Oleh Muhammad Subhan
SEBERAPA penting sosok atau figur dalam sebuah gerakan sosial dan kultural? Jawabannya: teramat krusial. Sebuah negara membutuhkan figur presiden yang mampu menjadi teladan moral. Sebuah partai politik memerlukan pemimpin yang cakap menggerakkan mesin kader di akar rumput. Demikian pula dengan organisasi kemasyarakatan atau komunitas lokal; eksistensi pimpinan memberikan arah, pengaruh, sekaligus legitimasi sosial pada gerakannya.
Di ranah pendidikan Indonesia, sejarah mencatat sebuah anomali yang indah. Jauh sebelum sistem persekolahan berorientasi pada standarisasi fasilitas dan zonasi, para orang tua mengantarkan anak-anak mereka ke institusi pendidikan bukan karena kemegahan gedung atau fasilitas digitalnya. Mereka melihat siapa yang memimpin dan mengelola lembaga tersebut.
Di Sumatera Barat, misalnya, orang tua berbondong-bondong menitipkan masa depan anak mereka ke Ruang Pendidik INS Kayutanam karena di sana ada sosok Engku Mohammad Syafei. Pelajar perempuan dari berbagai pelosok ramai memenuhi Perguruan Diniyyah Puteri karena magnet figur “Etek Amah” Rahmah El Yunusiah. Tradisi serupa hidup subur di pesantren-pesantren legendaris: di Parabek ada Inyiak Parabek (Syekh Ibrahim Musa), di Jaho ada Syekh Muhammad Djamil Jaho, dan di Adabiah ada Syekh Abdullah Ahmad. Bahkan, pada corak pendidikan surau yang paling tradisional dengan sistem halaqah di Surau Jembatan Besi Padang Panjang, daya tariknya terletak pada karisma Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), ayahanda Buya Hamka.
Tradisi penghormatan pada figur ini juga mengakar kuat di Aceh. Para orang tua sejak zaman lampau menyekolahkan anak-anak mereka ke dayah (pesantren) yang memiliki basis ketokohan ulama yang kharismatik dan mendalam keilmuannya. Di Aceh Utara terdapat Abu Tumin dengan Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng; di Samalanga ada Abu MUDI; di Pidie ada Abu Kuta Krueng dengan Dayah Darul Munawwarah. Sementara di Aceh Timur, magnet pendidikan Islam itu ada pada Abu Paya Pasi dengan Dayah Bustanul Huda, dan di Bireuen ada Tgk. H. Muhammad Walie Al-Khalidie melalui Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah.
Figur-figur ulama tersebut, lewat kedalaman ilmu dan keluhuran akhlaknya, bertransformasi menjadi rujukan utama masyarakat. Bagi para orang tua, ada kebanggaan dan ketenangan spiritual tersendiri ketika anak-anak mereka mereguk ilmu langsung di bawah bimbingan sang tokoh.
Pola serupa jamak ditemui di luar Aceh dan Sumatera Barat. Ketokohan seorang pendiri organisasi menjadi simbol integrasi dan ruh pergerakan. Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari figur K.H. Ahmad Dahlan. Taman Siswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) ada sosok Ki Hadjar Dewantara. Begitu pula Nahdlatul Ulama (NU) yang identik dengan barisan tokoh utamanya seperti K.H. Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar, K.H. Abdul Wahab Chasbullah, K.H. Bisri Syansuri, K.H. Mas Alwi Abdul Aziz—sang pencetus nama NU—serta sokongan spiritual dari Syekh Kholil Bangkalan.
Figur-figur itu bukanlah sekadar papan nama penunjuk arah, lebih jauh dari itu jangkar keteladanan yang memastikan bahtera gerakan tidak limbung diterjang badai zaman. Mereka mengonversi gagasan abstrak menjadi laku konkret yang dapat ditiru oleh massa.
Mengontekstualisasikan sejarah ketokohan ini ke era kontemporer, kita akan melihat pola yang sama pada ranah gerakan literasi. Di tingkat nasional, figur Duta Baca Indonesia diposisikan sebagai tokoh literasi di garda terdepan. Kehadiran figur ini penting bukan sekadar untuk seremoni atau pemanis baliho dinas/intansi, melainkan sebagai intermedian antara kebijakan makro pemerintah dan kebutuhan mikro masyarakat. Duta Baca berperan mengamplifikasi urgensi membaca ke ruang publik, memecah kebekuan birokrasi, dan menginspirasi generasi muda melalui narasi hidupnya.
Turun ke level akar rumput, figur-figur penggerak di komunitas literasi atau Taman Bacaan Masyarakat (TBM) memegang peran yang tak kalah vital. TBM di berbagai daerah sering kali berdiri bukan karena sokongan dana korporasi, sebaliknya karena kegigihan satu atau dua orang figur lokal. Figur-figur inilah yang menjadi penggerak, motivator, dan penyemangat dari gerakan yang mereka hidupkan secara swadaya.
Tentu, di tengah arus skeptisisme modern, muncul kritik kontra-narasi yang menuduh bahwa sentralisasi gerakan pada figur berpotensi melahirkan kultus individu (personality cult) atau jebakan narsisme personal. Beberapa pihak kerap mempertanyakan, apakah popularitas sang figur benar-benar berdampak pada substansi gerakan membaca, atau jangan-jangan hanya demi panggung pribadi?
Kekhawatiran tersebut sah, namun meleset jika diterapkan pada gerakan literasi kesukarelaan. Ketokohan dalam gerakan literasi diuji oleh waktu dan konsistensi, bukan oleh algoritma media sosial. Ketika figur-figur komunitas literasi ini diundang sebagai narasumber, juri, atau fasilitator workshop, publik menghadirkan mereka karena rekam jejak, keahlian, dan dampak nyata gerakan yang telah mereka lakukan. Panggung-panggung tersebut bukanlah sarana pemuasan ego pribadi, melainkan mimbar edukasi untuk membagikan praktik baik (best practices) agar dapat direplikasi di tempat lain.
Fakta di lapangan justru menunjukkan ironi yang menyentuh: tak sedikit di antara para penggerak ini yang tidak dibayar sama sekali dari kerja-kerja kesukarelaan mereka. Mereka justru menyisihkan sebagian pendapatan pribadi untuk membeli buku, membuat kegiatan, atau membiayai operasional komunitas mereka. Di sini, kepemimpinan mereka divalidasi oleh pengorbanan, bukan fasilitas.
Dua kunci utama yang membedakan figur sejati dan sekadar “pemburu konten” adalah disiplin dan konsistensi. Menjaga nyala api literasi di tengah gempuran distraksi digital membutuhkan ketahanan mental yang luar biasa. Figur yang konsisten akan melahirkan institusi gerakan yang tangguh, sebab yang mereka wariskan bukanlah pemujaan atas diri mereka, melainkan pelembagaan nilai-nilai membaca, menulis, dan apa pun program yang digerakkan.
Kerja literasi bukanlah kerja semalam suntuk yang hasilnya bisa langsung dinikmati esok pagi. Dampaknya baru akan terasa bertahun-tahun kemudian, mewujud pada perbaikan indeks pembangunan manusia dan matangnya daya kritis sebuah bangsa. Bahkan, ketika figur-figur penggerak itu kelak telah tiada, nilai, gagasan, dan ekosistem yang mereka bangun akan tetap hidup, abadi mengalir dalam nadi generasi penerus. Kita membutuhkan figur, bukan untuk mendewakannya, melainkan untuk mempelajari bagaimana komitmen dirawat di tengah keterbatasan.
Kegemilangan literasi bangsa ini tidak akan lahir dari deretan angka statistik survei atau belanja buku maupun megahnya gedung perpustakaan jika kehilangan ruh keteladanan di akar rumput. Di tengah pudarnya kepercayaan publik terhadap formalitas birokrasi, kuasa figur lokal yang tulus bertindak sebagai oase penegak harapan. Merawat gerakan literasi berarti merawat para penggeraknya; memuliakan kontribusi kesukarelaan mereka tanpa perlu mengebiri esensi gerakannya demi komoditas politik atau panggung publisitas sesaat. Peradaban yang besar selalu tahu cara menghargai para penyala pelita di masa-masa gulita.
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Baca juga:
Ulasan InsertRakyat.com : Kegiatan PKK Aceh dan Tri Tito Karnavian di Palangkaraya


































