Oleh Afrianus Juang, Mahasiswa. 

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar istilah oversharing. Oversharing adalah perilaku membagi informasi pribadi kepada orang lain, baik secara langsung maupun secara tidak langsung lewat media sosial. Pada tulisan ini, penulis akan membuat kajian fenomena oversharing yang marak terjadi di media sosial. Perkembangan media sosial yang semakin pesat tentunya membuka peluang untuk terjadinya tindakan oversharing, sebab di media sosial sama sekali tidak ada batasan bagi seorang individu untuk berelasi dengan siapa saja dan kapan saja. Muhamad Iqbal dalam salah satu webinar menekankan bahwa kita mesti waspada terhadap social engineering atau menyerahkan informasi pribadi secara sukarela di media sosial (Kompas, 2021). Hal ini ditekankan karena maraknya tindakan oversharing yang terjadi dalam dunia media sosial. Oversharing dalam media sosial merujuk pada kebiasaan seseorang membagikan informasi pribadi secara berlebihan kepada sesama pengguna media sosial yang melampaui batas kewajaran. Bentuknya dapat berupa unggahan yang memuat percakapan pribadi atau detail kehidupan keluarga secara rinci (Kemenkeu, 2025).

Pada tulisan ini, saya akan membedah perilaku oversharing dari sudut pandang teori privasi komunikasi Sandra Petronio (Communication Privacy Management Theory). Sebelum masuk ke bagian inti, tentunya kita mesti mengenal Sandra Petronio dan teori privasi komunikasi yang digagaskannya. Sandra Petronio (1949–2024) adalah seorang profesor komunikasi dari Amerika Serikat. Ia adalah seorang peneliti yang sangat dihormati dalam bidang privasi, batasan, dan kerahasiaan. Petronio lahir pada 9 Maret 1949 dan menghembuskan napas terakhirnya pada 20 April 2024.

Sandra Petronio (Heryanto, 2019) dalam bukunya Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure menekankan bahwa komunikator seharusnya memiliki pertimbangan dan pilihan peraturan sendiri mengenai apa yang harus dikatakan dan apa yang harus disimpan dari publik. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang mengelola informasi pribadi, menentukan batas privasi, serta memutuskan kepada siapa informasi tersebut dapat dibagikan. Sangat penting bagi kita untuk memilih informasi tentang diri kita yang bisa dibagikan kepada orang lain dan informasi yang hanya menjadi konsumsi pribadi. Teori ini sangat penting karena mampu menjelaskan mengapa konflik komunikasi sering terjadi akibat pelanggaran privasi atau ketidaksepahaman dalam menjaga informasi pribadi.

Pada bagian ini akan dikaji beberapa kritik teori privasi komunikasi atas tindakan oversharing yang marak terjadi di media sosial.

Pertama, oversharing sebagai pelanggaran hak pribadi.

Sandra Petronio berpendapat bahwa setiap individu memiliki hak atas informasi pribadinya. Hak itu mestinya dijaga demi integritas seorang individu. Jika informasi yang bersifat pribadi diketahui khalayak umum atau disebarkan, maka secara tidak langsung seorang individu telah melanggar haknya sendiri. Jika ditinjau dari pendapat ini, perilaku oversharing adalah bentuk pelanggaran atas hak pribadi untuk menjaga informasi pribadinya terhadap khalayak umum. Pelaku pelanggaran ini adalah individu yang bersangkutan.

Informasi yang bersifat pribadi sudah seharusnya menjadi “milik pribadi”, sehingga seseorang memiliki kendali untuk membuka atau menutup informasi tersebut kepada orang lain. Ketika seseorang memutuskan untuk membagikan rahasia atau informasi pribadi kepada orang lain, maka orang tersebut secara tidak langsung memberikan akses kepemilikan bersama terhadap informasi tersebut. Dalam hal ini, seseorang telah melanggar hak pribadinya.

Kedua, oversharing sebagai turbulensi batas privasi.

Fenomena oversharing yang sering terjadi di media sosial adalah bentuk turbulensi batas privasi seorang individu. Turbulensi privasi dalam hal ini adalah bentuk guncangan terhadap batasan antara hal-hal yang bersifat privat dan hal-hal yang bisa dikonsumsi publik. Di media sosial, kita sering kali menemukan beberapa orang yang membagikan informasi personal secara berlebihan kepada publik. Perilaku ini, jika ditinjau dari teori Communication Privacy Management Theory yang dikemukakan oleh Sandra Petronio, merupakan bentuk kerusakan antara batasan hal-hal privat dan hal-hal yang bersifat publik (Petronio, 2002).

Pada hakikatnya, setiap individu memiliki hak untuk mengatur batasan informasi pribadinya. Namun, ketika seseorang melanggar privasinya sendiri, hal ini akan memunculkan konflik dan ketidaknyamanan dalam relasi sosial, baik di media sosial maupun dalam ruang nyata. Dengan demikian, oversharing bukan sekadar kebiasaan berbagi cerita pribadi, melainkan juga bentuk kegagalan dalam mengelola batas privasi di ruang digital.

Ketiga, oversharing antara keterbukaan dan ketertutupan.

Salah satu fenomena yang terjadi adalah orang-orang kadang tidak bisa membedakan antara keterbukaan dan oversharing. Banyak orang melakukan oversharing hanya karena pemahamannya yang tipis mengenai perbedaan antara keterbukaan dan oversharing. Dalam teori Communication Privacy Management (CPM) Sandra Petronio, privasi bukanlah penyembunyian, melainkan pengelolaan batas-batas informasi yang dinamis dan kontekstual. Dengan demikian, masyarakat yang gagal membedakan keterbukaan dan ketertutupan sebenarnya sedang mengalami kekacauan batas. Sementara itu, kebanyakan masyarakat melihat privasi sebagai sikap eksklusif terhadap masyarakat.

Petronio menekankan bahwa setiap individu memiliki privacy boundaries. Fenomena oversharing di media sosial menjadi bukti nyata: orang membagikan informasi pribadi kepada ribuan orang tanpa melihat dan memahami aturan kolektif tentang penyebaran, akibat, dan durasi informasi tersebut, sehingga melanggar premis CPM bahwa berbagi berarti menciptakan aturan bersama.

Akhirnya, oversharing adalah fenomena yang dapat merusak integritas kita sebagai individu yang utuh dan memiliki privasi. Perilaku ini merupakan bentuk kekurangan masyarakat dalam membedakan oversharing dan keterbukaan. Selain itu, fenomena ini juga merupakan bentuk penghancuran batas antara hal-hal yang bersifat privat dan hal-hal yang dapat dikonsumsi oleh publik. Oversharing dapat diatasi dengan memberikan pemahaman mengenai penggunaan media sosial serta tentang hal-hal yang bersifat pribadi dan umum. Pemahaman yang baik tentang penggunaan dan batasan privasi di media sosial akan membuat pengguna media sosial semakin bijak dalam bermedia sosial.