Oleh Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis.
AKADEMISI yang juga sastrawan, Dr. Wannofri Samry, M.Hum., melalui aplikasi biru, Rabu, 8 Juli 2026, menulis sebuah catatan kebudayaan yang menyorot dunia perbukuan di era digital. Saya membacanya dengan saksama. Catatan singkat itu mengandung kegelisahan yang layak didiskusikan lebih jauh.
Da Wan—demikian saya akrab menyapanya—mengemukakan bahwa kehadiran media digital melalui gawai pintar, media sosial, dan berbagai dokumen elektronik menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan buku cetak. Toko buku masih berdiri, baik luring maupun daring. Namun, denyutnya tidak lagi seramai dua atau tiga dekade lalu.
Pembeli buku cetak juga semakin terbatas. Mayoritas berasal dari generasi yang tumbuh pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Sementara itu, arus utama Generasi Z cenderung merasa kebutuhan informasinya telah terpenuhi oleh media sosial, video pendek, atau beragam platform digital.
Persoalan ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai perubahan medium membaca. Ia berkaitan erat dengan transformasi ekosistem pengetahuan. Menurunnya posisi buku cetak dalam kehidupan masyarakat berpotensi memengaruhi kualitas praktik literasi, terutama kemampuan membaca secara reflektif, membangun argumentasi, dan menghasilkan karya tulis yang lahir dari proses berpikir yang matang.
Di tengah situasi itu, penerbit masih bertahan. Banyak penulis tetap menulis. Universitas masih mendorong dosen menerbitkan buku. Para penyair bahkan terus menerbitkan antologi secara swadaya. Semua itu menunjukkan satu hal penting bahwa dunia perbukuan hari ini lebih banyak digerakkan oleh idealisme daripada hitung-hitungan bisnis.
Itulah yang saya anggap sebagai inti catatan kebudayaan Da Wan. Buku tetap hidup karena masih ada orang-orang yang percaya bahwa ia merupakan bagian penting dari peradaban. Namun, sudut pandang ini perlu diperluas. Yang sedang berubah bukan sekadar cara membaca, tapi juga keseluruhan ekosistem literasi kita.
Media digital memang menawarkan kemudahan luar biasa. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Semua serba cepat dan ringkas. Akan tetapi, kecepatan itu tidak serta-merta menggantikan pengalaman membaca sebuah buku secara utuh. Buku mengajak pembaca memasuki alur berpikir yang runtut. Ia melatih kesabaran, daya analisis, kemampuan menghubungkan gagasan, dan kedalaman berpikir.
Hal-hal seperti inilah yang makin sulit ditemukan dalam budaya konsumsi informasi yang serba instan.
Kita tentu tidak mungkin menolak kemajuan teknologi. Digitalisasi merupakan keniscayaan. Buku elektronik, perpustakaan digital, hingga platform membaca daring telah membuka akses pengetahuan yang jauh lebih luas. Banyak orang kini dapat membaca tanpa dibatasi ruang dan waktu. Menyikapi fenomena ini, persoalannya bukan memilih salah satu. Buku cetak dan media digital semestinya saling melengkapi.
Sayangnya, yang terjadi di lapangan justru ketimpangan. Anak-anak dan remaja semakin akrab dengan ponsel, tapi kian jauh dari buku. Mereka terbiasa menggulir layar berjam-jam, namun sulit berkonsentrasi membaca beberapa halaman tanpa terdistraksi. Akibatnya, kemampuan memahami bacaan panjang perlahan menurun. Padahal, berbagai riset pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan literasi mendalam sangat berkaitan dengan kecakapan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.
Di sinilah saya sependapat dengan tawaran Da Wan bahwa kecintaan terhadap buku harus dibangun kembali, terutama di lingkungan sekolah. Namun, pekerjaan besar ini tidak bisa dibebankan kepada guru semata.
Keluarga menjadi benteng pertama. Anak yang tumbuh di rumah yang memiliki perpustakaan keluarga, melihat orang tuanya membaca, dan terbiasa diajak berdiskusi, umumnya memiliki kedekatan yang lebih alami dengan buku. Sebaliknya, jika rumah sepenuhnya dikuasai layar gawai dan televisi tanpa pendampingan, sulit berharap anak akan mencintai aktivitas membaca.
Sekolah pun perlu menghadirkan pengalaman membaca yang menyenangkan. Perpustakaan jangan hanya menjadi ruang penyimpanan buku yang kaku. Perpustakaan harus menjadi ruang hidup yang ramai oleh diskusi, bedah buku, temu penulis, hingga kegiatan membaca bersama. Guru pun perlu didukung agar memiliki ruang dan waktu untuk menjadi teladan sebagai pembaca di sekolah.
Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar. Industri perbukuan tidak akan sehat jika hanya mengandalkan idealisme para penulis dan penerbit. Kebijakan pengadaan buku bermutu, penguatan perpustakaan daerah, insentif bagi penerbit independen, hingga dukungan terhadap toko buku lokal merupakan bagian dari investasi kebudayaan. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tapi sangat menentukan kualitas generasi mendatang.
Di sisi lain, komunitas literasi yang tumbuh di berbagai daerah juga layak mendapat perhatian khusus. Selama ini, mereka menjadi jembatan efektif antara buku dan masyarakat. Mereka menyelenggarakan lapak baca, diskusi sastra, kelas menulis, hingga festival literasi secara mandiri. Kehadiran mereka membuktikan bahwa semangat membaca belum padam; ia hanya membutuhkan ruang dan ekosistem yang sehat untuk terus tumbuh.
Masa depan buku cetak bukan semata ditentukan oleh perkembangan teknologi. Ia ditentukan oleh pilihan kebudayaan yang kita ambil hari ini. Apakah kita akan membiarkan generasi mendatang hanya akrab dengan potongan-potongan informasi yang datang silih berganti, atau tetap memperkenalkan mereka kepada buku sebagai ruang perenungan, dialog, dan pembentukan karakter.
Saya percaya buku tidak sedang sekarat. Kita butuh ekosistem yang kuat sebagai penopang. Menyelamatkan buku berarti menyelamatkan tradisi membaca. Menyelamatkan tradisi membaca berarti menjaga kemampuan bangsa ini untuk berpikir jernih, bernalar kritis, dan berimajinasi.
Sebagaimana diingatkan Dr. Wannofri Samry, penerbit masih bertahan bukan semata-mata karena keuntungan ekonomi, tapi lebih jauh karena idealisme, cinta kepada buku, dan tanggung jawab kebudayaan. Kini, tanggung jawab itu bukan lagi milik penulis dan penerbit saja. Ia telah menjadi tanggung jawab kita bersama. Dan, kita mafhum, setiap peradaban besar selalu dibangun oleh masyarakat yang menghargai buku. (Red).






