Oleh Bambang Widiatmoko
MEMBACA kumpulan puisi Mikrofon yang Murka karya Djajat Sudradjat (2025: 131) seolah kita diajak untuk memasuki kehidupan yang penuh ironi. Dunia baru kebangkitan Djadjat untuk kembali menulis puisi setelah nonaktif dari Media Indonesia dan sebagai anggota DPRD (2019-2024) di tanah kelahirannya, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kumpulan puisi ini dibagi atas 3 bagian, yakni Suara Satu, Suara Dua, Suara Tiga; dengan pengantar Hilmar Farid dan ulasan Maman S. Mahayana.
Tentunya pengalaman pernah sebagai wakil rakyat menjadi inspirasi dalam penulisan puisinya. Puisinya menjadi penuh ironi sebagai ungkapan atas kegelisahannya. Ungkapan John F. Kennedy “jika politik itu kotor, puisi akan membersikannya” layak disandang jika kita membaca tuntas kumpulan puisi ini.
Pengalamannya sebagai bagian dari kewenangan legislatif yang berpusat di Senayan membuatnya menulis puisi penanda kekuasaan. Kita simak puisinya “Senayan” yang terdiri dari tiga larik: Suara suara nyaring/Tapi sulit ditangkap maknanya/Mungkin butuh banyak penafsir tanda// (hlm. 120).
Dalam sajak ini mengungkapkan secara tersirat pernyataan-pernyataan para anggota dewan yang sulit diketahui maksudnya sehingga diperlukan para penafsir makna. Puisi ini adalah pernyataan yang paradoks dan menciptakan keadaan yang penuh ironi. Diksi yang dipergunakan dan dipilih Djadjat adalah diksi yang tepat dan menandakan tingkat kemampuan penyair dalam membedakan nuansa makna yang terwakili oleh kata-kata atau diksi tersebut. Diksi penting untuk menentukan sejauh mana penyair dapat memberikan kesan atau pengertian kepada pembacanya.
Djadjat tak bisa melepaskan diri dari kehidupan di kota yang penuh ironi dalam sajaknya “Ironi Sebuah Kota” berikut ini: Sekarang kota jadi sibuk mengurus aparatnya/Bukan mengurus warganya/Lihat saja jika orang berpangkat lewat/Sejuta ajudan bergerak/Melapangkan jalan, memotong kiri kanan/Menerobos aturan/Kota tak lagi panggung kenangan/Yang membahagiakan/Kini jadi panggung melelahkan/Tak ramah pada mereka yang penuh derma/Dibiarkan saja yang seorang renta/Menggendong karung menggunung/Dengan banyak kunang-kunang di matanya/Menuju utara terhuyung ke kiri/Menuju selatan terhuyung ke kanan/Ia tatap papan advertensi penuh wajah/Yang mengajak milih sebab ia Amanah/Para aparat ramai bicara pindah di tempat basah/Di jalan baru yang luas dan halus dulu milik keluarganya/Kini tinggal sepetak untuk kuburnya sendiri// (hlm.63).
Sajaknya menggambarkan kehidupan di kota dengan kalimat yang mudah dipahami. Gaya ucap Djajat adalah ungkapan untuk membangun dialog dengan pembacanya. Djadjat mencoba mengajak pembaca puisinya untuk turut melihat apa yang dilihat dan dirasakannya. Misalnya “Lihat saja jika orang berpangkat lewat”. Djadjat menyampaikan realitas kehidupan dengan bahasa yang sederhana dalam puisi dengan gaya satir sehingga muncul larik “Dengan banyak kunang-kunang di matanya” dan akhirnya menjadikan ironi bahwa lahan yang luas itu akhirnya “Kini tinggal sepetak untuk kuburnya sendiri”.
Djadjat pandai memilih metofora jika memang diperlukan sebagaimana diuangkapkan dalam puisi berjudul “Tentang Puisi” yang ditujukan Kepada Sinkichi Takahashi” sebagai berikut: Menulis ia ketika jiwanya suwung/Raganya tanpa bentuk/Tangannya menari bagai Darwis/Digerakkan oleh satori/Puisi serupa magma/yang menjebol perut gunung/Mengalir tanpa jeda/Ia wujud yang sejati//(hlm. 36 ).
Tidak hanya realitas yang ditampilan, namun ironi tentang penyair dihadirkan dengan apik dalam sajaknya berjudul Nubuat Penyair: Berpuluh tahun lalu seorang penyair bersahaja/meramal kematiannya sendiri/Ia merasa Tuhan begitu lekat/Meminta kematian bukanlah aib/Ditulislah nubuat di atas selembar kertas biru/Memohon ketika jasadnya sudah terbaring/Terus nenulis larik-larik sajak di sekujur tubuhnya/Saban hari ia berdoa kapan ajal tiba/Ia ingin melihat tubuhnya penuh puisi/Lama-lama ia bosan karena ajal lama tak tiba/Sang penyair lupa nubuatnya sendiri/Berpuluh tahun kemudian/Setelah melihat gadis bertahi lalat di pipi kiri/Ia ingin hidup yang tak berlimit waktu/Tapi kemarin ia mati begitu saja/Ketika tengah alpa berdoa//(hlm.8).
Tidak saja puisi-puisinya dipenuhi dengan idiom-idiom politik, Djajat juga cerdas menampilkan puisi yang kaya makna meski dengan gaya bahasa humoris seperti dalam puisi “Berseteru dengan Sajak 2” sebagai berikut: Suatu malam sang penyair bermimpi/Seorang peri akan membunuhnya dengan guna-guna/Jika hubungannya dengan sajak-sajaknya tak disambung kembali/Ia memaksa agar penyair menyadari/Bahwa sajak anak kandung semesta/Bahwa penyair hanya dipinjam sukmanya/Tapi sang penyair belum memutuskan/Akan baikan atau memperpanjang perseteruan.//(hlm.16).
Pada puisinya yang lain Djadjat mengajak untuk belajar melihat seperti yang dituangkan dalam puisi Belajar Melihat berikut ini:
Entah kenapa kini aku kerap bertanya
Pada mereka yang suka membusungkan dada
Yang wajahnya menekan dan matanya membuat jeri
Yang hasrat lobanya menggelora agar jadi sempurna
Disebarkan uang dengan gerak terang
Ini transaksi untuk kebaikan bersama
Kebaikan yang tak bisa digantikan
Kebaikan hakiki, katanya.
(hlm. 22)
Puisinya lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Kritik disampaikan tanpa bahasa yang meledak-ledak dan menjadi slogan. Puisi Djadjat menjadi enak dinikmati sebab larik-lariknya bersahaja. Kontradiksi dihadirkan sebagai sindiran yang tajam atas ketidakpastian. Kritik dan refleksi dihadirkan bukan untuk melakukan perlawanan melainkan banyak persoalan yang perlu ditulisnya dalam puisi yang estetik. Puisi-puisinya mengajukan berbagai permasalahan sosial yang mewakili pembaca tentang ketidakpastian. Kita pun menjadi ikut larut bersamanya sebagaimana Djadjat merasa “Entah kenapa kini aku kerap bertanya”. []
Bambang Widiatmoko. Penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Liat Pulaggajat (2022), Tetaplah Tidur Mendengkur (2024). Puisinya terhimpun dalam antologi puisi bersama al. Kitab Omon-Omon (2025), Empat Belas Purnama (2025), Layang-layang Tak Memilih Tangan (2025), Manuskrip Manusia (2026), Ramu Ramu Warteg (2026). Ikut menulis esai di buku al. Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL, 2021), Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021), Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB UI, 2021), Sastra, Pariwisata, Lokalitas (HISKI Bali, 2021), Antologi Kritik Sastra dan Esai (KKK. 2021), Jalan Sastra Lampung (DKL, 2022). Di Antara Gudang, Rumah Tua, pada Cerita (Gramedia, 2022), Oase di (Tepian) Kota (2023). Tribut Untuk Prof. Dr. Edi Sedyawati, Dari Ganesa Sampai Tari (Jakarta: BWCF, 2024). Bergiat di Asosiasi Tradisi Lisan (ATL).
Penulis: Bambang Widiatmoko
Editor: Dian Sarmita
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.








































