Oleh Marlina, S.Pd.

BULAN Juli kembali menyapa, membawa serta aroma buku baru, sampul plastik yang mengkilap, dan suara sepatu New Era yang masih kaku. Di ruang guru SDN 03 Payakumbuh, saya menarik napas dalam-dalam. Menatap cermin kecil di meja, saya merapikan jilbab, sementara degup di dada bergemuruh dengan irama yang persis sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Rasa cemas itu datang lagi. Menghantam relung dada tanpa diundang. Bagaimana tidak cemas? Di balik pintu kelas satu yang akan saya masuki, telah hadir puluhan anak dengan sejuta karakter. Ada yang memegang erat tangan ibunya sambil terisak, ada yang bersembunyi di balik punggung ayah, hingga yang menatap tajam penuh rasa ingin tahu.

Mereka adalah lembaran-lembaran putih dari latar belakang yang sangat beragam. Sebagian besar baru saja meninggalkan dunia bermain penuh tawa di PAUD, dan kini harus dihadapkan pada aturan, bel sekolah, serta deretan angka dan huruf.

“Apakah tahun ini aku sanggup membersamai mereka dari nol?” Bisik itu selalu berkelebat setiap kali tahun ajaran baru dimulai.

Tantangan itu nyata dan begitu berat. Mengajarkan anak-anak yang belum mengenal pensil agar bisa menulis dengan benar, meredakan tangisan rindu pada orang tua di jam-jam pertama sekolah, hingga menyamakan ritme belajar puluhan kepala dengan kesabaran ekstra. Rasanya pundak ini memikul beban dunia setiap kali bel masuk berbunyi di bulan-bulan awal. Waktu seolah berjalan begitu lambat, dipenuhi peluh, tarikan napas panjang, dan malam-malam yang dihabiskan untuk merancang media pembelajaran agar mereka tidak bosan.

Terlebih, jika ditarik garis waktu ke belakang, siklus ini bukan sekadar hitungan musim. Semenjak saya memutuskan mutasi dari Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 2015 lalu ke SDN 03 Payakumbuh hingga detik ini, takdir seolah menetapkan saya untuk terus istikamah. Sudah lebih kurang sebelas tahun lamanya saya mendedikasikan diri, dan selamanya tetap dipercaya menjadi wali kelas satu. Sebelas tahun bergelut dengan dunia anak-anak usia dini, sebelas tahun pula debar cemasan yang sama berulang setiap bulan Juli tiba. Namun, roda waktu berputar. Perlahan tapi pasti, hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Bulan-bulan penuh air mata dan kesabaran itu akhirnya terbayar. Di penghujung tahun ajaran, suasana berubah magis. Kecemasan bertransformasi menjadi haru biru yang hangat. Saat-saat paling membahagiakan itu tiba. Rasa puas yang begitu manis, meski hanya segelintir dan sekejap, menyapa jiwa. Betapa leganya hati ini ketika melihat anak-anak yang dulunya menangis kebingungan, kini berdiri tegak dengan mata berbinar-binar. Mereka sudah lancar membaca kalimat utuh, terampil berhitung pertambahan, rapi menuliskan cita-cita di buku tulis, dan yang paling melegakan: mereka memenuhi seluruh kriteria untuk naik ke kelas dua.

Melihat senyum bangga dari para orang tua saat penerimaan rapor adalah puncak kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Rasanya lelah setahun seolah menguap begitu saja, terbayar lunas oleh tawa lepas anak-anak didik tercinta. Namun, kelegaan itu ternyata hanya sesaat.

Waktu berlalu begitu cepat, secepat kilat menyambar. Belum sempat rasa puas itu dinikmati lebih lama, kalender dinding sudah menunjukkan bulan Juni berakhir, dan Juli yang baru telah berdiri di depan mata.

Lagi dan lagi, siklus itu berulang. Murid-murid tersayang naik tingkat meninggalkan ruangan ini, sementara saya harus kembali berdiri di garis start, menghadapi lembaran baru, wajah-wajah baru, dan tentu saja, debar kecemasan yang sama di relung dada. Tetapi, di sinilah takdir saya. Di ruang kelas 1 SDN 03 Payakumbuh, melalui perjalanan panjang lebih dari satu dekade ini. Di tempat di mana kecemasan dan kepuasan berkejaran dalam lingkaran waktu, saya tetap memilih untuk tinggal, merajut asa, dan menanam cinta di hati anak-anak bangsa. []

Marlina, S.Pd. adalah Guru kelas 1 SDN 03 Payakumbuh.

Penulis: Marlina, S.Pd.
Editor: Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.