Oleh Muhammad Subhan
SETIAP kali sebuah buku terbit, orang kerap bertanya, “Berapa eksemplar terjual?” Pertanyaan itu wajar. Buku memang lahir melalui proses yang membutuhkan biaya, tenaga, dan waktu. Penulis, penerbit, percetakan, distributor, hingga toko buku sama-sama bekerja dalam sebuah mata rantai ekonomi. Tanpa bisnis yang sehat, dunia penerbitan sulit bertahan.
Namun, bagi sebagian penulis, termasuk saya, buku tidak selalu berhenti sebagai komoditas. Ada kalanya ia menjadi hadiah, tanda terima kasih, kenang-kenangan, atau bahkan investasi sosial yang hasilnya tidak bisa dihitung dengan angka.
Itulah sebabnya, tidak semua buku yang saya terbitkan berakhir di meja kasir. Kalau stok pribadi saya masih ada, baik dari jatah bukti terbit maupun yang saya beli sendiri dari penerbit, atau saya terbitkan secara mandiri, sebagian saya titipkan di perpustakaan, saya jadikan door prize dalam sebuah kegiatan, saya berikan secara cuma-cuma kepada bookstagrammer atau peresensi, atau saya hadiahkan sebagai kado ulang tahun teman dan hadiah pernikahan sahabat. Ada pula yang saya berikan kepada peserta pelatihan yang menunjukkan semangat belajar luar biasa.
Sebagian orang mungkin menganggap cara seperti itu sebagai kerugian. Mengapa buku yang bisa dijual justru dibagikan? Bukankah penulis juga membutuhkan penghasilan?
Pertanyaan itu tidak salah. Penulis memang berhak memperoleh manfaat ekonomi dari karya yang ditulisnya. Hak cipta dan sistem royalti menjamin hal tersebut. Saya pun tidak pernah menganjurkan agar semua penulis membagikan buku secara gratis, apalagi menuntut mereka abai pada kesejahteraan diri. Setiap penulis memiliki keadaan ekonomi, strategi, dan tujuan yang berbeda. Tidak ada satu resep yang berlaku untuk semua.
Akan tetapi, saya belajar bahwa nilai sebuah buku tidak selalu berakhir pada harga yang tercetak di sampul belakangnya. Ada nilai lain yang sering kali tumbuh justru setelah buku berpindah tangan tanpa transaksi jual beli.
Saya pernah mengalaminya.
Suatu hari, di sebuah kota, saya diundang mengisi pelatihan menulis oleh sebuah instansi. Pesertanya para pelajar sekolah menengah. Seorang siswa tampak begitu antusias. Ia berkali-kali mengangkat tangan, bertanya, berdiskusi, bahkan sesekali menyampaikan pendapat yang membuat suasana kelas menjadi hidup.
Di akhir kegiatan, saya menghadiahkan sebuah buku kepadanya. Saya melihat rasa ingin tahu yang besar dalam dirinya. Saya berharap buku itu menjadi teman perjalanan, bukan sekadar hadiah yang selesai dibaca lalu disimpan di rak.
Tahun-tahun berlalu. Kami tidak lagi sering bertemu, hingga suatu ketika saya mendapat kabar yang membahagiakan. Pelajar itu tumbuh menjadi seorang penulis. Ia mendirikan sekolah sendiri. Ia aktif membangun lingkungan belajar. Beberapa kali pula ia mengundang saya untuk mendampingi guru-guru dan para siswanya dalam pelatihan penulisan kreatif.
Setiap kali bertemu dengannya, saya selalu teringat pada buku yang pernah saya hadiahkan. Saya tentu tidak berani menyimpulkan bahwa keberhasilannya semata-mata karena buku itu. Terlalu berlebihan jika sebuah buku diklaim mampu mengubah hidup seseorang sendirian. Yang membentuk dirinya tetaplah kerja keras, ketekunan, lingkungan yang mendukung, guru-guru yang baik, keluarga, serta pilihan-pilihan yang ia ambil sendiri.
Namun, saya juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa sebuah buku, pada saat yang tepat, dapat menjadi percikan kecil yang menyalakan api besar. Dalam kehidupan, perubahan sering kali memang berawal dari hal-hal yang tampak sederhana.
Pengalaman seperti itu bukan hanya sekali saya alami. Ada buku yang saya hadiahkan kepada seorang pembaca, lalu beberapa tahun kemudian ia menjadi mitra dalam sebuah program literasi. Ada pula buku yang saya berikan kepada seorang guru, kemudian menjadi bahan diskusi di kelas yang melahirkan kegiatan menulis di sekolahnya. Bahkan ada yang awalnya hanya menerima buku sebagai kenang-kenangan, kemudian menghubungi saya untuk mengadakan pelatihan bagi komunitasnya, atau bentuk kerja sama lainnya yang menguntungkan.
Hubungan-hubungan semacam itu tidak dapat dihitung dengan laporan penjualan. Ia bergerak dalam ruang yang berbeda: ruang kepercayaan, silaturahmi, dan kebermanfaatan. Secara tidak langsung, jejaring sosial inilah yang kelak membuka pintu-pintu profesional baru bagi saya.
Di sinilah saya percaya bahwa buku memiliki lebih dari satu takdir. Ada buku yang memang harus dijual agar penulis tetap bisa berkarya dan penerbit tetap dapat mencetak buku-buku berikutnya. Ada pula buku yang justru menemukan kebermanfaatannya ketika diberikan kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat.
Memberikan buku, bagi saya, bukan berarti meremehkan nilai ekonomi buku. Justru sebaliknya, saya menghargai buku sedemikian rupa sehingga saya ingin ia terus bekerja setelah meninggalkan tangan saya. Sebuah buku yang dibaca lalu menggerakkan seseorang untuk menulis, mengajar, atau membangun komunitas literasi sering kali menghasilkan manfaat yang jauh melampaui harga jualnya.
Barangkali inilah bentuk lain dari “investasi”. Bukan investasi finansial yang hasilnya langsung tampak di rekening, sebaliknya investasi sosial yang panennya datang bertahun-tahun kemudian. Kadang panennya berupa persahabatan, kepercayaan, atau berupa kesempatan berkarya bersama. Dan kadang hanya berupa kabar sederhana bahwa seseorang kembali gemar membaca dan menulis.
Bukankah itu juga sebuah keuntungan?
Di tengah kehidupan yang semakin tergesa dan menilai segala sesuatu dengan ukuran untung-rugi, saya merasa penting menjaga ruang di mana buku tetap diperlakukan sebagai pembawa gagasan, bukan semata-mata barang dagangan. Dunia penerbitan membutuhkan pasar yang sehat, tapi kebudayaan juga membutuhkan kemurahan hati. Keduanya tidak perlu dipertentangkan, melainkan bisa berjalan beriringan.
Maka, selama masih memiliki stok dan kesempatan, saya akan tetap menyisihkan sebagian buku untuk diberikan. Bukan karena saya merasa paling dermawan, tapi lebih dari itu karena saya telah berkali-kali menyaksikan bahwa buku yang berpindah tangan dengan tulus sering kali menemukan jalan hidupnya sendiri.
Dan dari jalan-jalan kecil itulah, tanpa banyak disadari, lahir pertemuan-pertemuan, persahabatan, serta kesempatan-kesempatan yang tak pernah saya rencanakan sebelumnya. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah
































