Oleh Yulivia

Ketika ada orang bertanya, “Kamu tinggal di mana?”

Saya selalu menjawab, “Di Parik Rantang” karena memang di sana saya berdomisili.

“Parik Rantang dekat mananya?” Begitu pertanyaan berikutnya. Lalu, saya jelaskan bahwa saya tinggal dekat stasiun karena bangunan itu telah menjadi bagian dari identitas kami di Parik Rantang. Saya bangga menyertakan penjelasan tentang tempat tinggal dengan memakai kata “Stasiun” karena saya menganggap hampir semua orang Payakumbuh tahu yang mana dan di mana posisi stasiun Parik Rantang.

Tapi, benarkah asumsi bahwa semua orang Payakumbuh tahu tentang Stasiun Parik Rantang? Kalau “orang dulu” (generasi tua di Payakumbuh) pasti tahu Stasiun Parik Rantang. Tapi bagaimana dengan Gen Z dan Alpha? Tahukah mereka bahwa di Payakumbuh ada sebuah bangunan Stasiun Kereta Api? Pertanyaan ini saya ajukan kepada anak saya yang tergolong Gen Z. Ternyata teman-teman sebayanya, yang bukan orang Parik Rantang tidak tahu tentang Stasiun Parik Rantang. Wajar saja kalau mereka tidak tahu karena bangunan stasiun itu kini telah berubah menjadi toko, yang sebelumnya juga telah beberapa kali berganti wajah sesuai dengan selera penyewa.

Gambar Merek Stasiun Kereta Api Parik Rantang yang sudah memudar menahan musim. (Foto: Dok. Pribadi./InsertRalyat.com)

Stasiun Parik Rantang dalam Kenangan

Waktu masa kanak-kanak dulu, tahun 1970-an, saya masih sempat melihat adanya “Induk Kereta” di Stasiun Parik Rantang. Kami menyebut “Induk Kereta” untuk lokomotif berwarna hitam legam, yang membunyikan peluitnya untuk memberitahukan kedatangannya. Di telinga kami, anak-anak yang tinggal dekat stasiun, bunyi peluit adalah lagu merdu yang menghibur hati. Putaran roda besi di atas rel adalah pemandangan yang menakjubkan, disertai kepulan asap melalui corong yang mengarah ke atas. Lambat laun, yang saya sebut “asap yang mengepul” itu sebenarnya adalah uap panas, sumber energi untuk menggerakkan lokomotif. Induk kereta itu membawa beberapa gerbong tanpa penumpang dan tanpa barang.

Area stasiun adalah tempat kami, anak-anak Parik Rantang bermain di petang hari. Di sana kami meniti rel kereta dan berlari-larian di bantalan kayu penyangga rel kereta. Karena area stasiun sudah lama tidak dirawat, di sana banyak tumbuh rumput, semak atau perdu liar. Kalau sedang musim layang-layang, kami ikut melihat orang bermain layang-layang di area stasiun.

Waktu saya bersekolah di SMP, bangunan stasiun Parik Rantang pernah dipakai menjadi tempat kursus Bahasa Inggris, “Vilcon” namanya. Lembaga kursus itu memakai ruang stasiun tanpa merubah bentuk bangunan asli.

Cukup lama juga area stasiun tidak digunakan dan terlihat seperti tidak terurus. Satu benda yang paling saya ingat di stasiun itu adalah sebuah jam gantung yang sangat besar, berbentuk bulat, jarumnya tidak berfungsi, dan permukaannya berselimut debu. Di manakah jam itu sekarang? Pada zamannya, pasti jam gadang itu sangat berjasa menjadi penunjuk waktu bagi penumpang yang datang dan pergi dari Stasiun Parik Rantang.

Di stasiun legendaris itu kami bermain mancik-mancik (main sembunyi-sembunyian). Tapi, persembunyian itu kadang-kadang terusik oleh bau yang kurang sedap, seperti bau air kencing manusia, yang terdesak tapi kurang adab.

Cukup lama juga stasiun dan area rel kereta menjadi lahan terbuka. Meskipun ada sejumlah rumah atau warung-warung berdiri di atasnya, tapi itu tidak banyak. Bagian yang kosong di atas jalur kereta ditumbuhi rumput dan pada sisi dekat jalan raya ditanami pohon peneduh. Kata orang, namanya Pohon Suharto.

Stasiun Parik Rantang di zaman Pemerintahan Belanda. (Sumber: Wikipedia)

Sejarah Singkat Kereta Api di Sumatra Barat

Parik Rantang adalah sebuah kelurahan yang termasuk ke dalam wilayah Kenagarian Koto Nan Ampek, Kecamatan Payakumbuh Barat. Selain pasar Payakumbuh, Parik Rantang adalah alternatif bagi para pemilik modal untuk mengembangkan bisnisnya di Payakumbuh. Ini dibuktikan dengan telah berubahnya area stasiun dan rel kereta api menjadi pusat pertokoan dan tempat kuliner. Selain pasar Payakumbuh, Parik Rantang memang memiliki magnet tersendiri untuk lokasi pengembangan bisnis dan kuliner.

Sejarah Stasiun Kereta Api Parik Rantang tidak bisa dilepaskan dengan sejarah kereta api di Sumatra Barat. Jalur kereta api dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda melalui parusahaan Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust pada akhir abad ke-19. Belanda membangun jaringan kereta api bukanlah untuk mengangkut penumpang seperti di Pulau Jawa, melainkan untuk mengangkut batubara dari tambang Batubara Sawahlunto ke pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur).

Pada tahun 1891 Belanda membangun jalur pertama dari Pulau Ayia ke Padang Panjang. Setahun kemudian, selesai pula jalur kereta api ke Bukittinggi dan Sawahlunto (1892). Jalur sekian panjang jalur kereta api, jalur yang paling ekstrim adalah di Lembah Anai. Maka untuk mengatasi ekstrimnya jalur Lembah Anai tersebut, Belanda memakai teknologi yang disebut rel gigi.

Jejak Kereta Api di Payakumbuh

Jalur kereta api di Payakumbuh adalah cabang dari Bukittinggi. Jalur ini mulai dibangun sakitar tahun 1895-1896 dan dibuka secara resmi pada 18 Desember 1896. Berbeda dengan kereta api Sawahlunto yang membawa batubara, Kereta Api di Payakumbuh berfungsi untuk mengangkut penumpang yang membawa kopi, kulik manih (kayu manis), serta hasil bumi lainnya dari Kabupaten Lima Puluh Kota ke Kota Padang.

Lambat laun, kereta api dan rel besi ditinggalkan penumpang. Ia kalah bersaing dengan oto (mobil), truk, dan aspal karena oto memiliki mobilitas yang tinggi serta kemampuan menjangkau wilayah yang jauh lebih luas. Akhirnya rel besi makin menua, kereta api uap dan gerbongnya mulai mengalah untuk mengangkut penumpang dan hasil bumi. Seribu sembilan ratus tujuh puluh tiga (1973) adalah tahun berhentinya operasi kereta api jalur Bukittinggi-Payakumbuh.

Stasiun Parik Rantang tampak depan, kini menjadi toko oleh-oleh. (Foto: Dok. Pribadi/InsertRakyat.com)

Stasiun Parik Rantang: Riwayatmu Kini

Kini area sekitar stasiun telah menjelma menjadi pertokoan, pemukiman, warung-warung, dan jalan aspal. Kebutuhan hidup dan desakan modernitas telah mengubur rel besi tua, sekaligus mengubur jejak Belanda di Payakumbuh. Pun demikian dengan bangunan stasiun itu. Bentuk aslinya tidak tampak lagi. Ia direnovasi, dipercantik, serta dibedaki sesuai dengan selera bisnis penyewa.

Pada suatu malam, saya lewat di depan Stasiun Parik Rantang. Malam tanpa hujan, sinar lampu jalan dan kendaraan yang berseliweran terang-benderang, Stasiun Parik Rantang tampak menawan. Tak hanya stasiun yang berubah, deret pertokoan yang berdiri di atas kuburan rel kereta api tampak berkilau, semuanya gagah dan rancak. Bangunan stasiun sudah menjadi toko kue dan oleh-oleh. Beberapa waktu lampau, stasiun itu pernah pula menjadi restoran cepat saji dengan menu ayam goreng. Entah apa pula jenis usaha yang akan menempati stasiun itu esok hari.

Di satu sisi, pembangunan pertokoan memang diperlukan untuk ekpansi bisnis dan ekonomi Kota Payakumbuh. Namun, di sisi lain, kita sebenarnya telah menghilangkan atau mengubur bukti sejarah yang sangat panjang.

Mengubur rel kereta, mengubah wajah Stasiun Parik Rantang berarti menghilangkan jejak eksistensi Belanda di Kota Payakumbuh. Maka, tak bisa disalahkan kalau Gen Z dan Alpha tidak tahu tentang keberadaan stasiun Parik Rantang, kononlah pula tentang sejarahnya. Hal ini tentu sangat memprihatinkan.

Bisakah “Mak Itam” hadir lagi di Payakumbuh?

Beberapa waktu lalu saya pernah berwisata ke Sawahlunto. Di kota batu bara itu, saya sempat berkunjung ke Museum Kereta Api. Di sana benda-benda bersejarah terkait kereta api tersimpan sangat epic dan menarik. Termasuk lokomotif hitam legam bernama “Mak Itam”, yang bentuknya serupa dengan lokomotif yang pernah saya lihat waktu kecil dulu.

Museum Kereta Api Sawahlunto sangat cocok untuk wisata sejarah, budaya, dan edukasi. Saya berpikir alangkah baiknya jika Stasiun Parik Rantang dijadikan cagar budaya dan objek wisata sejarah seperti di Sawahlunto. Kadang-kadang saya rindu dengan masa kecil. Saya juga ingin bercerita bahwa di Payakumbuh pernah singgah lokomotif yang bernama “Mak Itam”. Namun, bagaimana cerita bisa dibangun kalau bukti sejarah telah ‘hilang’? Hilangnya Stasiun Kereta Api Parik Rantang, hilang pula satu jejak telapak kaki Belanda di Payakumbuh.

Melihat pesatnya perkembangan bisnis di Parik Rantang, saya merasa prihatin karena jati diri stasiun sebagai bekas stasiun kereta api aktif di masa lampau sudah tidak ada lagi. Gen Z dan Alpha tidak tahu dengan Stasiun Parik Rantang. Ini dibuktikan dengan keterangan anak saya. Ketika temannya bertanya, “Dimana kamu tinggal?” Dia tidak pernah menjawab “dekat stasiun” karena teman seperjuangannya memang tidak tahu Stasiun Parik Rantang. Anak saya akan mengatakan, bahwa dia tinggal dekat Niagara Swalayan, dekat restoran Pizza Hut, atau dekat rumah makan yang semuanya mencirikan tempat usaha atau bisnis dan pertokoan yang lebih dikenal oleh teman-temannya. Bagi saya, ruang adalah sejarah; bagi mereka, ruang adalah fungsi dan konsumsi.

Bung Karno, Bapak Proklamator Kemerdekaan yang juga presiden pertama Republik Indonesia pernah berpidato berjudul Jas Merah “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Menghilangkan bentuk asli bangunan stasiun, berarti kita telah menghilangkan sepenggal sejarah pendudukan Belanda di tanah air.

Ketika melihat “Mak Itam” di Sawahlunto, saya merindukan (berkhayal) kembalinya Mak Itam ke Stasiun Parik Rantang. Tapi itu tentu jauh panggang dari api karena rel kereta api sebagian besar sudah rusak, hilang, dan tidak berfungsi. “Mak Itam” adalah simbol kerinduan generasi lampau terhadap kereta api uap di Sumatra Barat. Tapi setidaknya, saya ingin menyampaikan kepada Pemerintah Kota Payakumbuh agar bisa mengambil alih stasiun kereta api di Parik Rantang, mengembalikan bentuk aslinya, menjadikannya sebagai museum, cagar budaya, dan objek wisata sejarah dan edukasi seperti di Sawahlunto. Stasiun Parik Rantang adalah bangunan yang memiliki nilai historis yang terkait kolonialisme Belanda di Kota Payakumbuh. Tulisan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa pembangunan ekonomi seharusnya tidak mengorbankan akar sejarah sebuah daerah. []

Rujukan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Payakumbuh
Feni Efendi, 2021. Pajacombo Literatur tentang Tanah Payau. JBS Yogyakarta.

Yulivia, S.P., M.Pd. Ia mengenyam pendidikan S1 di IPB dan S2 di UNP. Saat ini ia bertugas sebagai guru di SMK Negeri 3 Payakumbuh. Ia menulis beberapa buku solo dan antologi, serta beberapa artikel di koran dan majalah.

Penulis: Yulivia, SP., M.Pd.
Editor: Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.