Penulis : Muhammad Subhan
Editor : Supriadi Buraerah
Sumber : BPMI Setpres – 3 Agustus.

“Jakarta menjadi pusat diplomasi strategis saat Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Kerajaan Tailan, Anutin Charnvirakul. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan memperkuat kemitraan strategis di bidang keamanan, pertahanan, perdagangan, investasi, ketahanan pangan, energi, ekonomi digital, industri halal, dan konektivitas. Sebagai dua negara pendiri ASEAN, Indonesia dan Tailan juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas kawasan, memperkuat kerja sama menghadapi kejahatan lintas negara, serta mendorong penyelesaian berbagai isu regional melalui diplomasi dan kerja sama.


JAKARTA, INSERTRAKYAT.com — Jakarta kembali menjadi panggung diplomasi kawasan ketika Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Kerajaan Tailan, (Thailand), Anutin Charnvirakul, Senin (3/8/2026). Pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka itu tidak sekadar menandai kunjungan kenegaraan, tetapi juga membuka babak baru penguatan kemitraan strategis Indonesia dan Tailan di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.

Sebagai dua negara pendiri ASEAN sekaligus kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dan Tailan memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menyepakati langkah bersama dalam memperkuat kerja sama di bidang keamanan, pertahanan, perdagangan, investasi, ketahanan pangan, energi, ekonomi digital, hingga peningkatan konektivitas antarmasyarakat.

Kunjungan Anutin memiliki arti tersendiri bagi hubungan diplomatik kedua negara. Ini merupakan kunjungan resmi pertama seorang Perdana Menteri Tailan ke Indonesia dalam kurun 15 tahun terakhir, sekaligus menjadi tindak lanjut setelah kedua negara meningkatkan status hubungan bilateral menjadi kemitraan strategis pada tahun sebelumnya.

Rangkaian kunjungan dimulai ketika pesawat yang membawa PM Anutin beserta delegasi mendarat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 16.05 WIB.

Jakarta Jadi Pusat Diplomasi Strategis Indonesia–Tailan
Perdana Menteri (PM) Kerajaan Tailan, Anutin Charnvirakul tiba di Jakarta pada Senin, 3 Agustus 2026 melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada pukul 16.05 WIB. Foto: BPMI Setpres

Di apron pangkalan udara militer tersebut, Anutin disambut Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Tailan Hari Prabowo, Duta Besar Kerajaan Tailan untuk Republik Indonesia Prapan Disyatat, Atase Pertahanan Tailan untuk Indonesia Sittirat Pusongchai, serta Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Ali Gusman.

Suasana penyambutan berlangsung khidmat. Pasukan jajar kehormatan berdiri menyambut kedatangan tamu negara, sementara korps musik memainkan lagu-lagu instrumental yang mengiringi prosesi penyambutan. Dentuman meriam salvo menjadi simbol penghormatan Indonesia kepada kepala pemerintahan negara sahabat yang melakukan kunjungan resmi.

Nuansa budaya Indonesia turut mewarnai prosesi tersebut. Penampilan tari tradisional menjadi suguhan pertama yang disaksikan PM Anutin sebelum memasuki kendaraan VVIP menuju Istana Kepresidenan. Diplomasi budaya itu menjadi bagian dari tradisi penyambutan tamu negara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada delegasi Tailan.

Dari Halim Perdanakusuma, iring-iringan kendaraan PM Anutin bergerak menuju kawasan Istana Merdeka dengan pengawalan ketat.

Memasuki kawasan Monumen Nasional, rombongan mendapat pengawalan kehormatan yang terdiri atas 17 pasukan motoris dan 120 pasukan berkuda. Formasi tersebut menjadi bagian dari tata upacara kenegaraan yang diberikan kepada kepala pemerintahan negara sahabat.

Di halaman Istana Merdeka, ratusan siswa sekolah dasar telah menunggu sejak pagi. Mereka mengibarkan bendera Indonesia dan Tailan sebagai simbol persahabatan kedua bangsa. Kehadiran para pelajar memberi warna tersendiri dalam penyambutan resmi yang berlangsung di jantung pemerintahan Indonesia.

Prosesi penyambutan semakin semarak dengan penampilan Tari Sekar Sahitya Ayu dari Jawa Barat. Pertunjukan budaya itu menjadi bagian dari diplomasi lunak Indonesia yang selama ini selalu ditampilkan dalam setiap penyambutan tamu negara.

Jakarta Jadi Pusat Diplomasi Strategis Indonesia–Tailan
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menyambut Perdana Menteri (PM) Kerajaan Tailan, Anutin Charnvirakul, dalam kunjungan resmi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 3 Agustus 2026. Foto: BPMI Setpres

Presiden Prabowo Subianto kemudian menyambut langsung PM Anutin di sisi barat Istana Merdeka. Kedua pemimpin berjabat tangan sebelum berjalan berdampingan menuju lokasi upacara kenegaraan.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Kerajaan Tailan dikumandangkan secara bergantian. Prosesi dilanjutkan dengan dentuman 19 kali tembakan meriam sebagai penghormatan tertinggi dalam tata upacara kenegaraan.

Setelah itu, Presiden Prabowo bersama PM Anutin memeriksa pasukan jajar kehormatan sebelum memperkenalkan anggota delegasi resmi dari masing-masing negara.

Delegasi Indonesia dipimpin langsung Presiden Prabowo dengan didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, COO Danantara Dony Oskaria, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Tailan Hari Prabowo.

Baca Juga :  GI Klaim Soeharto Adalah Arsitek Stabilitas dan Ketahanan Nasional Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Jakarta Jadi Pusat Diplomasi Strategis Indonesia–Tailan
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menyambut Perdana Menteri (PM) Kerajaan Tailan, Anutin Charnvirakul, dalam kunjungan resmi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 3 Agustus 2026. Foto: BPMI Setpres

Usai prosesi penyambutan, kedua pemimpin memasuki Ruang Kredensial untuk mengabadikan momen melalui sesi foto bersama. PM Anutin kemudian menandatangani buku tamu kenegaraan sebagai penanda resmi kunjungannya ke Indonesia.

Agenda berikutnya menjadi bagian paling penting dari kunjungan tersebut. Presiden Prabowo dan PM Anutin menggelar pertemuan empat mata sebelum melanjutkan pembahasan dalam forum Leaders’ Consultation Meeting bersama delegasi kedua negara.

Di forum inilah arah baru hubungan Indonesia dan Tailan mulai dibahas secara lebih mendalam, mulai dari isu politik, keamanan, pertahanan, ekonomi, hingga berbagai tantangan yang dihadapi ASEAN di tengah perubahan situasi global.

Pertemuan Empat Mata Bahas Arah Baru Kemitraan Strategis

Memasuki ruang pertemuan di Istana Merdeka, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kerajaan Tailan Anutin Charnvirakul mengawali agenda dengan pertemuan tête-à-tête atau pertemuan empat mata. Pertemuan berlangsung tertutup sebelum dilanjutkan dengan Leaders’ Consultation Meeting yang dihadiri delegasi resmi kedua negara.

Dalam pengantarnya, Presiden Prabowo membuka pembicaraan dengan menyampaikan ucapan selamat kepada Anutin atas amanah yang diterimanya sebagai Perdana Menteri Kerajaan Tailan.

Presiden menyebut kunjungan tersebut memiliki arti historis bagi hubungan kedua negara. Selain menjadi kunjungan resmi pertama seorang Perdana Menteri Tailan ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir, pertemuan itu juga menjadi Leaders’ Consultation kedua sejak Indonesia dan Tailan meningkatkan hubungan bilateral menjadi kemitraan strategis pada tahun sebelumnya.

Jakarta Jadi Pusat Diplomasi Strategis Indonesia–Tailan
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan pertemuan empat mata dengan Perdana Menteri (PM) Kerajaan Tailan Anutin Charnvirakul di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 3 Agustus 2026. Foto: BPMI Setpres

Menurut Presiden, hubungan yang telah terbangun selama puluhan tahun kini memasuki fase baru yang menuntut kerja sama lebih konkret dan berorientasi pada hasil.

Ia menilai Indonesia dan Tailan mempunyai banyak kesamaan, baik dari sisi posisi strategis di Asia Tenggara maupun struktur ekonomi yang saling melengkapi.

Sebagai dua negara pendiri ASEAN, keduanya dinilai memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus memastikan organisasi regional tersebut tetap relevan menghadapi perubahan geopolitik dunia.

Presiden Prabowo mengatakan kemitraan strategis yang telah disepakati tidak boleh berhenti sebagai dokumen diplomatik semata. Seluruh kesepakatan harus diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara.

“Kemitraan ini harus mengarah ke depan dan mencari jalan ke depan yang fokus pada memberikan manfaat nyata untuk rakyat kita,” ujar Presiden Prabowo.»

Presiden juga mengajak kedua negara meningkatkan intensitas pertemuan dan koordinasi di berbagai tingkat pemerintahan.

Menurutnya, komunikasi yang lebih rutin akan mempercepat penyelesaian berbagai agenda bersama sekaligus memperkuat posisi Indonesia dan Tailan dalam menghadapi berbagai tantangan kawasan.

Prabowo menyampaikan optimisme bahwa kedua negara mampu memperluas kerja sama di hampir seluruh sektor strategis, mulai dari perdagangan, investasi, pertahanan, keamanan, ketahanan pangan, keamanan energi, hingga transformasi digital.

Di hadapan Presiden Prabowo, PM Anutin menyatakan kunjungannya ke Jakarta merupakan kelanjutan dari hasil pertemuan kedua pemimpin ketika Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Bangkok pada tahun sebelumnya.

Saat itu, Indonesia dan Tailan sepakat meningkatkan hubungan bilateral menjadi kemitraan strategis yang kini mulai memasuki tahap implementasi.

Menurut Anutin, peta jalan kemitraan strategis yang disiapkan kedua negara akan menjadi panduan pelaksanaan berbagai program kerja sama dalam beberapa tahun mendatang.

Ia menilai Indonesia dan Tailan merupakan dua pilar utama ASEAN yang mempunyai tanggung jawab besar menjaga perdamaian, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Sebagai dua negara yang merupakan pilar utama ASEAN, kita harus bekerja lebih erat untuk memperluas kerja sama bilateral dan mendorong kawasan kita maju,” kata Anutin.

Dalam bidang politik, PM Anutin mengusulkan agar pertemuan tingkat tinggi kedua negara dilakukan secara lebih rutin, termasuk di sela-sela berbagai forum internasional dan ASEAN.

Ia juga mengusulkan Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan Komisi Bersama tingkat Menteri Luar Negeri sebagai forum untuk mengevaluasi pelaksanaan berbagai kesepakatan yang telah dicapai.

Baca Juga :  Sinjai Mulai Pembangunan Gudang dan Gerai Kopdes Merah Putih, Ketua Ilham Gembira! 

Sektor pertahanan menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian khusus dalam pembahasan kedua pemimpin.

Indonesia dan Tailan sepakat meningkatkan latihan militer bersama, pertukaran personel, pendidikan militer, kerja sama keamanan maritim, hingga pengembangan industri pertahanan.

PM Anutin bahkan menyampaikan kesiapan pemerintahnya memasok 36 kendaraan lapis baja amfibi beroda bagi Korps Marinir Indonesia sebagai bagian dari penguatan kerja sama industri pertahanan.

Selain itu, Tailan juga mengundang Indonesia menghadiri pameran pertahanan dan keamanan yang akan digelar di Bangkok pada November 2027.

Di bidang keamanan, kedua negara memperkuat komitmen menghadapi berbagai bentuk kejahatan lintas negara.

Perhatian utama diarahkan pada pemberantasan penipuan daring, perdagangan orang, penyelundupan narkotika, hingga berbagai bentuk kejahatan siber yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang melintasi batas negara.

Presiden Prabowo menegaskan Indonesia akan terus mengoptimalkan mekanisme kerja sama yang telah dibangun bersama Tailan, termasuk melalui Indonesia–Thailand High Level Committee dan Indonesia–Thailand Security Dialogue.

Kedua negara juga mendukung pengembangan Transnational Referral Mechanism (TRM) sebagai instrumen untuk memperkuat perlindungan terhadap korban kejahatan transnasional.

PM Anutin mengungkapkan bahwa sejak tahun sebelumnya pemerintah Tailan telah membantu memulangkan lebih dari seribu warga negara Indonesia yang menjadi korban jaringan penipuan daring di kawasan perbatasan.

Presiden Prabowo menyampaikan penghargaan atas dukungan tersebut dan menyebut kerja sama itu sebagai bukti nyata eratnya hubungan Indonesia dan Tailan dalam melindungi warga negara masing-masing.

Pembahasan kemudian bergeser ke sektor ekonomi, yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama hubungan bilateral kedua negara.

Di bidang inilah kedua pemimpin menyepakati berbagai langkah baru yang diharapkan mampu meningkatkan nilai perdagangan, investasi, serta membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi dunia usaha Indonesia dan Tailan.

Ekonomi Jadi Pilar Utama Kemitraan Indonesia–Tailan

Di luar isu politik dan keamanan, sektor ekonomi menjadi fokus utama dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Tailan Anutin Charnvirakul. Kedua pemimpin sepakat bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan Tailan masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus berkembang.

Presiden Prabowo menegaskan target nilai perdagangan bilateral sebesar 20 miliar dolar Amerika Serikat pada 2030 menjadi sasaran bersama yang akan dicapai melalui berbagai langkah konkret.

Untuk mewujudkan target tersebut, Indonesia dan Tailan sepakat memperluas investasi, meningkatkan akses pasar, mempererat hubungan antarpelaku usaha, serta membentuk Joint Trade Commission untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan kedua negara.

Forum tersebut akan menjadi mekanisme tetap bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam membahas peluang perdagangan, investasi, sekaligus menyelesaikan berbagai hambatan yang selama ini menghambat arus barang dan jasa.

Kesepakatan itu diharapkan membuka peluang lebih besar bagi produk Indonesia memasuki pasar Tailan, sekaligus memperluas investasi perusahaan Tailan di Indonesia.

PM Anutin mengungkapkan bahwa nilai perdagangan kedua negara saat ini telah mendekati 20 miliar dolar Amerika Serikat. Namun, menurutnya, potensi tersebut masih dapat ditingkatkan seiring besarnya kapasitas ekonomi Indonesia dan Tailan sebagai dua negara dengan jumlah penduduk gabungan lebih dari 350 juta jiwa.

Selain perdagangan, pembahasan juga menyoroti pentingnya memperkuat investasi dua arah.

PM Anutin menyebut keberhasilan investasi Lion Air di Tailan sebagai contoh nyata bahwa dunia usaha kedua negara mampu membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

Menurutnya, investasi lintas negara perlu terus diperluas agar tercipta rantai nilai yang menghubungkan industri Indonesia dan Tailan dalam berbagai sektor strategis.

Perkuat Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan menjadi agenda penting yang mendapat perhatian kedua pemimpin.

Presiden Prabowo menilai tantangan perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, dan meningkatnya kebutuhan pangan menuntut Indonesia dan Tailan memperkuat kolaborasi di sektor pertanian.

Kerja sama yang disepakati mencakup pengembangan teknologi pertanian, peningkatan produktivitas, logistik pangan, pengolahan hasil pertanian, hingga penguatan rantai pasok.

PM Anutin juga menawarkan peningkatan perdagangan produk pertanian dan peternakan antara kedua negara.

Dalam kesempatan itu, Tailan menyampaikan rencana meningkatkan impor pupuk urea dari Indonesia dari sekitar 60 ribu ton menjadi 100 ribu ton per tahun.

Selain itu, kedua negara sepakat mempercepat kerja sama di sektor perikanan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan kawasan.

Pada sektor energi, kedua negara berkomitmen mengaktifkan kembali Forum Energi Indonesia–Tailan yang terakhir diselenggarakan pada 2014.

Baca Juga :  JAKSA AGUNG TERIMA PENGUNDURAN DIRI JAMPIDSUS DI TENGAH PROSES HUKUM YANG DIUSUT POLRI

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah memperkuat kerja sama di bidang gas alam, batu bara, energi baru, dan berbagai sumber energi masa depan yang mendukung transisi menuju energi berkelanjutan.

Presiden Prabowo menilai kerja sama energi menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi kedua negara di tengah dinamika pasar global.

Selain energi, transformasi digital juga menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian khusus.

Indonesia dan Tailan sepakat memperluas kolaborasi pada sektor ekonomi digital, termasuk pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan investasi bilateral.

Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi diharapkan mampu mengurangi biaya transaksi sekaligus memperkuat stabilitas perdagangan kedua negara.

Kedua pemimpin juga membahas peluang besar pengembangan industri halal.

Indonesia dan Tailan melihat sektor tersebut memiliki prospek yang terus tumbuh, seiring meningkatnya kebutuhan pasar global terhadap produk dan layanan halal.

Karena itu, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama industri halal melalui peningkatan investasi, perdagangan, serta pengembangan rantai pasok.

Di bidang konektivitas, Indonesia menyambut pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta–Bangkok dan Denpasar–Phuket.

Rute baru tersebut diharapkan meningkatkan mobilitas masyarakat, memperkuat hubungan antarpelaku usaha, memperluas sektor pariwisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara.

Presiden Prabowo menilai konektivitas yang semakin baik akan mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus membuka peluang kerja sama baru di bidang pendidikan, budaya, dan ekonomi kreatif.

Berbagai kesepakatan ekonomi yang dicapai dalam pertemuan itu menjadi bagian dari implementasi kemitraan strategis Indonesia–Tailan yang diharapkan tidak hanya meningkatkan hubungan diplomatik, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi dunia usaha dan masyarakat di kedua negara.

Jakarta Jadi Pusat Diplomasi Strategis Indonesia–Tailan
Presiden Prabowo Subianto menerima jajaran pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 3 Agustus 2026. Foto: BPMI Setpres

 

Selain membahas kepentingan bilateral, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Tailan Anutin Charnvirakul memanfaatkan pertemuan di Jakarta untuk menyamakan pandangan mengenai berbagai isu regional dan global yang menjadi perhatian bersama.

Sebagai dua negara pendiri ASEAN, Indonesia dan Tailan menegaskan kembali komitmen menjaga persatuan serta sentralitas ASEAN di tengah meningkatnya dinamika geopolitik, persaingan ekonomi, dan tantangan keamanan kawasan.

Presiden Prabowo menilai ASEAN harus tetap menjadi pilar utama stabilitas Asia Tenggara sekaligus mampu merespons berbagai tantangan lintas negara melalui kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara anggotanya.

Dalam pembahasan mengenai Myanmar, kedua pemimpin menyatakan dukungan terhadap implementasi Five-Point Consensus sebagai dasar penyelesaian krisis yang dihadapi negara tersebut. Indonesia dan Tailan menilai penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog yang inklusif, penghentian kekerasan, serta perluasan akses bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Kedua negara juga bertukar pandangan mengenai perkembangan di Timur Tengah. Presiden Prabowo menegaskan pentingnya penyelesaian setiap konflik melalui jalur diplomasi, penghormatan terhadap hukum internasional, serta upaya menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Tailan tidak hanya berfokus pada kepentingan bilateral, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kontribusi kedua negara terhadap stabilitas kawasan dan dunia.

Usai pertemuan bilateral, Presiden Prabowo dan PM Anutin menyampaikan pernyataan pers bersama yang merangkum berbagai hasil pembahasan. Keduanya menegaskan komitmen mempercepat pelaksanaan peta jalan kemitraan strategis melalui langkah-langkah konkret di berbagai sektor.

Rangkaian kunjungan resmi kemudian ditutup dengan jamuan santap malam kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Prabowo di Istana Negara sebagai bentuk penghormatan kepada PM Anutin dan delegasi Kerajaan Tailan.

Kunjungan resmi PM Anutin ke Jakarta menjadi penanda dimulainya fase implementasi kemitraan strategis yang sebelumnya telah disepakati kedua negara. Berbagai kesepakatan yang dicapai dalam bidang keamanan, pertahanan, perdagangan, investasi, pangan, energi, ekonomi digital, industri halal, hingga konektivitas menjadi fondasi baru bagi hubungan Indonesia dan Tailan.

Bagi Indonesia, penguatan hubungan dengan Tailan memperluas peluang kerja sama dengan salah satu mitra penting di Asia Tenggara. Bagi Tailan, Indonesia tetap menjadi mitra strategis dengan pasar besar, sumber daya yang melimpah, dan posisi geopolitik yang berpengaruh di kawasan.

Di tengah ketidakpastian global, penguatan hubungan kedua negara mencerminkan komitmen untuk membangun kawasan yang lebih stabil, aman, dan sejahtera melalui kerja sama yang saling menguntungkan. Kesepakatan yang lahir di Jakarta tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga mempertegas peran Indonesia dan Tailan sebagai dua negara pendiri ASEAN yang terus mendorong organisasi regional tersebut tetap relevan dalam menghadapi tantangan masa depan.

Pada hari yang sama, Presiden Prabowo juga menerima jajaran pimpinan MPR RI yang dipimpin Ketua MPR Ahmad Muzani di Istana Merdeka. Pertemuan itu membahas persiapan Sidang Tahunan MPR 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Agustus, peringatan Hari Konstitusi dan Hari Ulang Tahun MPR pada 29 Agustus 2026, serta penyerahan konsep Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN).

Menurut Ahmad Muzani, Presiden mendukung penyusunan PPHN sebagai pedoman pembangunan nasional lintas pemerintahan dan menyerahkan mekanisme pembahasannya kepada MPR sesuai kewenangan.

Kendati,  berakhirnya rangkaian kunjungan tersebut, Jakarta tidak hanya menjadi tuan rumah pertemuan bilateral, tetapi juga menjadi titik awal penguatan agenda strategis Indonesia–Tailan yang diharapkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara serta memperkokoh stabilitas dan kerja sama di kawasan Asia Tenggara. (S/S).