HARAU, InsertRakyat.com — Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, Rahmat, S.Ag., M.Hum., mengajak para pegiat literasi di Kabupaten Lima Puluh Kota untuk memulai aktivitas menulis dengan niat yang tulus. Menurutnya, menulis bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menjadi jalan untuk mengabdi kepada masyarakat sekaligus mengabadikan gagasan dan pengalaman.
Pesan tersebut disampaikan Rahmat saat membuka Workshop Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal yang diselenggarakan Perpustakaan dan Rumah Belajar (PRB) Kaniak di Tarantang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 2 Agustus 2026 itu menghadirkan dua penulis nasional, Muhammad Subhan dan Wulan Mulya Pratiwi sebagai narasumber.
“Mulailah menulis dengan memperbaiki niat. Menulis untuk mengabdi dan mengabadi,” ujar Rahmat di hadapan peserta yang tampak antusias mengikuti pembukaan workshop.
Rahmat mengaku gembira melihat semangat para pegiat literasi di Kabupaten Lima Puluh Kota. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PRB Kaniak yang berhasil memperoleh Program Penguatan Literasi Berbasis Budaya dan Komunitas Tahun 2026 yang didukung Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Menurutnya, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat mendukung berbagai program literasi yang dijalankan PRB Kaniak dan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pemantik lahirnya lebih banyak karya tulis dari masyarakat.
“Semoga program ini memantik semangat berkarya dan menginspirasi komunitas literasi lainnya,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Lima Puluh Kota, Fitriandi, M.Pd., mengajak seluruh komunitas literasi di daerah itu untuk bergabung dalam Forum TBM agar memperoleh pendampingan dan kesempatan mengikuti berbagai program penguatan literasi.
Ia mengingatkan pentingnya budaya membaca sebagai fondasi dalam menulis. Menurutnya, seseorang yang ingin menghasilkan satu tulisan berkualitas harus terlebih dahulu membaca banyak referensi.
“Kalau ingin menulis satu tulisan, bacalah sebanyak mungkin buku,” ujarnya.
Fitriandi berharap keberhasilan PRB Kaniak memperoleh dukungan pemerintah dapat diikuti taman bacaan masyarakat lainnya di Kabupaten Lima Puluh Kota sehingga semakin banyak komunitas yang mampu mengembangkan program literasi secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Pengurus PRB Kaniak, Yosi Gumala, S.Pd., memaparkan berbagai program literasi dan pemberdayaan masyarakat yang selama ini dijalankan.
Ia menjelaskan, PRB Kaniak secara rutin menggelar kegiatan membaca nyaring (read aloud) dua kali setiap pekan. Selain itu, setiap Minggu pagi diselenggarakan lapak baca di Ruang Terbuka Hijau (RTH) bekerja sama dengan komunitas RALIKO yang dipimpin Ketua Umum Melinda.
Tidak hanya berfokus pada literasi baca tulis, PRB Kaniak juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Setiap bulan, taman bacaan tersebut memfasilitasi latihan rebana bagi kaum ibu serta pembinaan Bundo Kanduang sesuai program yang telah disusun.
Bagi anak-anak, PRB Kaniak rutin mengadakan lomba mewarnai, pelatihan menulis kreatif, dan pembacaan puisi sebagai upaya menumbuhkan minat baca sekaligus mengembangkan kreativitas mereka.
Untuk memperluas akses literasi, PRB Kaniak juga membuka lapak baca di sejumlah sekolah di sekitar Kecamatan Harau. Di bidang kesehatan, lembaga tersebut bekerja sama dengan STIKes dalam penyelenggaraan penyuluhan kesehatan serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba juga rutin diberikan melalui berbagai kegiatan penyuluhan.
Workshop Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Penguatan Literasi Berbasis Budaya dan Komunitas Tahun 2026.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan mampu menggali potensi budaya lokal sebagai sumber inspirasi karya tulis, sekaligus memperkuat ekosistem literasi berbasis komunitas di Kabupaten Lima Puluh Kota. (fit)
Penulis: Fitrah Helmy
Editor: Supriadi Buraerah











