Oleh Muhammad Subhan

RUMAH sakit semestinya menjadi tempat paling aman bagi seseorang ketika tubuhnya sedang sakit. Orang datang ke sana dengan harapan memperoleh pertolongan, bukan hanya melalui obat-obatan, alat medis, atau tindakan operasi, tapi juga melalui kata-kata yang menenangkan, sikap menghargai, dan pelayanan yang memanusiakan.

Di ruang-ruang perawatan itulah empati seharusnya tumbuh paling subur.

Namun, belakangan ini kita seperti sedang menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan: mengeringnya empati di ruang-ruang pelayanan kesehatan. Ini bukan berarti semua tenaga kesehatan kehilangan kepedulian. Justru sebagian besar dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya masih bekerja dengan dedikasi luar biasa. Mereka bahkan mengorbankan waktu, tenaga, dan kehidupan pribadinya demi menyelamatkan pasien. Mereka tentu sangat layak dihormati.

Sayangnya, perilaku segelintir oknum telah meninggalkan luka yang dalam di tengah masyarakat.

Kasus yang ramai diperbincangkan di media sosial sepekan terakhir menjadi preseden yang menyedihkan. Seorang pasien mengeluhkan lamanya waktu tunggu ruang rawat inap yang mencapai berjam-jam. Keluhan itu kemudian ditanggapi oleh sejumlah akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan dengan komentar bernada sinis, merendahkan, bahkan mengandung candaan mengenai ruang jenazah hingga anjuran yang mengarah pada tindakan menyakiti diri sendiri. Tidak lama kemudian, keluarga mengabarkan bahwa pasien tersebut telah meninggal dunia.

Peristiwa itu bukan sekadar soal benar atau salah dalam prosedur pelayanan rumah sakit. Bukan pula semata persoalan penuh atau tidaknya ruang rawat inap. Yang jauh lebih menyayat hati adalah hilangnya rasa kemanusiaan dalam merespons penderitaan seseorang.

Baca Juga :  Membaca Tulisan Panjang di Era Video Pendek

Empati adalah kemampuan merasakan apa yang sedang dialami orang lain. Dalam profesi kesehatan, empati bukanlah sekadar pelengkap, melainkan inti dari pelayanan. Pengetahuan medis memang dapat menyembuhkan fisik, namun empati membantu menyembuhkan ketakutan, kecemasan, dan rasa putus asa yang dialami pasien beserta keluarganya.

Seseorang yang datang ke rumah sakit sesungguhnya sedang berada pada titik paling rentan dalam hidupnya. Ia mungkin sedang menahan rasa sakit, dihantui kemungkinan terburuk, memikirkan biaya pengobatan, atau cemas terhadap masa depan keluarganya. Dalam keadaan seperti itu, satu kalimat kasar dapat terasa lebih menyakitkan daripada suntikan jarum. Sebaliknya, satu ucapan yang penuh empati sering kali mampu memberikan kekuatan yang luar biasa.

Sayangnya, perkembangan media sosial juga memperlihatkan sisi lain yang memprihatinkan. Sebagian orang merasa lebih mudah melontarkan komentar tidak pantas karena berada di balik layar. Padahal, identitas sebagai tenaga kesehatan melekat bukan hanya ketika mengenakan seragam atau bertugas di rumah sakit, melainkan juga saat berinteraksi di ruang digital. Etika profesi tidak pernah berhenti di pintu ruang praktik.

Komentar yang merendahkan pasien, terlebih berkaitan dengan status ekonomi atau kepesertaan BPJS Kesehatan, sama sekali tidak dapat dibenarkan. BPJS bukanlah fasilitas belas kasihan, melainkan hak warga negara yang dijamin melalui sistem jaminan kesehatan nasional. Pasien BPJS maupun pasien umum memiliki martabat yang setara. Di hadapan pelayanan kesehatan, tidak boleh ada kelas-kelas kemanusiaan.

Meski demikian, persoalan ini sesungguhnya tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu tenaga kesehatan. Kita juga harus jujur melihat persoalan yang lebih besar: banyak rumah sakit menghadapi keterbatasan tempat tidur, kekurangan tenaga medis, beban kerja yang berlebihan, antrean panjang, hingga tekanan administratif yang melelahkan. Kondisi-kondisi inilah yang memicu kelelahan emosional (burnout).

Baca Juga :  Menjaga Napas Literasi dari Rumah dan Sekolah

Namun, kelelahan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk mengikis empati. Justru di situlah pentingnya menghadirkan sistem yang sehat. Rumah sakit perlu membangun budaya pelayanan yang menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama. Pelatihan komunikasi empatik tidak boleh berhenti saat seseorang lulus dari bangku kuliah. Nilai tersebut harus terus dipelihara melalui pendidikan berkelanjutan, evaluasi berkala, serta keteladanan nyata dari pimpinan rumah sakit.

Lebih dari itu, rumah sakit harus memiliki mekanisme yang jelas dan transparan dalam menangani keluhan masyarakat. Keluhan pasien tidak semestinya dipandang sebagai ancaman atau serangan terhadap institusi, melainkan cermin yang memperlihatkan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Institusi yang besar bukanlah yang tidak pernah dikritik, tapi yang mampu belajar dan berbenah dari kritik.

Pemerintah pun tidak boleh memandang kasus-kasus seperti ini sebagai insiden yang berdiri sendiri. Pelayanan kesehatan adalah bagian dari pelayanan publik yang menyangkut keselamatan dan martabat manusia. Oleh karena itu, pengawasan terhadap mutu layanan, etika profesi, serta budaya pelayanan harus menjadi perhatian serius. Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, organisasi profesi, dan manajemen rumah sakit perlu memastikan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya diukur dari kecanggihan alat medis atau jumlah dokter spesialis, tapi juga dari kualitas hubungan antarmanusia di dalamnya.

Baca Juga :  Sarjana, Daya Juang, dan Adaptasi di Era Ketidakpastian

Masyarakat tentu juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika ketika menyampaikan kritik. Kritik yang disampaikan dengan santun akan lebih mudah diterima. Akan tetapi, apa pun bentuk keluhan masyarakat, respons yang diberikan oleh tenaga kesehatan tetap harus mencerminkan profesionalisme. Empati tidak boleh bergantung pada suasana hati, tekanan pekerjaan, ataupun status sosial pasien yang sedang dilayani.

Ukuran kemajuan pelayanan kesehatan bukan dilihat seberapa megah bangunan rumah sakit atau seberapa canggih peralatan medis yang dimiliki. Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap pasien merasa dihargai sebagai manusia.

Rumah sakit memang dibangun untuk mengobati penyakit. Namun, rumah sakit yang benar-benar menghadirkan harapan adalah rumah sakit yang juga mampu merawat martabat manusia. Sebab, ketika empati hilang dari ruang perawatan, yang tersisa hanyalah bangunan megah berteknologi canggih yang telah kehilangan ruh paling mendasar dari profesi kemanusiaan, yaitu melayani dengan hati.

Kasus yang menyita perhatian publik belakangan ini semestinya menjadi alarm bersama. Bukan untuk saling menuding, melainkan untuk berbenah. Siapa pun dari kita, dan waktu pula yang menjadi saksi, suatu hari nanti bisa berada di ranjang rumah sakit—menunggu pertolongan dan berharap disambut bukan hanya oleh tenaga medis yang kompeten, melainkan juga oleh sesama manusia yang masih memiliki empati. []

Muhammad Subhan, jurnalis InsertRakyat.com, penulis, dan founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah