusup di antara pohon-pohon liar. Mengapa perempuan pucat berbaju putih itu menghilang ke tengah hutan? Ia mendengar percakapan roh-roh bergentayangan di antara pohon-pohon tua yang rapat, gelap, dan lembap. Ia tak menemukan arah untuk keluar dari hutan.

Ryota merasa dijebak sosok yurei yang memancingnya memasuki kegelapan hutan wingit. “Kau mau menakutiku? Aku, seorang keturunan ronin, tak pernah takut roh gentayangan!”

Langkah Ryota terhenti di bawah pohon tepi jurang. Ia menajamkan pandangan. Terlihat kerangka manusia yang tergeletak di lereng jurang curam. Sebilah pedang pendek tergeletak di sisi kerangka manusia itu. Ryota merasa takjub pada pedang pendek yang mungkin saja digunakan seseorang untuk bunuh diri. Masih tampak pamor pedang zaman shogun meski tergeletak di atas rerumputan.

“Kutemukan pedang pendek yang kucari. Semoga pedang ini berasal dari masa shogun,” bisik Ryota pada dirinya sendiri.

Tenang dan hati-hati, Ryota menuruni lereng terjal. Tangannya terjulur mengambil pedang pendek, tetapi ia tergelincir. Ia terguling-guling lalu terlempar ke dasar jurang. Ia tak sanggup mengendalikan diri dan jatuh di antara kerangka manusia, ransel lusuh, botol-botol sake kosong, dan kaos kaki usang. Ia lihat babi hutan liar beriringan, tikus kecil yang menyendiri, dan beruang hitam yang mengancam.

Lelaki muda itu bangkit perlahan. Hari hampir gelap. Tubuhnya terasa remuk setelah terempas di tanah batuan gunung. Ia meninggalkan dasar jurang dengan pedang pendek di tangan kanannya. Setelah itu dicarinya arah berlawanan saat memasuki hutan dan melangkah mengikuti tanda selotip plastik yang ditempel berjajar di batang-batang pepohonan–sebuah rangkaian tanda untuk menemukan kembali jalan keluar dari hutan pekat.

Saat Ryota terbebas dari Hutan Aokigahara yang pekat, terlihat lelaki tua Akihiro menyambutnya dengan senyum riang. Lelaki tua itu seperti membiarkan Ryota mencari dan menemukan sendiri pedang wakizashi. Ryota menduga, lelaki tua Akihiro sengaja membiarkannya menjelajahi hutan.

“Sungguh pedang pendek ini menakjubkan,” kata Akihiro, saat mengamati pedang wakizashi di tangan kanan Ryota. Ia melihat pedang pendek itu merupakan pasangan pedang katana yang dibeli Ryota darinya. “Ini pedang zaman shogun Tokugawa Ieyasu yang terawat, sebelum digunakan untuk bunuh diri. Kau beruntung memiliki pedang ini.”

*

USAI minum matcha di minshuku, Ryota melangkah lambat-lambat mengelilingi Danau Saiko. Genangan air memantulkan bunga sakura bermekaran dan bayang-bayang Gunung Fuji tanpa kabut. Ryota melangkah di sisi Akihiro, memandangi angsa-angsa berenangan di atas air tenang.

Wajah Akihiro menyuarakan teka-teki dalam hati, “Kau sudah mendapatkan sepasang pedang yang kauinginkan. Kenapa tak mau pulang ke Tokyo? Apa yang akan kaulakukan di tempat ini?”

“Mempersiapkan diri untuk menerima tantangan Takizawa bertarung pedang!”

“Kau tampak begitu dendam padanya.”

“Dia merebut kekasihku. Dia menantangku bertarung pedang sampai mati,” kata Ryota, menahan geram. “Aku keturunan ronin, pantang menyerah pada tantangan bertarung pedang.”

“Akan kuajarkan padamu seni bermain pedang kenjutsu[8]! Kau akan jadi pemain pedang yang tangguh,” kata Akihiro, tenang, penuh sugesti. “Aku keturunan ronin sepertimu. Tak ingin melihat kau tertindas.”

Di tepi danau itu Ryota berlatih kenjutsu dengan pedang kayu. Akihiro mengajarkan semua jurus kenjutsu padanya. Ryota sangat berbakat bermain pedang kayu di bawah pohon sakura. Ia menguasai semua jurus kenjutsu yang diajarkan Akihiro.

Dalam hatinya, Akihiro menyembunyikan rahasia mengenai pedang katana dan wakizashi yang dimiliki Ryota. Ia tak pernah bercerita bila pedang katana yang dibeli Ryota darinya diperoleh dari Takizawa. Pedang pendek yang ditemukan Ryota juga milik ayah Takizawa yang mati bunuh diri di dalam hutan Aokigahara. Takizawa menceritakan kisah tragis ayahnya pada Akihiro, saat menjual pedang katana warisan keluarganya ke toko barang antik di Nakamise-dori.

Genangan air danau memantulkan bayangan tubuh Ryota berlatih jurus kenjutsu dengan pedang kayu. Suatu saat Ryota akan menggunakan pedang katana dan wakizashi warisan leluhur Takizawa untuk menebas leher sutradara kabuki itu.

Sun Plaza Hotel Fuji, Juli 2025
Pandana Merdeka, Juli 2026

Catatan:
[1] matcha: teh hijau
[2] minshuku: penginapan berharga murah
[3] wakizashi: pedang tradisional Jepang, 30 hingga 60 sentimeter
[4] annagata: aktor pemeran perempuan dalam pementasan kabuki
[5] Tsuruya Namboku: penulis naskah kabuki dengan kisah-kisah hantu dan trik panggung yang menegangkan
[6] ronin: samurai yang tak memiliki tuan atau majikan
[7] yurei: hantu atau roh orang mati, berambut panjang, kulit pucat, dan mengenakan pakaian putih
[8] kenjutsu: seni bermain pedang samurai

Penulis: S. Prasetyo Utomo
Editor: Anita Aisyah