SURABAYA, InsertRakyat.com — Dokter anti-aging dr. Neisa Sinaputri, mengungkap perbedaan fokus perawatan kulit pada usia 20 dan 30-an. Ia menyebut usia 20 lebih menitikberatkan pada proteksi dan pencegahan kerusakan, sedangkan usia 30 mulai membutuhkan perlindungan sekaligus perbaikan kulit.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi biologis kulit seiring bertambahnya usia. Produksi kolagen dan elastin serta kemampuan regenerasi sel mengalami perubahan sehingga kebutuhan perawatan kulit juga perlu disesuaikan.

“Di usia 20 fokus utama adalah proteksi dan pencegahan kerusakan. Sedangkan di usia 30, kulit mulai membutuhkan perlindungan sekaligus perbaikan agar kualitas kulit tetap terjaga dalam jangka panjang,” jelas dr. Neisa dalam edukasi kesehatan kulit yang dibagikannya.

Dok Ney: Beda Perawatan Kulit Usia 20 dan 30-an
Dok Ney: Beda Perawatan Kulit Usia 20 dan 30-an (foto).

Pada usia 20 kulit umumnya masih memiliki cadangan kolagen yang baik dan proses regenerasi sel yang relatif lebih cepat. Masalah yang sering muncul pada fase ini antara lain jerawat, minyak berlebih, komedo, dan bekas jerawat.

Menurut dr. Neisa, perawatan pada usia tersebut dapat diarahkan pada penggunaan pembersih wajah yang lembut, pelembap ringan, pengendalian minyak dan jerawat bila diperlukan, serta sunscreen minimal SPF 30 setiap hari.

Niacinamide dan salicylic acid atau BHA disebut sebagai sejumlah bahan yang umum digunakan pada fase tersebut, bersama pelembap sesuai kondisi kulit.

“Banyak anak muda terlalu cepat menggunakan produk anti-aging yang kuat. Padahal yang paling penting di usia 20 adalah membangun kebiasaan proteksi yang konsisten,” ujar DokNey.

Memasuki usia 30 kebutuhan kulit mulai berubah. Produksi kolagen disebut menurun secara bertahap, sementara tanda seperti kulit kusam, garis halus, pori yang terlihat lebih jelas, dan berkurangnya elastisitas dapat mulai muncul.

Karena itu, fokus perawatan pada usia 30 mencakup perlindungan sekaligus perbaikan. Perawatan diarahkan untuk menjaga kelembapan, membantu stimulasi produksi kolagen, mengurangi garis halus, memperbaiki tekstur dan warna kulit, serta tetap menggunakan sunscreen setiap hari.

Kandungan yang disebut dalam edukasi tersebut antara lain retinol, vitamin C, peptide, hyaluronic acid, dan ceramide.

“Di usia 30-an, skincare tidak cukup hanya membersihkan dan melembapkan. Kulit mulai membutuhkan pendekatan preventif sekaligus reparatif,” lanjutnya.

DokNey menambahkan, dua pola penggunaan skincare yang perlu dihindari. Pada usia 20-an, penggunaan retinoid dan eksfoliasi secara agresif dapat mengganggu skin barrier. Sementara pada usia 30-an, penggunaan skincare dasar tanpa menyesuaikan kebutuhan kulit dapat membuat perawatan kurang sesuai.

Selain produk skincare, kondisi kulit juga dipengaruhi gaya hidup. Faktor yang disebut perlu diperhatikan antara lain tidur cukup 7–8 jam, konsumsi protein yang cukup, asupan antioksidan dari buah dan sayur, olahraga rutin, pengelolaan stres, tidak merokok, serta penggunaan sunscreen secara konsisten.

Untuk retinol, bahan tersebut secara umum dapat mulai dipertimbangkan pada akhir usia 20-an atau awal 30-an, terutama ketika mulai muncul garis halus atau tekstur kulit tidak merata. Pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.

Menurut dr. Neisa, tujuan perawatan anti-aging bukan mempertahankan wajah agar terlihat seperti usia 20 tahun, melainkan menjaga kualitas kulit tetap sehat seiring bertambahnya usia.

“Prinsip sederhananya adalah: usia 20-an fokus protect, sedangkan usia 30-an fokus protect plus repair. Dengan perawatan yang tepat dan konsisten, proses penuaan dapat berlangsung dengan kualitas yang lebih baik,” tutup DokNey.

Reporter : Redho Fitriyadi

Editor        :  Tim Redaksi