Sejumlah komunitas dan jejaring turut terlibat, antara lain Komunitas Surabaya Juang, Pecinta Alam dan Pendaki Gunung MGM, MASTRIP, serta Paguyuban Cak Ning.
Pertemuan berbagai komunitas membuka ruang bagi gagasan dan pengalaman untuk saling bersinggungan. Kebudayaan tumbuh bukan hanya melalui karya yang tampil di panggung, melainkan juga melalui hubungan antarmanusia selama proses penyelenggaraan.
Gotong royong menemukan makna saat orang menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu, dan sumber daya untuk kepentingan bersama. Masyarakat tidak cukup mengenang nilai warisan leluhur; mereka perlu menghadirkannya dalam cara menghadapi persoalan masa kini.
Dari Makam WR Soepratman, Amanat Kebangsaan Berlanjut
Korupsi, kemiskinan, kerusakan alam, dan persoalan tata kelola negara tidak akan selesai hanya melalui satu pergelaran kebudayaan. Persoalan tersebut membutuhkan kebijakan yang bertanggung jawab, penegakan hukum, pengawasan publik, serta tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Namun, bangsa juga memerlukan ruang untuk merawat kesadaran bersama. Kebijakan mengatur kehidupan, sedangkan nilai, pengetahuan, dan kebudayaan turut membentuk cara manusia memperlakukan sesama serta memandang masa depan.
Sejarah mengingatkan masyarakat pada perjalanan panjang yang telah mereka tempuh. Kebudayaan menjaga ingatan itu agar tetap dekat dengan kehidupan. Gotong royong memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menerjemahkan kepedulian menjadi kerja bersama.
Ketiganya bertemu dalam Meruwat Indonesia: ingatan tentang perjuangan, kegelisahan terhadap keadaan bangsa, dan harapan agar generasi penerus tetap peduli terhadap tanah air.
Pada 28 Oktober, makam WR Soepratman menjadi ruang perjumpaan antara warisan masa lalu dan tanggung jawab masa kini. Doa, tari, musik, puisi, dan semangat kebersamaan menyampaikan pesan melalui jalan berbeda, tetapi berangkat dari kegelisahan yang sama tentang Indonesia.
Mencintai tanah air bukan berarti menganggap segala sesuatu telah berjalan sebagaimana mestinya. Cinta yang dewasa memberi ruang bagi kejujuran untuk mengakui kekurangan, keberanian memperbaiki keadaan, dan kesediaan menjaga milik bersama.
Demikian pula sejarah. Masyarakat tidak cukup menempatkannya dalam bingkai penghormatan, membacakannya saat upacara, atau mengenangnya setiap peringatan. Mereka perlu memahami, merawat, dan meneruskan sejarah melalui tindakan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Meruwat Indonesia menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga hubungan itu. Kegiatan ini mengajak masyarakat menoleh ke belakang tanpa terperangkap dalam nostalgia, memandang masa kini dengan jernih, dan menatap masa depan tanpa melepaskan tanggung jawab.
Di makam WR Soepratman, ingatan tentang Indonesia Raya membawa masyarakat kembali pada makna sebuah warisan: sesuatu yang tidak hanya mereka terima, tetapi juga harus mereka jaga.
Perjalanan masih panjang
Indonesia bukan semata-mata kisah perjuangan yang telah selesai. Indonesia adalah perjalanan yang masih berlangsung, amanat yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan cita-cita yang menuntut kesungguhan untuk diwujudkan.
Selama masyarakat terus mempelajari sejarah, merawat kebudayaan, dan bekerja bersama, harapan untuk Indonesia yang lebih adil dan beradab akan tetap hidup.
Jurnalis: Redho Fitriyadi
Editor: Supriadi Buraerah

















































