Buwuh Even: Menautkan Kebudayaan dengan Gotong Royong
Meruwat Indonesia tidak hanya menyampaikan pesan melalui pertunjukan. Cara KPIR menggalang dukungan untuk kegiatan ini juga berangkat dari tradisi kebersamaan masyarakat.
Komunitas tersebut menerapkan pola penggalangan dana bernama Buwuh Even. KPIR mengadaptasi tradisi buwuh, yakni pemberian sumbangan saat seseorang menggelar hajatan. Melalui jejaring pertemanan di Facebook dan WhatsApp, KPIR membuka donasi sebesar Rp100.000 untuk mendukung produksi acara.
Rokimdakas mengatakan komunitasnya memilih menggalang dukungan melalui jejaring sosial dan semangat gotong royong, tanpa mengandalkan proposal bantuan kepada instansi pemerintah maupun korporasi.
“Kami tidak menyebar proposal untuk meminta bantuan kepada instansi pemerintah. Nawaitu KPIR adalah membuat acara rakyat: dari rakyat, oleh rakyat, untuk Indonesia,” ujarnya.
Pilihan tersebut membawa gagasan bahwa kebudayaan dapat tumbuh dari kepercayaan dan partisipasi. Sebuah kegiatan tidak selalu harus menunggu dukungan besar untuk berjalan. Terkadang, sumbangan kecil dari banyak orang mampu membuka ruang bagi sebuah gagasan untuk hadir di tengah masyarakat.
Tradisi buwuh menggambarkan kebersamaan yang hidup dalam keseharian. Orang datang membawa sumbangan sesuai kemampuan untuk membantu sebuah hajatan berlangsung, sekaligus menjaga hubungan sosial.
KPIR membawa semangat itu ke dalam penyelenggaraan kegiatan kebudayaan. Masyarakat mendapat ruang untuk ikut mengambil bagian, sedangkan komunitas dapat membangun kegiatan melalui dukungan bersama.
Rokimdakas menilai pola tersebut dapat menjadi alternatif bagi komunitas dan kreator yang menghadapi keterbatasan biaya untuk menggelar kegiatan kreatif.
Gotong Royong sebagai Jalan Merawat Kepedulian
Di sisi lain, kegiatan seni berpotensi membuka manfaat ekonomi bagi pekerja seni, pekerja kreatif, pembuat konten, pelaku kuliner, penyedia transportasi, dan usaha kecil di sekitar lokasi.

















































