Oleh Muhammad Subhan

KALAU ada waktu luang, biasanya saya ke Kubu Gadang. Ini desa wisata di Padang Panjang yang viral itu. Lanskapnya sawah dan gunung.

Kalau menjelang panen, sawah menguning. Atau sedang tumbuh, hijau saja yang tampak, sejauh mata memandang.

Kubu Gadang memang asyik. Selalu ramai orang datang. Berwisata.

Penggerak desa wisata ini seorang perempuan muda yang saya kenal sejak ia mahasiswi. Yuliza Zen, namanya. Ia menggerakkan Kubu Gadang bersama masyarakat setempat.

Sepanjang mengelola desa wisata, telah banyak prestasi ia torehkan, baik di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Salut saya.

Dan, sore kemarin, ia mengundang saya datang ke Kubu Gadang. “Ngeteh telur, Bang,” ajaknya. “Asyik,” jawab saya.

Tentu, bukan saja itu. Sore kemarin kami ngobrol soal titik temu literasi dan pariwisata untuk kanal YouTube Desa Wisata Kubu Gadang dan kanal YouTube saya, MuhammadSubhanKreator.

Di Kubu Gadang, saya juga bersua Amak, ibunya Yuliza. “Ha, alah lamo indak ka mari,” sapa Amak di lepaunya. Maksudnya, Amak mengatakan sudah lama saya tidak mampir. Dan, setiap kali mampir, Amak selalu membuat kopi dan menawarkan Pical Nyiak Simah, kuliner khas Kubu Gadang.

Saya menyampaikan terima kasih sebab siangnya sudah makan. Perut sudah penuh. “Babaso, ndak?” kata Amak lagi yang mengatakan saya berbasa-basi. Tentu tidak, sebab memang sudah kenyang.

Kubu Gadang sore itu ramai sekali. Sedang ada helat Alang-Alang Baradaik. Festival layang-layang anak nagari.

“Sudah tahun kedua festival ini di Kubu Gadang,” ujar Yuliza Zen.

BACA JUGA :  Inilah Surga Gunung Gede, Air Terjun, Telaga Biru dan Dinding Batu Berlumut Merah

Sore itu, langit Kubu Gadang semarak dengan layang-layang besar beraneka warna dan berekor panjang. Banyak hadiah menarik disediakan panitia buat para pemenang yang datang dari Padang Panjang, Batipuah, dan X Koto.

Di tengah semaraknya festival layang-layang di Kubu Gadang, ngobrollah kami. Yuliza Zen memulainya dengan ingatan dua belas tahun lampau ketika ia mulai menggerakkan Kubu Gadang menjadi desa wisata.

Tuntunya, saya ingat itu. Tahu pula suka dan dukanya. Saat itu kami berkolaborasi membuat pertemuan sastra bertajuk Petang Puisi Kubu Gadang. Seratusan penyair se-Sumatera diundang. Makan bersama di tengah sawah. Baca puisi dan diskusi sastra di tengah sawah.

Asyik sekali, tentu.

Dan setelah itu, Pemerintah Kota Padang Panjang melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang pada 2018 dan 2022 menghelat Temu Penyair Asia Tenggara I dan II. Ratusan penyair Asia Tenggara bermukim di rumah-rumah penduduk di Kubu Gadang.

Sampai sekarang, sejumlah penyair masih berkirim pesan kepada saya, menyampaikan kenangan mereka dan keinginan untuk datang lagi ke Kubu Gadang.

Dalam konteks Sapta Pesona yang menjadi jantung pariwisata, Padang Panjang dan lebih khusus Kubu Gadang telah menciptakan kenangan sehingga orang berkeinginan untuk datang dan datang lagi. Di situlah titik keberhasilan pariwisata.

Lalu, apa hubungan semua itu dengan literasi?

Menurut saya, pariwisata dan literasi bertemu pada satu titik yang sama: “narasi”. Setiap destinasi wisata membutuhkan cerita. Pemandangan yang indah memang penting, tapi cerita yang melekat pada pemandangan itu jauh lebih penting.

Sebab, cerita membuat orang penasaran. Cerita membuat orang ingin datang.

BACA JUGA :  KEK Sanur Pusat Medis Kelas Dunia dengan Sentuhan Budaya Bali : Wellness Tourism dan Strategi Asta Cita Prabowo–Gibran

Dan cerita pula yang membuat orang mengenang sebuah tempat setelah mereka pulang.

Lihatlah bagaimana sebuah karya sastra mampu menghidupkan sebuah kawasan. Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli telah melampaui fungsi sebuah buku. Ia berubah menjadi narasi kolektif yang hidup dalam ingatan masyarakat.

Orang datang ke Padang bukan hanya karena pantainya, kulinernya, atau bangunan tuanya. Banyak yang datang karena ingin melihat Jembatan Siti Nurbaya. Mereka mendaki Gunung Padang karena mendengar kisah tentang makam Siti Nurbaya yang konon berada di sana—meski makam itu tidak ada, hanya petilasan yang dibuat orang.

Padahal, Siti Nurbaya adalah tokoh fiksi. Namun, kekuatan cerita membuat batas antara imajinasi dan kenyataan menjadi begitu tipis. Narasi telah menciptakan daya tarik wisata yang bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.

Begitu pula dengan legenda Malin Kundang. Hampir setiap orang Indonesia mengenalnya. Kisah anak durhaka yang dikutuk menjadi batu itu telah dikisahkan dari generasi ke generasi. Maka, ketika orang datang ke Sumatera Barat, salah satu tujuan yang ingin mereka lihat adalah Pantai Air Manis. Mereka ingin menyaksikan batu yang dipercaya sebagai Malin Kundang. Mereka ingin berada di lokasi yang selama ini hanya mereka dengar dalam cerita.

Di sini kita melihat bahwa yang dijual oleh pariwisata sesungguhnya bukan hanya objek. Bukan hanya destinasi. Yang dijual adalah pengalaman. Dan pengalaman hampir selalu dibangun oleh cerita.

Saya berpikir Kubu Gadang juga membutuhkan makin banyak narasi. Bukan hanya narasi yang beredar di media sosial, tapi juga narasi yang terdokumentasi dalam buku.

BACA JUGA :  Menteri Pariwisata Serap Aspirasi Mahasiswa Poltekpar Makassar

Konten digital penting. Video pendek penting. Reels, TikTok, YouTube Shorts, semuanya penting. Namun, konten digital bergerak cepat dan sering kali hilang ditelan arus algoritma.

Buku berbeda.

Buku menyimpan ingatan lebih lama. Buku mendokumentasikan perjalanan sebuah kampung, tokoh-tokohnya, tradisinya, kulinernya, permainan rakyatnya, sawahnya, bahkan kisah-kisah kecil yang lahir dari percakapan sehari-hari.

Bayangkan jika Kubu Gadang memiliki seri buku tentang sejarah kampungnya, tentang perempuan-perempuan yang memasak kuliner tradisional, tentang petani yang menjaga sawah turun-temurun, tentang anak-anak yang menerbangkan layang-layang di musim angin, tentang para seniman yang pernah berkumpul membaca puisi di tengah hamparan padi.

Buku-buku itu akan menjadi arsip budaya. Menjadi sumber pengetahuan. Menjadi jejak yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Literasi tidak hanya berbicara tentang membaca dan menulis. Literasi juga tentang merawat ingatan. Sedangkan pariwisata tidak hanya berbicara tentang mendatangkan orang. Pariwisata juga tentang menjaga identitas.

Ketika literasi dan pariwisata berjalan beriringan, sebuah destinasi tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi. Ia menjadi tempat yang diceritakan. Menjadi tempat yang dikenang. Menjadi tempat yang dirindukan.

Dan saya kira, itulah yang sedang tumbuh di Kubu Gadang. Bukan sekadar desa wisata dengan sawah yang hijau dan gunung yang indah, melainkan sebuah ruang yang perlahan-lahan membangun cerita tentang dirinya sendiri.

Orang mungkin datang berwisata karena pemandangan. Tapi mereka akan kembali datang karena kenangan. Dan, kenangan selalu lahir dari sebuah cerita.

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis