PEKANBARU, InsertRakyat.com — Penulis sekaligus seniman multitalenta, Muhammad Sholeh Arshatta, resmi meluncurkan karya terbarunya sebuah himpunan puisi solo bertajuk Kapankah Matamu Kemarau.

Kehadiran buku ini menjadi sekuel dan penanda keberlanjutan jejak literasinya setelah sukses menerbitkan antologi puisi best seller Kepingan Renjana Matamu (2023) dan novel Arok Tan Lika Liku Menjemput Surga (2024).

Judul Kapankah Matamu Kemarau sendiri, menurut Sholeh, dirangkai secara unik menggunakan teknik akrostik yang berangkat dari perenungan mendalam yang ia persembahkan bagi sosok terkasih.

“Buku ini merangkum fragmen-fragmen liris, refleksi rindu, hingga perjalanan duka yang ditulis sepanjang rentang tahun 2023 hingga 2025. Tahun-tahun ini sebuah periode sebagai titik nadir saat berhadapan dengan ujian, kehilangan, dan getirnya kehidupan,” ujarnya kepada InsertRakyat.com, Selasa (28/7/2026).

Dia mengungkapkan, antologi ini dihuni oleh puisi-puisi pilihan yang pernah memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional serta telah terbit di pelbagai media massa. Karya-karya tersebut kini dikumpulkan dan diikat kembali agar tidak lapuk ditelan waktu.

Sholeh menyajikan gaya bahasa yang kaya dan dinamis, memadukan eksplorasi metafora, ironi, gaya liris, hingga nada sarkasme yang berkelindan erat dengan suasana jiwa saat bait-bait tersebut tercipta.

Lahir di Sialang Panjang, Tembilahan Hulu pada 4 Desember 1995, pemuda berdarah Bugis Bone ini membuktikan bahwa disiplin ilmu sains dan sastra dapat berjalan selaras.

Alumnus S1 Biologi Universitas Riau (2018) yang menempuh pendidikan S2 Psikologi di UIO University ini kini berprofesi sebagai Medical Delegate di PT Nestlé Indonesia. Di tengah kesibukan profesinya, ia tetap konsisten merawat ruang kreatif sebagai sutradara teater, aktor, mentor di Asqa Imagination School (AIS) dan Symprerifora Publisher, serta sempat terpilih sebagai Emerging Writers di Balige Writers Festival 2025 dan peserta Majelis Cipta Teater Se-Sumatera 2025.

Bagi Sholeh, penerbitan Kapankah Matamu Kemarau bukan sekadar ikhtiar pembukuan karya, melainkan bentuk reinkarnasi tulisan dan ruang penyembuhan. Ia berharap setiap larik di dalamnya dapat menjadi penawar bagi setiap luka dan menyapa hangat para pembaca. Buku antologi puisi ini kini sudah siap diapresiasi dan dinikmati oleh publik luas. (*/fit)

Penulis: Fitrah Helmy
Editor: Muhammad Subhan

Memuat berita...
Lihat semua
Memuat berita Nasional...
Lihat semua
Memuat berita hukum...
Lihat semua

POLITIK

Memuat berita...
Lihat semua
METRO
Memuat berita Metro...
Lihat semua
TOPIK
Memuat berita...
Lihat semua
Memuat berita ragam...
Lihat semua
Memuat opini...
Lihat semua
Memuat Bilik Elipsis...
Jelajahi Bilik Elipsis