Oleh Nawa Inay

HARI ini terlihat gelap dari biasanya, padahal waktu baru menunjukan pukul 16.02 WIB. Dari balik jendela ada seorang pria sedang menatap ke arah luar, tidak ada celah sedikit pun untuk matahari menyinari kota karena awan gelap sudah menutupi sepenuhnya.

“Jerry, lembur?” Pria yang memiliki nama tersebut refleks memutarkan kepalanya, dan mengangguk cepat. Lalu, kembali fokus ke depan komputernya.

“Besok weekend padahal. Orang-orang udah ambil start duluan, tuh.” Liam berjalan mendekat ke arah Jerry dengan secangkir kopi di tangannya yang baru saja ia seduh.

“Justru biar weekend gua gak terganggu, makanya gua lemburin sekarang!”

“Lu sendiri kenapa belum balik, tuh?” Jerry melemparkan pertanyaan balik kepada Liam yang dibalas dengan suara menyeruput kopi.

Jerry menggelengkan kepalanya dan berdiri untuk peregangan badan, Liam hanya terkekeh pelan dan mengikuti Jerry ke mana pun. Mereka kini berada di dapur milik perusahaan dengan sedikit perbincangan membahas kantor yang tampak sepi sepanjang lorong-lorong yang mereka lewati. Hanya ada beberapa lampu yang masih menyala di beberapa divisi berbeda.

Kegiatan Jerry dan Liam sudah selesai dari sejam yang lalu, mereka pun sudah kembali kepada pekerjaannya masing-masing. Waktu demi waktu berlalu menunjukan pukul 17.45 WIB, Jerry sedikit melirik ke arah luar jendela lagi untuk memastikan cuaca, hujan rintik sudah membasahi kota.

Sebuah notif masuk dari aplikasi hijau, memunculkan pesan dari kontak dengan nama ‘Wifey’ berhasil mengalihkan pandangan Jerry dan membuatnya dengan cepat mengambil ponsel, sebuah senyum terukir saat melihat pesan dari istrinya.

[Sayang, cepet pulang].

[Aku udah masak banyakk …]

[Ada kesukaan kamu juga, loh.]

Jerry sudah sampai di lantai basement tempat mobilnya terparkir. Pintu lift terbuka, lampu yang biasanya terang kini terasa redup. Saat pria itu melangkahkan kaki keluar lift, terasa angin kencang menerpa badannya. Namun, ia tak mempedulikan suasana mencekam dan dingin itu. Jerry segera masuk ke mobil dan meletkakan barang yang dibawanya. Kemudian segera melaju pulang ke rumah.

Lalu lintas terlihat ramai, namun tidak ada kemacetan. Ditemani rintik hujan yang perlahan mulai deras sepanjang perjalanan, Jerry juga merasakan hal yang tidak enak tapi ia menepis semua hal itu.

Setiba di rumah hujan turun sangat deras, Jerry memasukkan mobilnya ke dalam teras. Ia turun dari mobil dan sedikit berlari ke arah pintu gerbang yang tadi terbuka kemudian menutupnya kembali. Jerry membuka pintu rumah yang tak terkunci, air menetas dari rambut yang basah kuyup.

Hal pertama yang menyambut pria itu adalah suasana remang-remang yang mencekam. Semua cahaya lampu hari ini terasa lebih redup dari biasanya. Jerry menelusuri rumah mencari istrinya yang ternyata berada di dapur membelakanginya.

Baca Juga :  Sajak-Sajak Budhi Setyawan

“Sudah pulang, Mas?” Jerry sedikit terkejut karena sang istri menyadari keberadaannya.

Iyaa, aku ganti baju dulu, agak basah soalnya,” tak ada jawaban dari sang istri yang masih sibuk memotong sayur. Jerry bergegas untuk membersihkan dirinya.

Jerry saat ini sudah duduk di meja makan, di hadapannya sangat banyak hidangan yang dibuat sang istri. Namun, yang berbeda dari makan malam hari ini ia tak melihat Jio, putra kecilnya.

“Abang di mana, Sayang?” tanya Jerry saat sang istri duduk di hadapannya dengan wajah yang tak bisa diartikan.

“Kok kamu duduk di depan aku?” Jerry kembali bertanya kepada sang istri yang tak biasanya mau duduk berhadapan, karena di situ tempat duduk yang biasanya diduduki putra kecilnya.

“Jio… Aku titip ke Papa sama Mama,” jawabnya dengan nada yang tak biasa dan sedikit terjeda, membuat Jerry khawatir bahwa sang istri sedang tak enak badan.

“Kamu sakit?“ Jerry sedikit berdiri untuk mendekat namun sebelum tangan itu berhasil mendarat di kulit sang istri, ia langsung menjauhkan badannya. Jerry kembali terduduk, kemudian mulai memakan makanannya.

Tak ada percakapan, hanya ditemani iringan suara hujan yang semakin deras turun dan suara besi yang beradu dengan kaca. Sepanjang makan malam Jerry merasa banyak hal aneh hari ini, namun tak bisa diceritakan, padahal biasanya ia selalu bercerita kepada sang istri.

Ddrrtt … ddrrtt … drrt ….

Sebuah notif pesan masuk. Jerry segera membuka ponselnya dan mengecek apa isi pesan yang ternyata dikirimkan oleh putra kecilnya.

Jantung Jerry berdetak kencang, badannya tiba-tiba terasa lemas melihat pesan yang dikirimkan oleh putranya, ternyata ‘mereka’ sedang menginap di rumah mertuanya.

[Sayang…]

[Ini aku Alen]

[Hp aku ketinggalan di rumah, aku mau minta izin nginep di rumah Papa sama Mama].

[Kamu nanti nyusul, gak?]

[Aku nitip hp, yaa …]

Jari Jerry melemah seketika. Aura mencekam yang tadi tak Jerry gubris semakin kuat. Ia memberitahu Alen bahwa mereka sedang makan malam bersama sembari menyembunyikan raut wajah agar tidak dicurigai oleh ‘mahkluk’ yang mirip dengan sang istri.

Saking sibuknya dengan ponsel, Jerry tak sadar bahwa ia sudah diperhatikan. Tepat saat ia menutup ponselnya, wajah itu menatap dia dalam tanpa ekspresi. Kemudian mulai tersenyum tipis dan berjalan mendekatinya.

Jerry membeku ketika kulitnya disentuh oleh jari yang sangat dingin itu. Tak bisa berkutik, Jerry hanya bisa menutup matanya dan merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang.

“Sibuk banget sama ponsel, istrinya nge-chat, ya, Mas?” Suara dengan nada rendah itu menyapa telingannya membuat Jerry merasa merinding.

Jerry berusaha bangkit dari duduknya dan bergerak menjauh. Saat ia melihat wajah istrinya, wajah itu sudah berubah menjadi lebih hancur. Jerry berjalan mundur. Tak terima dijauhi, makhluk itu mencengkram leher Jerry dan mengangkatnya.

Baca Juga :  Dilema Penulis yang Bukunya Tak Dicetak Ulang Lagi

“Di mana Alen? Arggh LEPASH!” Jerry menggeram saat lehernya terasa seperti dicekik dan tubuhnya mulai tak memijak lantai.

“Alen. Alen. Alen. Selalu Alen. Kenapa?” Bentak makhluk itu dengan nada tak terima. Ia menatap Jerry dengan mata merah dan mengeluarkan darah.

“HARUSNYA YANG MATI ITU ALEN BUKAN AKU! AKU JADI SENDIRIAN GARA-GARA ALEN.”

Mahkluk itu mulai berteriak dan semakin mengencangkan cengkramannya.

*

Di lain sisi, Alen mulai memiliki firasat tak enak. Bersama kedua orang tuanya dan bergegas kembali ke rumahnya. Di perjalanan, ia terjebak macet. Sepanjang perjalanan Alen tak berhenti menangis di pelukan sang Mama, ia takut kalau harus kehilangan suaminya

Sesampainya di depan rumah, Alen langsung turun tanpa payung di bawah hujan deras. Ia menerobos membuka pintu gerbang yang terkunci sejak ia pergi. Alen menggedor-gedor pintu rumah dengan kasar.

“BUKAA! AKU MOHON TOLONG BUKA, ALIN… JANGAN AMBIL SUAMIKU, AKU MOHON…!”

Dari jendela yang mengarah ke dalam, ia melihat sang suami terkulai lemah dalam cengkraman mahkluk itu.

Papanya datang membawa alat untuk membuka paksa pintu itu. Setelah terbuka Alen bergegas masuk. Belum sempat mendekat ke arah suaminya, badannya ditarik oleh sang Mama ke dalam dekapannya.

Alen menangis melihat wajah sang suami yang berpaling ke arahnya dengan sisa-sisa tenaga sambil memanggilnya ‘sayang’, tanpa suara.

“Biar Papa saja,” sang Papa melangkah mendekat ke arah makhluk itu dan menantunya dengan hati-hati.

“Alin …” panggil lembut sang Papa kepada mahkluk itu yang tak lain adalah kembaran dari Alen yang sudah meninggal.

Alin mengalihkan pandangannya kepada suara yang memanggil namanya dengan lembut, ia semakin mencengkram Jerry.

“Papa mohon … lepasin, yaa?” Papanya berusaha membujuk Alin dengan tatapan sendu

“Hahaha …” Alin tertawa lirih.

“AKU KESEPIAN PA! AKU GAPUNYA SIAPA-SIAPA…!

Sedangkan Alen, Alen punya semuanya sekarang .…”

Suara yang awalnya menggelegar beradu dengan suara gemuruh petir dengan cepat berubah menjadi lemah.

“Lepaskan sekarang,” ucap sang Papa sedikit menegaskan omongannya. Alin menatap tak suka dan melepaskan cengkraman begitu saja membuat Jerry yang sudah di ambang kesadaran terempas. Dengan sigap, Alen dan mamanya mendekat ke arah Jerry untuk memberi pertolongan.

“Bahkan, sekarang Papa juga udah gak sayang aku, yaa? Papa bentak aku …” Alin seketika ambruk ke lantai dan mulai terisak.

Suasana mulai berubah menjadi kesedihan. Angin berembus kencang melalui pintu yang terbuka lebar, masih menampilkan hujan yang begitu deras dan sinar lampu jalanan membantu menerangi ruangan.

Kini sudah sampai ke titik terlemah Alin. Sang Papa mendekat dan berjongkok di hadapan Alin. Tangannya bergerak mengangkat dagu sang anak agar melihat ke arahnya. Tanpa rasa takut, sang Papa menatap dalam-dalam mata anaknya yang bersimbah darah, namun perlahan menghilang terganti dengan mata indah milik Alin.

Baca Juga :  Yang Sering Kita Abaikan Bernama "Literasi"

“Dunia kalian sudah berbeda, Nak. Papa mohon sama kamu jangan usik kehidupan Alen, Adek kamu hanya mau bahagia dengan keluarga kecilnya.” Hanya suara isak tangis Alin sebagai jawaban.

“Papa minta maaf, ya. Selama kamu ada bersama Alen, Papa dan Mama kurang baik dalam marawat kalian. Maafkan Papa, Mama, dan Adek yang belum bisa nemenin Kaka Alin di sana.” Sang Papa juga mulai mengeluarkan air matanya.

“Jangan lampiaskan dendam kamu kepada Adek, ya. Dia tak tahu apa-apa. Dia juga sama kayak kamu. semua ini salah Papa dan Mama, belum menjadi orang tua yang baik. Tapi, suatu saat nanti Papa janji kita bakal kumpul lagi di sana menemani Kaka Alin…” sang Papa mengusap air mata putrinya itu.

Alin mengangguk lalu melirik ke arah Alen yang sedang memeluk suami dan mamanya. Dituntun oleh sang Papa, Alin berjalan mendekati Alen dan mamanya.

“Alen… Mama… Kaka izin pamit, ya…” Alin terjatuh lagi, namun kini di hadapan Alen.

Dengan sang Papa yang sigap di belakangnya memeluknya, Alin tersenyum dan tubuhnya kini perlahan mulai berubah menjadi butiran debu yang berterbangan.

“Selamat tinggal. Maaf, Alen.” Ucap Alin sebelum benar-benar hilang dalam dekapan sang Papa bersamaan dengan hujan yang mereda.

Suara sirine ambulans menjeput suami Alen untuk segera diobati. Untungnya Jerry masih bisa berusaha sadar. Alen sedikit termenung menatap rumahnya sebelum benar-benar ikut masuk ke dalam mobil ambulans.

*

Sudah lebih dua minggu berlalu. Jerry pun sudah pulih dan diizinkan pulang ke rumah, namun mereka tak benar-benar pulang. Jerry dan Alen beserta putra kecil yang berada di gendongan Jerry berjalan menuju ke arah tempat pemakaman di mana Alin dimakamkan.

Alen menaruh bunga yang indah di atas makam bertuliskan nama ‘Alin Kanyaah’. Tanpa sepatah kata, Jerry memberi pelukan kecil kepada Alen lalu keluarga kecil itu beranjak pergi meninggalkan makam.

“Berbahagialah Alen… Adikku,” ucap bayang-bayang Alin yang muncul berada di samping makamnya menatap sang adik dan keluarga kecilnya menghilang dari pandangannya. []

Najwa Inayatin Nur. Nama pena Nawa Inaey. Masih berusia 16 tahun dan duduk di Kelas II SMKN 3 Karawang. Hobi membaca dan menulis.

Penulis: Najwa Inayatin Nur
Editor: Neneng J.K.

Catatan Redaksi:

BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.

Follow  InsertRakyat.com – ( whatsapp)