Oleh Muhammad Subhan
DI SALAH SATU satu bagian novel Rumah di Tengah Sawah (Balai Pustaka, 2022), saya menyisipkan sebuah adegan ketika Agam, sang tokoh utama, menemukan sebuah buku di antara puing-puing rumahnya yang porak-poranda. Di selembar buku itu terdapat tulisan tangan sang ayah: “Nak, cintai buku seperti aku mencintaimu.”
Sebaris kalimat itu bukan sekadar pesan seorang ayah kepada anaknya, tapi penanda bahwa buku bukan hanya kumpulan lembaran kertas. Buku adalah warisan kasih sayang, pengetahuan, dan harapan yang ingin diteruskan kepada generasi berikutnya.
Namun, pertanyaannya kemudian, bagaimana mendekatkan buku kepada anak-anak di tengah kehidupan yang semakin dikuasai layar digital?
Paradoks literasi hari ini terasa begitu nyata. Buku secara fisik semakin mudah ditemukan. Jumlah perpustakaan terus bertambah, toko buku—meski tidak sedikit yang gulung tikar—masih berdiri, dan rak-rak buku di banyak rumah tidak pernah benar-benar kosong. Akan tetapi, anak-anak yang mendatangi buku justru makin sedikit. Perhatian mereka tersedot ke layar gawai yang menawarkan hiburan tanpa jeda. Buku tidak pernah kehilangan nilainya, tapi benda pipih di tangan setiap orang itu telah berhasil merebut perhatian, waktu, rasa ingin tahu, bahkan kebiasaan anak-anak kita.
Buku memang sedang bertarung sengit dengan algoritma media sosial dan berbagai aplikasi digital yang sengaja dirancang untuk membuat penggunanya bertahan selama mungkin di depan layar. Setiap usapan jari menghadirkan gambar baru, video baru, permainan baru, atau notifikasi baru yang terus-menerus memancing rasa penasaran. Sebaliknya, buku menuntut kesabaran. Buku mengajak pembacanya berhenti sejenak, membayangkan, merenung, dan menikmati proses. Di tengah budaya serba cepat dan instan, kesabaran itulah yang mulai menjadi barang langka.
Tantangan kita hari ini bukan lagi sekadar menyediakan atau menghadirkan buku, melainkan alasan apa yang membuat anak-anak ingin dan merasa perlu membuka buku?
Ruang yang dipenuhi ribuan buku tidak otomatis melahirkan seorang pembaca. Anak dapat berada berjam-jam di perpustakaan tanpa menyentuh satu pun buku jika ruang itu terasa asing, kaku, hening, dan dipenuhi aturan ketat. Sebaliknya, sebuah sudut kecil—baik di rumah, sekolah, maupun lapak baca komunitas—dengan beberapa buku pilihan dapat menjadi tempat yang sangat hidup ketika di sana ada cerita, tawa, percakapan, dan kehangatan.
Itulah sebabnya perpustakaan, toko buku, atau ruang baca apa pun perlu dipandang sebagai ruang pengalaman, bukan sekadar ruang menyimpan koleksi bacaan. Anak-anak tidak cukup hanya diajak melihat deretan punggung buku. Mereka perlu diajak menjelajah rak, memilih buku sesuai minatnya, mendengarkan cerita yang dibacakan dengan nyaring (read aloud), bertemu penulis, mengikuti permainan berbasis buku, hingga berdiskusi tentang tokoh yang mereka sukai. Ketika buku hadir melalui pengalaman yang menyenangkan, anak tidak lagi menganggap membaca sebagai beban atau kewajiban, tapi sebagai sebuah petualangan.
Cara orang dewasa memperkenalkan buku pun perlu diubah. Terlalu sering kita bertanya, “Sudah baca berapa halaman?” Pertanyaan itu secara tidak sadar menempatkan membaca sebagai target capaian yang mekanis. Padahal, yang jauh lebih penting adalah bertanya, “Bagian mana yang paling kamu sukai?” atau “Tokoh mana yang ingin kamu temui jika cerita itu benar-benar ada?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membangun hubungan emosional yang hangat antara anak dan buku, bukan sekadar relasi dingin dengan angka-angka halaman.
Mengajak anak membaca juga tidak bisa lagi menggunakan cara-cara dogmatis, seperti menyuruh, memaksa, apalagi menggurui. Kalimat “Ayo membaca buku!” sering kali terdengar seperti perintah. Akan jauh lebih menyenangkan jika orang tua atau pendamping mengajak anak menjelajahi buku tanpa target komersial atau beban menghafal. Biarkan mereka menyentuh sampulnya, membuka beberapa halaman, mencium aroma buku baru, lalu memilih sendiri kisah yang paling memikat perhatian mereka. Ketika anak diberi hak memilih, mereka merasa memiliki kisah tersebut. Perasaan memiliki inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya kecintaan membaca.
Lantas, apakah gawai harus sepenuhnya dijauhkan dari anak? Tidak juga.
Gawai adalah bagian dari realitas kehidupan modern yang sulit dipisahkan dari keseharian anak. Yang perlu diselaraskan bukan memusuhi gawainya, melainkan cara memanfaatkannya. Gawai justru dapat menjadi jembatan menuju buku. Setelah anak menonton video tentang dinosaurus, misalnya, ajak mereka mencari ensiklopedia dinosaurus di perpustakaan atau aplikasi buku digital terpercaya. Setelah mereka menyukai tokoh tertentu dari sebuah film, arahkan mereka menemukan kisah lengkapnya melalui versi cetak atau novelnya. Dengan begitu, gawai berfungsi memicu rasa ingin tahu, sementara buku memberikan kedalaman dan pemahaman yang utuh.
Namun, semua upaya itu akan sulit berhasil tanpa keteladanan nyata. Anak-anak adalah peniru yang ulung; mereka belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Sulit meminta anak mencintai buku apabila orang dewasa di dekatnya lebih sering menatap layar telepon genggam daripada memegang buku. Budaya membaca tidak tumbuh dari instruksi. Budaya membaca muncul dari kebiasaan yang hidup dan dicontohkan di lingkungan terdekat.
Ada satu hal yang sering terabaikan: anak-anak tidak jatuh cinta kepada buku pada pandangan pertama. Mereka jatuh cinta kepada momen yang menyertai buku tersebut. Mereka mengenang hangatnya pangkuan orang tua ketika dibacakan cerita sebelum tidur, tawa bersama saat mendengarkan dongeng, atau rasa bangga ketika berhasil menamatkan buku pertamanya. Kenangan-kenangan emosional seperti itulah yang kelak membuat mereka kembali mencari buku saat dewasa, bahkan ketika tidak ada lagi orang yang menyuruhnya.
Di sinilah momen seperti Hari Anak Nasional layak menjadi ruang refleksi bersama. Ini bukan semata-mata membuat anak bergembira selama sehari, tapi bagaimana memastikan mereka bertumbuh menjadi manusia yang utuh. Anak membutuhkan hak untuk didengar, bukan hanya diperintah. Mereka membutuhkan waktu berkualitas bersama keluarga—meski hanya 15 menit sehari—bukan sekadar mainan mahal. Mereka memerlukan pendidikan yang memanusiakan, ruang untuk bermain, membaca, berkesenian, dan bebas bertanya. Mereka juga berhak tumbuh dalam lingkungan yang bebas dari kekerasan, baik fisik, verbal, maupun paparan konten digital yang merusak.
Di atas semua itu, mereka membutuhkan orang dewasa yang memberi teladan. Anak-anak belajar kejujuran dari orang tua yang jujur, belajar menghargai dari lingkungan yang saling menghormati, dan belajar mencintai buku dari orang-orang yang menjadikan membaca sebagai bagian dari napas hidup sehari-hari.
Mendekatkan buku kepada anak bukan berarti memusuhi teknologi. Yang perlu kita lakukan adalah menghadirkan sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh layar digital: kehangatan hubungan antarmanusia, kebebasan berimajinasi tanpa interupsi iklan, dan kedalaman berpikir. Gawai menawarkan kecepatan, sementara buku menawarkan perjalanan dan pengalaman. Dan setiap anak berhak merasakan nikmatnya semua itu—satu halaman demi satu halaman.
Barangkali itulah renungan paling mendasar setiap kali kita memperingati Hari Anak. Anak-anak tidak membutuhkan orang dewasa yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang dewasa yang mau hadir, mendengar, dan memperkenalkan buku dengan penuh kasih sayang. Sudah tentu, sebelum jatuh cinta kepada buku, seorang anak akan lebih dahulu jatuh cinta kepada sosok yang membukakan pintu menuju segala keajaiban di dalamnya. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah
