PADANG PANJANG, InsertRakyat.com – Perjalanan seni Hamzah, M.Sn., membuktikan bahwa kecintaan terhadap seni rupa dapat tumbuh dari lingkungan sederhana dan berkembang hingga menembus panggung internasional.

Dosen Program Studi Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang itu mengaku mulai mengenal dunia lukis sejak masih kecil di kampung halamannya, Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Keindahan alam Bukit Barisan yang mengelilingi kampungnya menjadi sumber inspirasi utama dalam berkarya. Namun, yang paling berpengaruh dalam menumbuhkan kecintaannya terhadap seni lukis adalah sang ayah.

“Ayah saya sudah suka melukis sejak zaman Belanda. Gurunya orang Belanda bahkan memberi julukan Raden Saleh kepada beliau karena kemampuan melukisnya,” ujar Hamzah dalam bincang-bincang bersama InsertRakyat.com di sebuah kafe di Padang Panjang, Kamis (30/7/2026). Turut mendampingi penyair dan sutradara teater Dr. Sulaiman Juned, M.Sn.

Menurut Hamzah, pada zamannya, sang ayah berasal dari keluarga yang cukup berada di Sumpur Kudus. Kakeknya merupakan seorang laras atau pimpinan wilayah pada masanya yang dikenal memiliki peran besar dalam membangun kampung. Kondisi ekonomi keluarga yang baik membuat ayahnya berkesempatan menempuh pendidikan sejak Sekolah Rakyat dengan menunggang kuda menuju sekolah.

Kecintaan ayahnya terhadap seni juga terlihat dari kebiasaannya membeli majalah yang memuat reproduksi karya maestro Indonesia, seperti Basuki Abdullah. Dari halaman-halaman majalah itulah Hamzah kecil mulai mengenal lukisan-lukisan besar Indonesia.

“Sejak kecil saya sering melihat ayah mengoleksi majalah karena ada lukisan Basuki Abdullah di dalamnya. Dari situ ketertarikan saya semakin tumbuh,” katanya.

Hamzah, M.Sn., perupa yang juga dosen Seni Murni ISI Padang Panjang. (Foto: Dok. Pribadi/insertRakyat.com)

Minat tersebut kemudian semakin serius ketika Hamzah diterima di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Padang pada 1986. Tahun itu pula ia mulai melukis di atas kanvas secara lebih intensif.

Baca Juga :  Adhyaksa Mural Fest 2025, Upaya Kampanye Antikorupsi Melalui Seni

Selama menempuh pendidikan di SMSR, semangat berkaryanya terus berkembang. Pada kelas tiga, ia mengikuti studi banding ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kesempatan melihat langsung karya para maestro seni rupa Indonesia menjadi pengalaman yang semakin menguatkan tekadnya menekuni dunia seni lukis.

“Sepulang dari Yogyakarta, saya semakin bersemangat. Tidak hanya mengerjakan tugas sekolah, tetapi juga terus berkarya,” ujarnya.

Setelah menamatkan pendidikan di SMSR pada 1990, Hamzah melanjutkan studi ke Jurusan Seni Lukis ISI Yogyakarta. Ia lulus melalui seleksi masuk dan menyelesaikan pendidikan hingga wisuda pada 1996. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali menimba ilmu di kampus yang sama dan meraih gelar magister pada 2010.

Selama menetap di Yogyakarta, Hamzah tidak hanya berkesenian, tetapi juga membangun usaha untuk menopang kehidupan. Ia sempat membuka warung nasi yang memiliki konsep unik. Dinding rumah makan itu dipenuhi lukisan hasil karyanya.

“Di rumah makan itu saya tetap berkarya. Banyak kolektor yang datang, melihat lukisan, lalu membelinya,” kenangnya.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan upaya membangun kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan idealisme sebagai seniman.

Kini, setelah puluhan tahun berkarya, Hamzah melihat perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai tantangan sekaligus peluang bagi dunia seni rupa.

Ia mengakui sempat terkejut ketika mengetahui AI mampu menghasilkan gambar atau lukisan dalam waktu singkat. Namun, menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman.

“Awalnya memang kaget karena AI bisa melukis. Tetapi AI bukan untuk dimusuhi. AI justru bisa menjadi alat pendukung profesi seniman, membantu mencari ide dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam proses kreatif,” katanya.

Hamzah menegaskan, karya seni tidak hanya diukur dari hasil visual semata, tetapi juga mengandung pengalaman batin, gagasan, nilai kemanusiaan, serta proses kreatif yang tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi.

Baca Juga :  Adhyaksa Mural Fest 2025, Upaya Kampanye Antikorupsi Melalui Seni

“Seni tidak melulu soal ekonomi. Ada nilai-nilai yang menyertainya. Profesi perupa masih memiliki prospek yang baik. Jangan takut dengan AI, tetapi jadikan sebagai motivasi untuk berkarya lebih baik dan menghadirkan nilai tambah yang tidak dimiliki mesin,” ujarnya.

Dedikasi Hamzah terhadap seni rupa tercermin dari rekam jejak panjangnya mengikuti berbagai pameran sejak 1987 hingga sekarang. Karyanya telah dipamerkan di berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Di tingkat internasional, ia pernah berpameran di Bali, Guangzhou, China, Malaysia, Belanda, Amerika Serikat, serta mengikuti berbagai ajang internasional seperti Jakarta Art Awards (JAA) dan Biennale Yogyakarta.

Di dalam negeri, Hamzah aktif mengikuti pameran nasional maupun regional di Jakarta, Batam, Medan, Jambi, Pekanbaru, Padang, Yogyakarta, Magelang, Tanah Datar, hingga Aceh. Ia juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni yang diselenggarakan perguruan tinggi seni di Indonesia serta aktif dalam komunitas-komunitas seni seperti Sakato Art Community, Tambo Arts Center, SPIRIT’90, SCALA, dan Kampuang Sakato Sumatera Barat.

Sejumlah pameran penting yang pernah diikutinya antara lain Biennale IX dan X Yogyakarta, Biennale Sumatera Barat, Festival Seni Melayu Asia Tenggara, Pameran Nasional Guru Seni Rupa Indonesia di Galeri Nasional Jakarta, Marapi Singgalang di Rumah Budaya Fadli Zon, Art Jog, hingga International Painting Competition JAA Art Awards di Wends Gallery, New York, Amerika Serikat.

Hingga kini, selain mengajar di FSRD ISI Padang Panjang, Hamzah tetap aktif berkarya, berpameran, dan mendorong lahirnya generasi perupa baru. Baginya, seni merupakan perjalanan panjang yang terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar nilai dan kemanusiaannya. (han)

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

Memuat berita...
Lihat Semua