PASAMAN BARAT, InsertRakyat.com —Buku kumpulan cerpen Sepotong Bulan di Saku Aruna karya Joel Pasbar dibedah dalam rangkaian Festival Literasi Pasaman Barat yang digelar Rabu (16/9/2026), di Gedung Perpustakaan Pasaman Barat.
Kegiatan tersebut diikuti seratus peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pegiat literasi, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM), guru, hingga siswa dari sejumlah sekolah di Pasaman Barat.
Bedah buku menghadirkan Denni Meilizon, S.Ap., Suria Lailana Putra, M.Pd., dan Fera Susanti, S.Pd., sebagai narasumber. Diskusi dipandu Suria Tresna, penulis yang juga tim kreatif Sekolah Menulis elipsis.
Pembahasan tidak hanya berfokus pada isi buku, tetapi juga mengajak peserta melihat lebih jauh bagaimana sebuah karya lahir dari gagasan-gagasan sederhana yang ada di sekitar kehidupan.
Simbol, benda, peristiwa, maupun pengalaman sehari-hari dapat menjadi sumber ide, apabila diolah melalui proses kreatif dan teknik penulisan yang baik.
Dalam diskusi tersebut, Sepotong Bulan di Saku Aruna menjadi salah satu contoh, bahwa sebuah tulisan tidak selalu harus berangkat dari sesuatu yang besar.

Hal-hal sederhana justru dapat memiliki makna yang luas, ketika penulis mampu menemukan sudut pandang dan mengolahnya menjadi cerita.
Pesan itu menjadi salah satu hikmah yang banyak diperoleh peserta. Literasi tidak semata-mata tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang kemampuan melihat sesuatu secara lebih dalam.
Sebuah benda sederhana dapat menyimpan cerita, sebuah peristiwa kecil dapat menghadirkan renungan, dan sebuah simbol dapat berkembang menjadi gagasan yang menyentuh pembaca.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para guru dan pengelola TBM mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya menghadirkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan pembaca.
Sementara bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk melihat bahwa menulis bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.
Kehadiran para pegiat literasi dan pengelola TBM dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa ekosistem literasi membutuhkan ruang-ruang perjumpaan seperti bedah buku.
Di ruang semacam itu, sebuah buku tidak berhenti sebagai benda yang dibaca, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan melahirkan gagasan-gagasan baru.
Festival Literasi Pasaman Barat 2026 pun semakin menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari berbagai bentuk kegiatan.
Bedah buku menjadi salah satu cara mempertemukan penulis, pembaca, pendidik, pegiat literasi, dan generasi muda dalam satu ruang yang sama.
Penulis buku cerpen Sepotong Bulan di Saku Aruna, Joel Pasbar, mengatakan, pada kegiatan itu peserta diajak melihat kembali sesuatu yang sering kali luput dari perhatian: bahwa inspirasi tidak selalu berada jauh.
“Inspirasi bisa tumbuh dari benda yang sederhana, dari pengalaman sehari-hari, bahkan dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa,” ujar Joel Pasbar.
Secara khusus Joel Pasbar menyampaikan terima kasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pasaman Barat yang telah memilih buku karyanya dibedah pada perhelatan akbar literasi di kaki Gunung Talamau itu.
Penulis: Fitrah Helmy
Editor: Muhammad Subhan



















































