Oleh Muhammad Subhan

JAGAT lini masa media sosial, Kamis, 9 Juli 2026, diramaikan ucapan belasungkawa atas berpulangnya penyair dan dramawan Indonesia asal Sumatra Barat, Muhammad Ibrahim Ilyas, atau akrab disapa Bram. Da Bram beberapa kali masuk rumah sakit di Jakarta karena kondisi kesehatannya menurun.

Pun di grup-grup WhatsApp, kabar duka itu berseliweran. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….

Selamat jalan, Da Bram….

Saya mengingat beberapa momen bersama penyair yang suaranya pelan-lembut, namun bertenaga ini. Terakhir sekamar bersama Da Bram pada kegiatan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) II Juli 2017 di Convention Center Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. Saat itu, Da Bram juga dalam kondisi sakit.

Walau sakit, ia tetap berangkat ke Jakarta, meski beberapa kali dalam momen musyawarah itu ia memilih berbaring di kamar. Beberapa sastrawan yang hadir turut membesuk Da Bram, memberi semangat dan kekuatan.

Foto : Da Bram bersama sastrawan Gus tf Sakai dan Sosiawan Leak menjadi juri Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional 2017 dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-227 Kota Padang Panjang.

Selesai kegiatan Munsi, Da Bram konsisten bertungkus lumus di dunia kreatifnya. Di laman Facebook-nya, saya selalu membaca potongan-potongan puisinya yang mengandung banyak tafsir. Ia menulis:

“itu sudah tetap, pertemuan ada tiada ada, ibarat ikrar siang kepada malam, bagai perjalanan awan, hujan dan bengawan. tak perlu membubuhkan tandatangan, sidik jari kau dan aku sudah terpeta. aksara langit menulis bumi, berita senja membaca kegelapan, kabar dinihari menggetar fajar.

Abad menjelajah musim, ibuku ibumu mengisak rahim. sebelum pagi benar berlabuh, tubuhkan subuhmu. jam, tanggal, hari, bulan dan tahun itu sudah menyiapkan kerandaku. setiap pangkal mengikat ujungnya, semua hulu menghilir muaranya.”

Dalam banyak pertemuan sastra lainnya, saya kembali bertemu Da Bram. Seperti pada 2016 kami bersua di perhelatan Temu Penyair 8 Negara di Banda Aceh. Begitu juga pada tahun yang sama, kami bertemu lagi dalam kegiatan silaturahmi seniman Sumatera Barat di “Istana Rakyat Selaras Alam”, Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam.

Foto : Di sela-sela sarapan pagi di sebuah penginapan, saya (Subhan) dan Da Bram hadir di Pertemuan Penyair 8 Negara di Banda Aceh, 2016.

Pada 2017, saya mengusulkan Da Bram sebagai salah seorang juri Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional 2017 dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi ke-227 Kota Padang Panjang di Objek Wisata Rumah Gadang PDIKM Padang Panjang. Acara itu dibuka secara resmi oleh Wali Kota Padang Panjang yang diwakili Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah. Hadir pula dua juri lainnya, Sosiawan Leak dari Solo dan Gus tf Sakai dari Payakumbuh.

Begitulah Da Bram. Ia datang ke panggung-panggung sastra bukan sebagai tamu yang sekadar memenuhi undangan, sebaliknya sebagai seseorang yang selalu menaruh hidupnya di sana. Dalam tubuhnya yang kerap digerogoti sakit, tetap menyala kesetiaan yang tak banyak orang miliki, yaitu kesetiaan pada puisi, teater, dan pada dunia batin yang ia rawat dengan keheningan. Ia tidak gaduh. Ia tidak sibuk mempromosikan diri. Ia bekerja diam-diam, tapi jejaknya panjang.

BACA JUGA :  Euforia Kelulusan, Seragam Sekolah, dan Sebuah Pelajaran tentang Empati
Foto : Saya (Subhan) dan Da Bram memenuhi undangan silaturahmi seniman Sumatera Barat di “Istana Rakyat Selaras Alam”, Nagari Lasi, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, 2016.

Membaca Da Bram, saya selalu merasa berhadapan dengan seorang penyair yang sejak lama akrab dengan kefanaan. Puisi-puisinya seakan tidak pernah jauh dari bayang-bayang waktu, tubuh, perpisahan, juga maut. Namun, ia tidak menuliskannya sebagai ratapan. Ia menuliskannya sebagai penerimaan yang lirih, kadang getir, tapi bening. Seolah-olah ia tahu bahwa hidup pada akhirnya hanyalah perjalanan singkat menuju pulang.

Dalam salah satu sajaknya, “Sublimasi”, yang termuat dalam buku Syair dalam Sekam (2017), ia menulis:

“karena cahaya tetap menggeliatkan malam, tak ada salahnya memelihara niat untuk berdoa. semua sumur dan mata air barangkali telah bertuba, musim menggugurkan melur dan kenanga. bagaimanapun, kau dan aku sedang menuju tiada.”

Larikan itu kini terasa begitu dekat dengan kabar kepergiannya. Ada semacam firasat puitik yang sejak lama ia rawat dalam sajak-sajaknya. Bukan ramalan, tentu saja, melainkan kesadaran eksistensial seorang penyair bahwa tubuh manusia tak pernah benar-benar berkuasa atas nasibnya. Kita hanya bisa memelihara niat, menjaga nyala, dan pada waktunya menerima bahwa semua yang datang akan pergi.

Di WAG Komunitas Seniman Tambud, penyair Jose Rizal Manua menulis sepotong sajak bertajuk “Selamat Jalan Bram”. Ada duka yang terasa sangat personal di sana, sekaligus pengakuan bahwa Bram adalah penyair yang hidup di dalam bahasa. Jose Rizal Manua menulis:

“langit berbenah dalam darah, menyusun kanji sunyi karena hari penghabisan segera tiba. aksara bertapa dalam isak, malam bertanya-tanya kenapa purnama nircahaya. kau dan aku tak bisa berhenti memperdebatkan ranjang atau keranda.

Rindu mengaji dalam nadi, guruh memenuh subuh. berkemaslah, simpan tambo seppuku atau harakiri, limit bendungan terbuka ada tiada cakrawala. waktu tak akan berdebu, kau dan aku merumah umrah yang sama.”

Sajak Jose Rizal Manua itu bukan semata ungkapan duka, lebih dari itu juga penghormatan dari seorang sahabat sesama seniman kepada penyair yang sepanjang hidupnya setia memelihara kata-kata.

Jurnalis senior dan sastrawan Yurnaldi di media online Padanginfo.com menulis obituari bertajuk “Muhammad Ibrahim Ilyas, Penyair yang Telah Menemukan Jalan Pulang”. Yurnaldi menulis: “Kabar itu datang seperti petir di siang bolong. Muhammad Ibrahim Ilyas telah berpulang. Sulit mempercayainya. Sebab, hanya beberapa jam sebelumnya, ia masih ‘berbicara’ kepada kita melalui dinding Facebook. Bukan dengan keluhan, bukan pula dengan kabar sakit. Ia berbicara dengan puisi: ‘Pulang… ke mana? Pulang’.

Tiga baris pendek itu, tulis Yurnaldi, kini berubah menjadi kalimat yang menggema. Setelah kepergiannya, kita membacanya bukan lagi sebagai permainan bahasa seorang penyair. Ia terasa seperti sebuah renungan yang mencapai titik akhirnya. Saya kira, pembacaan seperti itu tidak berlebihan. Sebab, pada diri Da Bram, puisi memang bukan tempelan hidup. Puisi adalah cara ia memandang dunia, cara ia berbicara, dan mungkin juga cara ia menyiapkan perpisahan.

BACA JUGA :  Sajak-Sajak Budhi Setyawan

Yurnaldi juga menulis, sebagai sahabat ia merasa kehilangan seorang penyair yang memilih berbicara dengan metafora ketika dunia semakin gaduh oleh teriakan. Sebagai wartawan, ia melihat kepergian Bram bukan sekadar berita duka, tapi kehilangan satu suara kebudayaan yang selama puluhan tahun menjaga nyala sastra di Sumatra Barat, bahkan Indonesia. Saya sepakat. Kepergian Da Bram bukan hanya kehilangan bagi keluarga, sahabat, atau komunitas teater tempat ia bernaung, sebaliknya kehilangan bagi ekosistem kebudayaan kita yang semakin sepi dari sosok-sosok tekun seperti dirinya.

Muhammad Ibrahim Ilyas lahir di Padang, 28 Januari 1963. Sastra dan teater telah ia geluti sejak remaja. Pada akhir 1970-an ia bergabung dengan Bumi Teater di bawah asuhan budayawan Wisran Hadi. Dari rahim proses kreatif itulah ia tumbuh sebagai seniman yang tak hanya menulis, tapi juga menghidupkan teks di atas panggung. Bram kemudian mendirikan Teater Semut, Sanggar Pasamaian, hingga Teater Imaji. Ia juga menempuh pendidikan teater di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, sebuah jejak yang memperkaya pergulatannya di dunia pertunjukan.

Pada 2017, melalui naskah drama Dalam Tubuh Waktu, ia menerima Penghargaan Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun, seperti banyak seniman yang benar-benar bekerja dari kedalaman, Bram tidak menjadikan penghargaan sebagai puncak. Dalam wawancara bersama tim Badan Bahasa, ia justru dengan rendah hati mempertanyakan kepantasan dirinya menerima penghargaan itu, sementara banyak penulis lain yang juga bekerja dengan sungguh-sungguh. Kerendahan hati seperti itu terasa khas Da Bram: tenang, tak berisik, dan lebih sibuk memikirkan nasib kesusastraan daripada nasib namanya sendiri.

Dalam wawancara itu pula, ia berharap penghargaan yang diterimanya dapat mendorong tumbuhnya penulis-penulis drama baru, karena genre ini tidak banyak diminati. Kalimat itu penting dicatat. Di tengah kecenderungan sastra yang sering menempatkan puisi dan prosa sebagai pusat perhatian, Da Bram justru memikirkan masa depan drama. Ia tahu, naskah drama di Indonesia tidak selalu mendapat tempat yang luas, padahal di sanalah teater bertumbuh, di sanalah kemungkinan dialog dengan masyarakat bisa berlangsung lebih hidup.

Karya-karya Da Bram memperlihatkan keluasan minat dan ketekunannya. Ada Enam Kuntum Imaji, kumpulan berisi dua belas cerita pendek dari anggota Teater Imaji. Ada pula Ziarah Kemerdekaan, kumpulan puisi yang memuat 52 puisi pilihan yang ditulisnya sejak 1979 hingga 2014. Sejak usia 16 tahun ia telah menulis puisi dan naskah drama. Ia pernah menjadi redaktur media di Padang, Yogyakarta, dan Jakarta. Ia juga pernah mengikuti pertukaran seniman teater ke Jepang. Da Bram memang seniman multitalenta. Ia terlibat hampir di semua bidang seni di Sumatera Barat, meski teater dan puisi tetap menjadi rumah terdekatnya.

BACA JUGA :  Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Namun, barangkali yang paling menggetarkan dari sosok Da Bram justru bukan daftar prestasinya, tapi ketekunannya menjaga laku kesenian itu sendiri. Ia menulis dalam sakit. Ia berkarya dalam keterbatasan. Ia hadir di forum-forum sastra ketika tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Ia tetap percaya bahwa kata-kata perlu dirawat, bahwa panggung perlu dihidupkan, bahwa puisi masih harus ditulis meski dunia makin bising dan serba tergesa.

Di laman Facebook-nya, pada 2 Juli 2026, ia menulis:

“keberangkatan tiba, aku
membaca sunyi di detak
sepatumu. aku tak dapat
menjadi kenangan, awan
manapun membingkai
siangmalammu. aku tak
mencegahmu karena rindu
membenih warnawarni.
nyeri berlayar jadi mahar
dan denyut janji abadi.
alam ini fana dan doa
melampaui usia.”

Membaca larik-larik itu hari ini, rasanya seperti membaca seorang penyair yang sedang menatap ambang. Ada sunyi, ada nyeri, ada keberangkatan, ada doa yang melampaui usia. Dan sehari sebelum kabar duka itu datang, Rabu, 8 Juli 2026, di dinding Facebook-nya, Da Bram menulis kalimat pendek yang kini terasa begitu mengguncang: “pulang… ke mana? ke pulang”.

Foto : “Syair dalam Sekam” (2017), salah satu buku Da Bram di perpustakaan pribadi milik saya (Muhammad Subhan), di dangau saya di kaki Gunung Singgalang, Padang Panjang.

Mungkin memang demikianlah penyair. Ia pergi, tapi meninggalkan gema. Tubuhnya terbujur, tapi kata-katanya terus bergerak dari satu pembaca ke pembaca lain.

Dan, Da Bram telah berpulang, tapi puisi-puisinya masih akan tinggal. Naskah-naskah dramanya masih akan dibaca. Kenangan tentang suaranya yang pelan-lembut namun bertenaga akan terus hidup dalam ingatan kawan-kawannya. Begitu juga keteladanannya sebagai seniman yang bekerja tanpa banyak bunyi, tapi setia.

Semoga segala jalan sunyi yang telah terlampaui bermuara pada cahaya terbaik di sisi-Nya. Semoga puisi-puisimu menjadi saksi bahwa engkau pernah merawat bahasa dengan sepenuh jiwa. Dan semoga kami yang tinggal dapat belajar satu hal penting darimu: bahwa kesenian bukan semata perkara tepuk tangan dan sorak sorai, penghargaan, atau sorot lampu panggung, melainkan kesediaan untuk terus menjaga muruah, bahkan ketika tubuh mulai renta dan dunia terasa kian asing.

Selamat pulang, Da Bram. “Ke pulang”. (MUHAMMAD SUBHAN).