Oleh Supriadi Buraerah. 

SAYA selalu meyakini bahwa sebuah kota tidak pernah dapat dipahami hanya melalui peta atau cerita orang lain. Peta membantu kita menemukan arah, tetapi tidak mampu menjelaskan kehidupan yang tumbuh di dalamnya. Sebuah kota memperkenalkan dirinya melalui kebiasaan warganya, cara mereka menyapa, berbicara, bekerja, dan memperlakukan orang lain. Karena itulah saya penasaran lalu melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Solo belum lama ini. Saya tidak sekadar ingin berpindah tempat dalam tour literasi, tetapi ingin mengenal sebuah kota melalui pengalaman yang saya jumpai.

Singkatnya menjelang sore, saya singgah di sebuah kafe di kawasan Soloraya. Saya memesan kopi klotok dan telur dadar Hambalang. Seorang pelayan menghampiri sambil mencatat pesanan. Setelah beberapa saat memperhatikan saya, ia bertanya, “Mas baru pertama kali ke Solo, ya?”

Saya mengangguk.

“Kelihatan, ya?”

Ia tersenyum.

“Biasanya tamu yang baru datang membaca menu lebih lama. Mereka ingin tahu hampir semua yang ada di dalamnya.”

BACA JUGA :  Saya Mengerti Kamu Sedang Sedih, Mau Cerita?

Jawaban itu sederhana, tetapi membuat saya berpikir. Ia tidak mengenali saya karena pernah bertemu sebelumnya. Ia mengenali saya karena terbiasa mengamati. Pengalaman yang berulang membuatnya mampu membaca kebiasaan seseorang hanya dari cara memilih menu. Saya kemudian menyadari bahwa perhatian terhadap hal-hal kecil sering kali menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam daripada penilaian yang terburu-buru.

Percakapan singkat itu mengingatkan saya bahwa perjalanan bukan hanya tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan juga melatih cara kita memandang kehidupan. Kota yang meninggalkan kesan bukan selalu kota yang memiliki bangunan megah atau destinasi wisata yang terkenal, melainkan kota yang menghadirkan pengalaman sehingga kita pulang dengan pemahaman yang lebih luas.

Dari pengalaman sederhana itu saya kembali memikirkan makna literasi. Selama ini banyak orang masih memahaminya sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pandangan tersebut tidak keliru, tetapi belum cukup. UNESCO mendefinisikan literasi sebagai kemampuan mengenali, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengomunikasikan, dan menggunakan informasi dalam berbagai konteks kehidupan. Artinya, literasi bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan membaca kenyataan, memahami konteks, serta menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

BACA JUGA :  SINTESIS 2025: KPK Bentuk Armada Pemuda Anti Korupsi, Dari Literasi Menuju Aksi Terpadu

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan seperti itu semakin penting. Persoalan masyarakat saat ini bukan lagi kesulitan memperoleh informasi, melainkan kesulitan membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Literasi mengajarkan kita untuk memeriksa sumber, memahami konteks, menguji argumentasi, dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Kemampuan tersebut menjadi modal penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru ataupun opini yang dibangun tanpa dasar.

Kesadaran tentang pentingnya literasi juga tercermin dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang menempatkan budaya literasi sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Semangat yang sama juga terdapat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan pentingnya membentuk manusia yang berilmu, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Kedua regulasi tersebut menunjukkan bahwa literasi bukan sekadar kebiasaan membaca, melainkan fondasi bagi pembangunan kualitas manusia.

BACA JUGA :  Benarkah Pendidikan Untuk Semua?

Secangkir kopi klotok dan sepiring telur dadar Hambalang mungkin hanya bagian kecil dari sebuah cerita dan perjalanan. Namun, dari keduanya saya belajar bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang kuliah atau halaman buku. Kadang-kadang, ia hadir melalui percakapan yang singkat, perhatian sesama dan kesediaanya. Barangkali di situlah makna literasi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: kemampuan membaca bukan hanya apa yang tertulis, tetapi juga apa yang hidup di hadapan kita.