Oleh Depri Ajopan

TIGA bulan setelah berhenti mengajar dari sekolah, aku belum juga dapat kerja tetap, terpaksa bekerja serabutan. Selama itu pula, aku belum bisa melupakan kenangan buram di sekolah, tentang seorang siswa yang memilih mati bunuh diri. Pelan-pelan aku harus bisa melupakan semua, termasuk Pretty dan ucapannya tentang cinta yang tercurah untukku. Pesannya lewat WA yang datang beruntun jarang kubalas, akhirnya ia jenuh sendiri dan memilih menjauh. Aku fokus cari kerja dulu. Kalau disusun semua lamaran yang pernah kukirimkan mungkin sudah menyentuh langit ketujuh, tapi semua ditolak. Aku nyaris putus asa dan memakai ilmu bodoh, pasrah menunggu keajaiban Tuhan. Sudah sering ibuku mengirim duit dari kampung, aku yang tidak meminta terpaksa menerima karena terjepit. Aku tahu itu duit simpanannya yang kuberikan dulu. Uang royaltiku sebagai penulis kecil dipenerbit indi tidak pernah lagi turun, dan tentu kalaupun cair dengan jumlah yang sedikit.

Aku benar-benar menderita di rantau ini. Sebenarnya aku sudah disuruh pulang. Di kampung aku bisa bertani dengan damai. Bukannya aku gengsi, dan tidak cinta pada pekerjaan seperti itu. Tapi aku rasa itu bukan profesiku. Aku lebih tertarik pada pekerjaan yang menguras otak walaupun keringat tidak sampai bercucuran, daripada menguras tenaga menggunakan fisik. Menurutku bekerja menguras otak lebih menantang daripada menguras otot yang membuat sekujur badan basah karena keringat dan akhirnya lesu.

“Kamu mau kerja di Mesuji?” Seorang teman lama menawarkan pekerjaan baru lewat telpon.

“Mesuji itu di mana?”

“Lampung Timur,” baru aku ingat, menurut cerita orang-orang, Mesuji daerah mengerikan.

Berapa banyak berita sadis yang sudah dimasukkan ke media oleh wartawan. Yang diliput kalau tidak berita pembunuhan, pasti berita perampokan. Baru-baru ini terjadi sengketa mengenai tanah ulayat. Kejadian seperti ini juga setahun yang lalu terjadi di kampungku, membuat gaduh suasana. Gara-gara persengketaan tanah ulayat, mereka turun ke jalan bersorak-sorak angkuh seolah seperti pahlawan, padahal menurutku mereka itu bajingan. Mereka menghantam saudara sendiri, mendendam, bahkan ada yang sampai membakar rumah seseorang. Tak bisa lepas dari bayanganku kejadian bobrok itu.

“Waw, Mesuji daerah yang mengerikan, kawan.”

“Ya, mengerikan buat orang yang suka memamerkan kesombongan,” jawabnya sok tahu.

“Emang kamu pernah ke sana?”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Dulu, waktu ke Jakarta.”

“Berapa bulan kamu di sana?”

“Cuma nompang lewat aja,” ia mencoba bergurau, dan aku yang bimbang tidak merasa lucu.

Aku terus berpikir, dan merenung beberapa saat. Padahal, seandainya aku mengiyakan pekerjaan itu pun belum pasti ada katanya. Untuk memastikan ada atau tidak pekerjaan itu, ia bilang ditanya dulu kawannya Mas Dani yang dari Temanggung, yang pernah jadi tukang sablon yang membenci pekerjaannya. Sekarang ia sebagai marketing Alquran Alwasim di sana. Pekerjannya keliling dari kampung ke kampung mencari ibu-ibu yasinan. Di situlah ia berlemah lembut menjual alquran. Aku yang sudah mondar mandir cari pekerjaan, tapi masih pengangguran siap berangkat. Bayangkan kawan begitu sulit mencari pekerjaan di negeri ini, semakin hari semakin tinggi angka pengangguran. Aku merenung sejenak.

“Kalau memang cocok, biar aku tanya temanku nanti apa ia masih butuh anggota.” Aku tepis keragu-raguan dari hatiku. Aku tidak perlu lagi mempelajari baik-baik tawaran ini.

“Tanya aja deh,” aku bulatkan niatku.

“Serius.”

“Yoi.”

*

TIGA hari kemudian aku dikirim ongkos oleh Mas Dani RP500.000. Aku tidak kenal wajah orang yang mengajakku bekerja sama. Aku ingin melihat fotonya, memperhatikannya dengan pandangan tajam seperti seorang peramal. Membaca karakter dan sikapnya lewat wajah. Ternyata aku gagal, belum juga mengenal karakter orangnya walaupun lewat selembar foto.

Kami saling kontak lewat WA. Foto Profilnya Sunggokong memegang tongkat di dekat patung yang terbisu. Bagaimana kalau aku dengan Mas Dani nanti ternyata tidak akur. Kalau soal memutus kerja sama itu biasa. Yang jadi masalah setelah kerja sama itu lepas, aku yang tidak memegang uang cukup, harus pergi ke mana? Kocar-kacir di rantau orang jadi gelandangan bukan hal mengasikkan. Bagaimana pula kalau gajiku ditahan-tahan? Berbagai macam pikiran terkumpul dalam kepalaku yang belum terpecahkan. Apa aku harus mengalami nasib yang sama waktu pergi ke Jakarta dulu.

Selepas aku lulus dari Pesantren, dan sebelum masuk perguruan tinggi, aku mengadu nasib ke Jakrta. Waktu itu Mas Rustam butuh seorang karyawan. Ia menelponku apa bersedia membantunya. Bahasanya yang santun bukan saja berbunga tapi meneteskan keharuman yang semerbak. Ibuku menangis sedih setelah ia tahu aku mengindahkan permintaan itu. Setelah keberangkatan sudah diambang pintu. Rustam ngomong manis pada ibuku. “Bu, si Asnul datang ke Jakarta tepatnya ke rumah saya, bukan kerja. Ia datang ke rumah saudaranya yang muslim kebetulan seorang pedagang. Dia cuma membantu-bantu saja kok, tidak lebih.”

Aku naik bus ALS. Turun di Tangerang sesuai perintahnya. Aku dijemputnya dengan anaknya yang terus tertawa di sepanjang jalan mendengar cerita ayahnya. Aku yang kelelahan terpaksa melempar senyum basa-basi, kemudian tertawa kecil. “Beginilah aku dengan anakku, Asnul, seperti kawan sendiri, senada dan seirama,” ia memanggil namaku fasih, seolah ia sudah kenal dekat denganku, dan pernah tinggal bersamanya bertahun-tahun. Aku yang menahan rasa ngantuk tak menggubris igauannya, cukup menganggukkan kepala seolah mengiyakan. Tiga hari bekerja dengan orang yang berkumis tebal itu aku sudah dibentak-bentak. Sebulan kemudian. Dia tambah satu lagi anggota baru seorang penjilat dan licik dalam bermain. Begitu Mas Rustam si kumis tebal datang ia sibuk bekerja. Pas pemilik warung itu pergi, ia bersiul-siul girang tak merasa salah dengan kelakuannya yang membuatku benci. Ia berbeda dengan karyawan si kumis tebal seorang lagi, yang bekerja di grosirnya yang lain. Namanya Aswar. Aku pernah tidur tiga hari di tempat ia tinggal. Aku ceritakan keluh kesahku padanya. “Sepertinya aku tidak cocok di sini, aku harus berhenti,” keluhanku ia balas dengan raungan yang lebih membara. “Kau pikir aku nyaman kerja di sini dengan si Kampret itu,” kenapa selama ini ia terdiam, tidak berontak sepertiku walaupun lewat curhatan.

“Terus,” aku makin penasaran.

“Tidak ada terus-terus. Aku mengerti ujung pembicaraanmu, kau ingin tahu kenapa aku masih bertahan dalam kesedihan ini, tidak memilih berhenti saja.”

Dugaannya tak meleset sedikitpun. Aku yang masih merasa sungkan karena belum akarab menunggu jawaban. “Ia masih ada utang sama aku. Gak banyak, sih menurut dia, tapi menururtku itu banyak. Lagian itu hasil keringatku sendiri bekerja dengannya. Masa dia pinjam pula. Katanya untuk modal, uang itu nanti berputar. Padahal diakan sudah dapat untung sendiri. Masa aku karyawannya di porotin juga.”

“Berapa utangnya?”

“Empat juta lima ratus.”

“Waw,” napasku berhenti sejenak, mataku melotot, tenggorokanku seperti tercekik. Aneh orang itu. Ia seorang bos yang hidup dengan kejayaan meminjam uang sama karyawannya, gaji karyawannya pula yang diambil, tidak pantas, dong.

“Kenapa kau tidak memintanya?”

“Bagaimana caranya, sebelum diminta saja dia sendiri yang ngomomg duluan. Uangmu sabar dulu. Besok-besok pasti aku kasih.”

“Mengenai gajimu?

“Aman, sih, paling-paling telat empat atau lima hari.”

“Itu bukan aman.”

“Kalau saja utangnya sudah dibayar, laripun dari tempat terkutuk ini takmasalah bagiku. Jujur kukatakan, bekerja di sini membuatku sakit hati Asnul. Dulu kami berdua di sini, aku dan seorang teman. Siap lebaran di kampung, ia sengaja lari, tak menampakkan batang hidungnya beberapa hari.” Kekeruhan hati si kumis tebal itu semakin terkuak. Aku semakin nekat memilih berhenti.[]

Depri Ajopan. Lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatra Barat, 7 Desember 1989. Lulus program S1 Universitas Negeri Padang Prodi Sastra Indonesia. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional serta di media daring. Pengakuan Seorang Novelis (Hyaang Pustaka, Cirebon, 2024). Adalah novel terbarunya. Ia bergiat sebagai anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.

Penulis: Depri Ajopan
Editor: Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:

BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.