SURABAYA, INSERTRAKYAT.com — Meruwat Indonesia. Ada ingatan yang tak pernah benar-benar pudar meski zaman terus berganti. Ingatan itu hidup dalam denyut kebudayaan, bersemayam dalam sejarah, lalu hadir melalui suara-suara yang mengajak manusia menengok asal-usulnya. Dari sana, sebuah bangsa belajar mengenali diri, memahami luka sejarah, dan merawat harapan yang diwariskan para pendahulu.

Segera Pada Rabu, 28 Oktober 2026, ingatan itu menemukan ruang perjumpaan di makam Pahlawan Nasional WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya. Komunitas KPIR (Kami Pecinta Indonesia Raya) menggelar Meruwat Indonesia, sebuah ikhtiar kebudayaan yang berangkat dari kegelisahan terhadap korupsi, kerusakan sumber daya alam, kemiskinan, dan persoalan tata kelola negara.

Kegiatan yang akan berlangsung pukul 16.30–21.00 WIB ini merangkai seni, tradisi, doa, dan semangat kebangsaan. Bersama Yayasan WR Soepratman dan Surabaya Digital City, KPIR mengajak masyarakat menyelami makna cinta tanah air melalui perjumpaan dengan warisan sejarah.

Pemilihan makam WR Soepratman bukan sekadar perkara tempat. Nama pencipta lagu kebangsaan itu mengingatkan masyarakat pada perjalanan panjang Indonesia, cita-cita yang pernah diperjuangkan, dan tanggung jawab yang belum selesai.

Di antara pusara dan jejak sejarah, masa lalu seakan menyapa masa kini. Bukan untuk menghakimi perjalanan zaman, melainkan untuk mengingatkan bahwa kemerdekaan membawa amanat yang harus dijaga dalam kehidupan nyata.

Mencintai Indonesia tidak cukup dengan menyebut namanya dalam upacara atau menyanyikan lagu kebangsaan saat peringatan. Kecintaan itu menemukan makna saat seseorang menjaga keadilan, merawat lingkungan, menghormati sesama, dan ikut memperbaiki kehidupan bersama.

Meruwat Indonesia membawa kegelisahan tersebut ke ruang kebudayaan. Kegiatan ini mengajak masyarakat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk zaman, mendengarkan suara hati, lalu memikirkan kembali arah perjalanan bangsa.

Meruwat Indonesia: Doa Tolak Balak dan Tradisi sebagai Ruang Perenungan

Teater Mantra akan menghadirkan pertunjukan Doa Tolak Balak sebagai salah satu sajian utama. Pertunjukan ini menampilkan Nyai Ngatinah, 69 tahun, empu seni tradisi, dengan ilustrasi Heri Jolotundo dan arahan sutradara Rokimdakas.

JEJAK SEJARAH: Heri Jolotundo, ilustrator Teater Mantra, berpose di depan patung WR Soepratman di Jalan Kenjeran, Surabaya, menjelang kegiatan Meruwat Indonesia untuk mengenang perjuangan dan merawat ingatan kebangsaan.
Photo: JEJAK SEJARAH: Heri Jolotundo, ilustrator Teater Mantra, berpose di depan patung WR Soepratman di Jalan Kenjeran, Surabaya, menjelang kegiatan Meruwat Indonesia untuk mengenang perjuangan dan merawat ingatan kebangsaan.

Tradisi Nusantara menyimpan jejak panjang tentang cara manusia memahami kehidupan, menghadapi ketidakpastian, serta menjaga hubungan dengan lingkungan dan masyarakat. Pengetahuan itu mengalir dari generasi ke generasi melalui gerak, tuturan, upacara, dan berbagai praktik kebudayaan.

Melalui Doa Tolak Balak, para seniman mengungkapkan kegelisahan terhadap keadaan bangsa melalui bahasa seni. Doa dan pertunjukan membuka ruang perenungan, sedangkan tradisi mendekatkan masyarakat pada akar kebudayaan yang membentuk kehidupan mereka.

Namun, meruwat Indonesia bukan berarti menyerahkan penyelesaian persoalan bangsa kepada doa semata. Penegak hukum harus menangani korupsi, pemulihan perlu menjawab kerusakan alam, dan kebijakan yang adil harus menyentuh persoalan kemiskinan. Kesadaran yang tumbuh melalui kebudayaan perlu berlanjut menjadi keberanian untuk bertindak.

Di situlah seni menemukan salah satu makna terdalamnya. Seni tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, tetapi mampu membuka mata, menyentuh perasaan, dan mengajak manusia memandang persoalan dari sudut yang lebih luas.

Meruwat Indonesia: Seni, Tradisi, dan Ingatan Generasi Muda

Panggung Meruwat Indonesia juga memberi ruang kepada generasi muda. Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu (PSBKI) akan menyajikan Tari Remo kolosal. W Sibling akan mengisi acara dengan musik oriental, sementara paduan suara SMK Muhammadiyah dan pembacaan puisi oleh Denting Kemuning melengkapi rangkaian pertunjukan.

Gerak Tari Remo membawa warisan kesenian Jawa Timur ke tengah kehidupan generasi baru. Para penari muda meneruskan tradisi sekaligus mempertemukannya dengan kreativitas masa kini, tanpa harus meniadakan nilai yang diwariskan pendahulu.

Musik dan puisi memberi ruang bagi perasaan untuk menemukan suara. Melalui seni, seniman dapat menyampaikan kegelisahan tanpa kehilangan kelembutan dan merawat harapan tanpa mengumbar janji berlebihan.

Ketua pelaksana Meruwat Indonesia, Rokimdakas, memberikan pengarahan kepada para penyaji di makam WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya.
Photo: Ketua pelaksana Meruwat Indonesia, Rokimdakas, memberikan pengarahan kepada para penyaji di makam WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya.

Ketua pelaksana Rokimdakas, yang juga anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, berharap kegiatan ini menumbuhkan ingatan kebudayaan dan kebangsaan di kalangan generasi Z.

Menurut Rokimdakas, pengalaman berinteraksi langsung dengan kebudayaan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Pidato dan seremoni formal saja tidak cukup untuk membangun kedekatan tersebut.

Harapan itu mengingatkan masyarakat bahwa sejarah bukan sekadar rangkaian nama dan tanggal. Generasi muda perlu mengenal sejarah melalui pengalaman agar mereka tidak hanya mengetahui peristiwa masa lalu, tetapi juga memahami nilai yang patut dijaga.

Warisan paling berharga bukan hanya benda yang tersimpan atau kisah yang tercatat. Warisan juga hidup dalam kesadaran, tumbuh melalui pembelajaran, dan berlanjut melalui tindakan generasi penerus.

Indonesia Raya Tiga Stanza: Menjaga Keutuhan Warisan Sejarah

Ada karya yang melampaui zamannya karena terus menyertai perjalanan bangsa. Indonesia Raya ciptaan WR Soepratman menempati ruang penting dalam ingatan kebangsaan Indonesia.

Melalui Meruwat Indonesia, KPIR turut memperkenalkan lagu Indonesia Raya tiga stanza kepada masyarakat. Selama ini, publik lebih akrab dengan stanza pertama, sedangkan dua stanza berikutnya belum banyak dikenal dan dinyanyikan dalam kehidupan sehari-hari.

Rokimdakas mengajak masyarakat mengenali karya tersebut secara utuh.

“Ini karya utuh WR Soepratman, tetapi yang dinyanyikan publik umumnya satu stanza. Padahal, dalam dua stanza lainnya juga tertera janji pada tanah air,” katanya.

Ia berharap pemerintah mempertimbangkan kebijakan yang dapat memperluas pengenalan dan apresiasi masyarakat terhadap Indonesia Raya tiga stanza.

Harapan itu menghadirkan pertanyaan penting: bagaimana sebuah bangsa menjaga warisan sejarah agar tidak berhenti sebagai simbol?

Generasi Alpha dari Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu (PSBKI) menyajikan Tari Remo kolosal dalam acara Meruwat Indonesia di makam WR Soepratman, Surabaya, Rabu (28/10/2026).
Photo: Generasi Alpha dari Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu (PSBKI) yang akan menyajikan Tari Remo kolosal dalam acara Meruwat Indonesia di makam WR Soepratman, Surabaya, pada Rabu (28/10/2026).

Jawabannya membutuhkan pendidikan, pengenalan berkelanjutan, dan ruang bagi masyarakat untuk memahami sejarah secara utuh. Keluarga, sekolah, komunitas budaya, serta ruang publik dapat ikut meneruskan pengetahuan tersebut.

Mengenal Indonesia Raya bukan sekadar menghafal melodi untuk mengiringi upacara. Masyarakat juga perlu memahami sejarah penciptaannya, perjalanan kebangsaan, dan pengalaman kolektif yang memberi lagu itu tempat tersendiri dalam kehidupan Indonesia.

Meruwat Indonesia:  Indonesia Raya dan Tanggung Jawab Merawat Sejarah

Mengenang WR Soepratman berarti merawat pengetahuan tentang karya dan zamannya. Masyarakat dapat memperdalam penghormatan kepada tokoh sejarah dengan memahami warisannya dan meneruskan nilai yang masih relevan bagi kehidupan hari ini.

Di makamnya, ingatan masa lalu bertemu dengan pertanyaan tentang masa depan. Generasi hari ini menerima warisan perjuangan sekaligus memikul tanggung jawab menjaga cita-cita kebangsaan agar tetap memiliki arah di tengah perubahan zaman.

Buwuh Even: Menautkan Kebudayaan dengan Gotong Royong

Meruwat Indonesia tidak hanya menyampaikan pesan melalui pertunjukan. Cara KPIR menggalang dukungan untuk kegiatan ini juga berangkat dari tradisi kebersamaan masyarakat.

Komunitas tersebut menerapkan pola penggalangan dana bernama Buwuh Even. KPIR mengadaptasi tradisi buwuh, yakni pemberian sumbangan saat seseorang menggelar hajatan. Melalui jejaring pertemanan di Facebook dan WhatsApp, KPIR membuka donasi sebesar Rp100.000 untuk mendukung produksi acara.

Rokimdakas mengatakan komunitasnya memilih menggalang dukungan melalui jejaring sosial dan semangat gotong royong, tanpa mengandalkan proposal bantuan kepada instansi pemerintah maupun korporasi.

“Kami tidak menyebar proposal untuk meminta bantuan kepada instansi pemerintah. Nawaitu KPIR adalah membuat acara rakyat: dari rakyat, oleh rakyat, untuk Indonesia,” ujarnya.

Pilihan tersebut membawa gagasan bahwa kebudayaan dapat tumbuh dari kepercayaan dan partisipasi. Sebuah kegiatan tidak selalu harus menunggu dukungan besar untuk berjalan. Terkadang, sumbangan kecil dari banyak orang mampu membuka ruang bagi sebuah gagasan untuk hadir di tengah masyarakat.

Tradisi buwuh menggambarkan kebersamaan yang hidup dalam keseharian. Orang datang membawa sumbangan sesuai kemampuan untuk membantu sebuah hajatan berlangsung, sekaligus menjaga hubungan sosial.

KPIR membawa semangat itu ke dalam penyelenggaraan kegiatan kebudayaan. Masyarakat mendapat ruang untuk ikut mengambil bagian, sedangkan komunitas dapat membangun kegiatan melalui dukungan bersama.

Rokimdakas menilai pola tersebut dapat menjadi alternatif bagi komunitas dan kreator yang menghadapi keterbatasan biaya untuk menggelar kegiatan kreatif.

Gotong Royong sebagai Jalan Merawat Kepedulian

Di sisi lain, kegiatan seni berpotensi membuka manfaat ekonomi bagi pekerja seni, pekerja kreatif, pembuat konten, pelaku kuliner, penyedia transportasi, dan usaha kecil di sekitar lokasi.

Sejumlah komunitas dan jejaring turut terlibat, antara lain Komunitas Surabaya Juang, Pecinta Alam dan Pendaki Gunung MGM, MASTRIP, serta Paguyuban Cak Ning.

Pertemuan berbagai komunitas membuka ruang bagi gagasan dan pengalaman untuk saling bersinggungan. Kebudayaan tumbuh bukan hanya melalui karya yang tampil di panggung, melainkan juga melalui hubungan antarmanusia selama proses penyelenggaraan.

Gotong royong menemukan makna saat orang menyumbangkan tenaga, pikiran, waktu, dan sumber daya untuk kepentingan bersama. Masyarakat tidak cukup mengenang nilai warisan leluhur; mereka perlu menghadirkannya dalam cara menghadapi persoalan masa kini.

Dari Makam WR Soepratman, Amanat Kebangsaan Berlanjut

Korupsi, kemiskinan, kerusakan alam, dan persoalan tata kelola negara tidak akan selesai hanya melalui satu pergelaran kebudayaan. Persoalan tersebut membutuhkan kebijakan yang bertanggung jawab, penegakan hukum, pengawasan publik, serta tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Namun, bangsa juga memerlukan ruang untuk merawat kesadaran bersama. Kebijakan mengatur kehidupan, sedangkan nilai, pengetahuan, dan kebudayaan turut membentuk cara manusia memperlakukan sesama serta memandang masa depan.

Sejarah mengingatkan masyarakat pada perjalanan panjang yang telah mereka tempuh. Kebudayaan menjaga ingatan itu agar tetap dekat dengan kehidupan. Gotong royong memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menerjemahkan kepedulian menjadi kerja bersama.

Ketiganya bertemu dalam Meruwat Indonesia: ingatan tentang perjuangan, kegelisahan terhadap keadaan bangsa, dan harapan agar generasi penerus tetap peduli terhadap tanah air.

Pada 28 Oktober, makam WR Soepratman menjadi ruang perjumpaan antara warisan masa lalu dan tanggung jawab masa kini. Doa, tari, musik, puisi, dan semangat kebersamaan menyampaikan pesan melalui jalan berbeda, tetapi berangkat dari kegelisahan yang sama tentang Indonesia.

Mencintai tanah air bukan berarti menganggap segala sesuatu telah berjalan sebagaimana mestinya. Cinta yang dewasa memberi ruang bagi kejujuran untuk mengakui kekurangan, keberanian memperbaiki keadaan, dan kesediaan menjaga milik bersama.

Demikian pula sejarah. Masyarakat tidak cukup menempatkannya dalam bingkai penghormatan, membacakannya saat upacara, atau mengenangnya setiap peringatan. Mereka perlu memahami, merawat, dan meneruskan sejarah melalui tindakan yang bermanfaat bagi kehidupan.

Meruwat Indonesia menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga hubungan itu. Kegiatan ini mengajak masyarakat menoleh ke belakang tanpa terperangkap dalam nostalgia, memandang masa kini dengan jernih, dan menatap masa depan tanpa melepaskan tanggung jawab.

Di makam WR Soepratman, ingatan tentang Indonesia Raya membawa masyarakat kembali pada makna sebuah warisan: sesuatu yang tidak hanya mereka terima, tetapi juga harus mereka jaga.

Perjalanan masih panjang

Indonesia bukan semata-mata kisah perjuangan yang telah selesai. Indonesia adalah perjalanan yang masih berlangsung, amanat yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan cita-cita yang menuntut kesungguhan untuk diwujudkan.

Selama masyarakat terus mempelajari sejarah, merawat kebudayaan, dan bekerja bersama, harapan untuk Indonesia yang lebih adil dan beradab akan tetap hidup.

 

Jurnalis: Redho Fitriyadi

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL