PEKANBARU, INSERTRAKYAT.com– Jutaan warga Indonesia pembayar pajak ke negara kini berharap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung proyek rehabilitasi dan renovasi madrasah Program PHTC di Provinsi Riau yang saat ini tengah berlangsung.
Mereka khwatir proyek dikerjakan asal – asalan, padahal menggunakan dana pajak dari masyarakat. Harapan itu muncul, kata Jeky, di tengah sorotan terhadap pelaksanaan proyek senilai Rp36,1 miliar yang dikerjakan PT Murda Jaya Abadi.
“Iya bang kami berharap Wakil Presiden, bisa berkunjung, ke mari,” ujar Jeky (akrab), kepada InsertRakyat.com, 30 Juni 2026.
InsertRakyat.com juga telah berupaya meminta konfirmasi kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait harapan masyarakat tersebut. Namun hingga berita ini diterbitkan pada pukul 16.01 WIB, (30/6/2026).
Belum diperoleh tanggapan secara pasti mengenai kunjungan Putra Presiden Ke 7 RI, Joko Widodo tersebut.
Sementara itu, ada orang di Jakarta bilang, soal harapan masyarakat, menurutnya sudah pasti ditindaklanjuti oleh Wapres Gibran. “Pasti ditindaklanjuti oleh Wapres (Gibran),” kata individu tersebut melalui sambungan daring, sambil bersedia diungkap Identitasnya pada 17 Juli 2026 mendatang. “Akan ditindaklanjuti (harapan masyarakat,” ulangnya tegas.

Program rehabilitasi dan renovasi tersebut mencakup tujuh madrasah di Provinsi Riau, yakni MAN 1 Bengkalis, MTsN 4 Kuantan Singingi, MTsN 5 Bengkalis, MIN 1 Bengkalis, MTsN 2 Bengkalis, MIN 1 Rokan Hilir, dan MIN 1 Kota Dumai.
Sorotan terhadap proyek muncul setelah hasil penelusuran di sejumlah lokasi pekerjaan menemukan dugaan ketidaksesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan spesifikasi teknis yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) maupun Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Temuan di lapangan antara lain menyangkut dugaan penggunaan material timbunan, metode pengecoran beton, serta penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi pekerja.
Di lokasi MIN 1 Bengkalis, misalnya, ditemukan dugaan penggunaan tanah gambut dan material sisa pembongkaran bangunan lama sebagai bahan timbunan. Dokumentasi lapangan juga memperlihatkan puing beton bekas pembongkaran masih berada di area proyek, sementara sejumlah pekerja terlihat mencampur material beton secara manual di atas permukaan tanah dan mesin molen tidak digunakan.
Selain itu, sejumlah pekerja terlihat tidak menggunakan perlengkapan pelindung diri seperti helm proyek, sarung tangan, maupun sepatu keselamatan saat bekerja.
Ketika dimintai keterangan, seorang pekerja mengaku tidak mengetahui keberadaan pelaksana maupun manajer proyek.
“Project manager enggak tahu, dari tadi enggak ada bang,” ujarnya.
Menanggapi temuan tersebut, Ari selaku pengawas lapangan PT Murda Jaya Abadi menjelaskan penggunaan material tertentu dilakukan berdasarkan arahan pihak sekolah.
“Penggunaan tanah dari sisa bongkaran bangunan lama, kepala sekolah MIN 1 Bengkalis yang menyuruh. Kami dari pihak pelaksana mengikuti arahan di lapangan,” ujarnya.
Ia juga membantah penggunaan bekisting bekas.
“Bukan bekas, Pak. Itu kayu lama pakai, jadi terlihat seperti bekas,” katanya.
Menurut Ari, proyek tersebut telah mendapatkan pemantauan dari tim pengawas pusat, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta pendampingan dari kejaksaan.
“Waktu itu ada pengawas dari Jakarta datang, dibilang pekerjaan sudah bagus. Begitu juga dari BPKP dan pendampingan kejaksaan,” terangnya.
Sementara itu, InsertRakyat.com juga telah meminta tanggapan kepada Murda Julisman selaku pemilik PT Murda Jaya Abadi terkait berbagai temuan di lapangan. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada jawaban maupun klarifikasi.
Di sisi lain, sejumlah warga di sekitar lokasi proyek mengaku menyampaikan berbagai keluhan selama pekerjaan berlangsung. Di kawasan MAN 1 Bengkalis, warga mengaku beberapa kali melihat pekerja berada di luar area proyek pada malam hari.
“Kami sering melihat beberapa pekerja keluar pada malam hari. Ada yang mencari ikan dan masuk ke area kebun warga. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat merasa kurang nyaman,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Keluhan serupa juga disampaikan warga di sekitar MTsN 2 Bengkalis yang mengaku beberapa kali mendapati tanaman cabai dan sayuran di pekarangan rumah berkurang.
“Beberapa kali warga mendapati tanaman cabai dan sayuran di pekarangan berkurang. Kami menduga ada oknum pekerja yang mengambilnya, tetapi tentu hal ini perlu dipastikan lebih lanjut,” kata seorang warga.
Warga berharap pelaksana proyek meningkatkan pengawasan terhadap pekerja agar aktivitas pembangunan tidak menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar.
Dengan nilai kontrak mencapai Rp36,1 miliar dan proyek yang disebut berada dalam pengawasan BPKP serta pendampingan kejaksaan, masyarakat berharap pengawasan terus diperkuat. Harapan agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung proyek juga disampaikan sebagai bentuk perhatian terhadap pelaksanaan pembangunan sarana pendidikan di Provinsi Riau.
(han/rom/sup/Mft | Redaksi InsertRakyat.com).





