Oleh Muhammad Subhan

Ya, apa pentingnya menulis puisi hari ini? Pertanyaan itu layak diajukan di tengah realitas media massa yang kian menyempitkan ruang bagi karya sastra. Honorarium bagi penulis puisi semakin terbatas, sementara ruang publik lebih sering dipenuhi perbincangan tentang angka, data, algoritma, dan tren yang bergerak begitu cepat. Ukuran keberhasilan pun acap kali dikaitkan dengan jumlah tayangan, pengikut, atau keuntungan ekonomi. Dalam situasi seperti itu, puisi kerap dianggap tidak lagi memiliki nilai praktis.

Kegelisahan tersebut wajar dirasakan sebagian penulis. Namun, jawaban atas pertanyaan itu sesungguhnya kembali pada hakikat manusia sebagai makhluk yang tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tapi juga kebijaksanaan. Sejak dahulu, manusia selalu mencari cara untuk mengungkapkan pengalaman batin, merekam zamannya, dan menyampaikan nilai-nilai yang diyakininya. Puisi adalah salah satu medium yang terus bertahan menjalankan fungsi tersebut.

Sejak peradaban kuno, puisi menjadi penanda kebudayaan. Virgilius merajut Aeneid sebagai karya yang membangun semangat kebangsaan Romawi. Homer mengabadikan ingatan kolektif Yunani melalui Iliad dan Odyssey. Karya-karya itu tidak sekadar menghadirkan keindahan bahasa, tapi juga merekam pandangan hidup, nilai moral, serta pergulatan manusia pada zamannya. Puisi, dengan demikian, bukan hanya rekreasi kata, lebih jauh adalah cermin perjalanan sebuah peradaban.

Dalam tradisi Arab sebelum Islam, syair menempati posisi yang sangat terhormat. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa karya-karya terbaik para penyair, yang dikenal sebagai Mu’allaqat, menurut tradisi populer digantungkan di dinding Ka’bah sebagai bentuk penghormatan terhadap keunggulan sastra. Ketika Al-Qur’an diturunkan dengan kemuliaan bahasa yang tidak tertandingi, para penyair menyadari adanya perbedaan mendasar antara wahyu dan karya manusia. Al-Qur’an bukanlah puisi, melainkan firman Allah yang memiliki karakteristik bahasa tersendiri. Kesadaran itu tidak mematikan tradisi kepenyairan, tapi justru menempatkan puisi pada porsinya sebagai ikhtiar manusia untuk mengungkapkan kebijaksanaan, keindahan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Pada era modern, perubahan berlangsung jauh lebih cepat. Kemajuan teknologi menghadirkan limpahan informasi yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya. Ironisnya, kelimpahan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman perenungan. Manusia dapat mengetahui banyak hal dalam hitungan detik, tapi belum tentu memiliki waktu untuk memahami maknanya. Di titik inilah puisi menemukan relevansinya. Puisi tidak hadir untuk menolak kemajuan ilmu pengetahuan, apalagi memusuhi data dan teknologi. Sebaliknya, puisi menjadi penyeimbang yang mengajak manusia berhenti sejenak, merenungkan pengalaman hidup, serta mendengarkan suara-suara halus yang sering tenggelam dalam kebisingan zaman.

Sudah sepantasnya, apresiasi terhadap puisi penting ditumbuhkan sejak dini, baik di sekolah, pesantren, maupun lingkungan keluarga. Pembelajaran puisi bukan semata-mata bertujuan mencetak penyair. Yang jauh lebih penting adalah membentuk kepekaan berpikir, memperluas imajinasi, serta melatih kemampuan memahami pengalaman orang lain. Ketika seorang anak membaca puisi tentang kemiskinan, bencana, kehilangan, atau harapan, ia belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Di situlah empati bertumbuh.

Puisi juga melatih kemampuan berbahasa secara lebih cermat. Seorang penyair belajar memilih kata dengan penuh pertimbangan, memahami makna di balik simbol, dan menyusun kalimat secara efektif. Keterampilan semacam ini sesungguhnya menjadi modal penting dalam kehidupan akademik maupun profesional. Kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi tidak lahir hanya dari penguasaan informasi, tetapi juga dari kecakapan mengolah bahasa secara jernih.

Lebih jauh lagi, puisi merupakan ruang kebebasan intelektual yang bertanggung jawab. Melalui puisi, seseorang dapat mengajukan pertanyaan, menyampaikan kritik, atau merefleksikan realitas sosial tanpa kehilangan dimensi kemanusiaannya. Sejarah menunjukkan bahwa banyak karya sastra lahir sebagai bentuk perenungan terhadap ketidakadilan, peperangan, kemiskinan, maupun perubahan sosial. Puisi tidak selalu menawarkan jawaban, tetapi sering kali membantu manusia merumuskan pertanyaan yang lebih mendasar tentang kehidupan.

Chairil Anwar memberikan teladan nyata mengenai hal tersebut. Melalui puisi-puisinya, ia menghadirkan pembaruan dalam bahasa Indonesia sekaligus menunjukkan keberanian berpikir yang melampaui zamannya. Karya-karyanya tetap dibaca lintas generasi bukan semata karena nilai sejarahnya, melainkan karena masih mampu berbicara kepada pembaca masa kini. Hal itu membuktikan bahwa usia biologis manusia memang terbatas, tapi gagasan yang ditulis dengan kejujuran dapat melintasi waktu.

Memperingati Hari Puisi Indonesia setiap 26 Juli—bertepatan dengan hari kelahiran Chairil Anwar—bukan sekadar mengenang seorang penyair besar. Peringatan ini merupakan momentum untuk menegaskan kembali bahwa kebudayaan membutuhkan ruang bagi suara-suara kreatif. Bangsa yang menghargai sastra sejatinya sedang menjaga kemampuan warganya untuk berpikir, berdialog, dan memahami sesama manusia secara lebih utuh.

Yang paling membutuhkan puisi sesungguhnya adalah masyarakat yang mulai kehilangan kepekaan sosial. Ketika ujaran kebencian mudah menyebar, ketika percakapan publik dipenuhi polarisasi, dan ketika manusia semakin mudah menghakimi tanpa memahami, puisi hadir mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kisah, luka, dan harapan yang layak didengar. Puisi tidak menyelesaikan seluruh persoalan sosial, tapi dapat membantu memelihara kesadaran kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Tentu, puisi bukan satu-satunya jalan untuk membangun peradaban. Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kebijakan publik memiliki peran yang sama pentingnya. Namun, kemajuan material tanpa kepekaan batin berisiko melahirkan masyarakat yang efisien, tapi miskin empati. Sebaliknya, puisi mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologinya, melainkan juga dari kemampuannya menjaga martabat manusia.

Menulis puisi hari ini bukanlah upaya mengejar popularitas atau keuntungan ekonomi semata. Menulis puisi adalah ikhtiar merawat bahasa agar tetap jujur, menjaga pikiran agar tetap kritis, dan memelihara hati agar tetap peka terhadap kehidupan. Selama manusia masih membutuhkan kasih sayang, keadilan, harapan, dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran, puisi akan selalu memiliki tempat.

Maka, teruslah membaca puisi, dan teruslah menulis puisi. Setiap bait puisi yang lahir dari kejujuran bukan hanya memperkaya khazanah sastra, tapi juga ikut menjaga kemanusiaan agar tetap hidup di tengah zaman yang bergerak semakin cepat. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah