Melalui Doa Tolak Balak, para seniman mengungkapkan kegelisahan terhadap keadaan bangsa melalui bahasa seni. Doa dan pertunjukan membuka ruang perenungan, sedangkan tradisi mendekatkan masyarakat pada akar kebudayaan yang membentuk kehidupan mereka.

Namun, meruwat Indonesia bukan berarti menyerahkan penyelesaian persoalan bangsa kepada doa semata. Penegak hukum harus menangani korupsi, pemulihan perlu menjawab kerusakan alam, dan kebijakan yang adil harus menyentuh persoalan kemiskinan. Kesadaran yang tumbuh melalui kebudayaan perlu berlanjut menjadi keberanian untuk bertindak.

Di situlah seni menemukan salah satu makna terdalamnya. Seni tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, tetapi mampu membuka mata, menyentuh perasaan, dan mengajak manusia memandang persoalan dari sudut yang lebih luas.

Meruwat Indonesia: Seni, Tradisi, dan Ingatan Generasi Muda

Panggung Meruwat Indonesia juga memberi ruang kepada generasi muda. Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu (PSBKI) akan menyajikan Tari Remo kolosal. W Sibling akan mengisi acara dengan musik oriental, sementara paduan suara SMK Muhammadiyah dan pembacaan puisi oleh Denting Kemuning melengkapi rangkaian pertunjukan.

Gerak Tari Remo membawa warisan kesenian Jawa Timur ke tengah kehidupan generasi baru. Para penari muda meneruskan tradisi sekaligus mempertemukannya dengan kreativitas masa kini, tanpa harus meniadakan nilai yang diwariskan pendahulu.

Musik dan puisi memberi ruang bagi perasaan untuk menemukan suara. Melalui seni, seniman dapat menyampaikan kegelisahan tanpa kehilangan kelembutan dan merawat harapan tanpa mengumbar janji berlebihan.

Ketua pelaksana Meruwat Indonesia, Rokimdakas, memberikan pengarahan kepada para penyaji di makam WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya.
Photo: Ketua pelaksana Meruwat Indonesia, Rokimdakas, memberikan pengarahan kepada para penyaji di makam WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya.

Ketua pelaksana Rokimdakas, yang juga anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, berharap kegiatan ini menumbuhkan ingatan kebudayaan dan kebangsaan di kalangan generasi Z.

Menurut Rokimdakas, pengalaman berinteraksi langsung dengan kebudayaan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Pidato dan seremoni formal saja tidak cukup untuk membangun kedekatan tersebut.

BERITA TERKINI EDITORIAL