Edi S. Febri. Tinggal di tanah kelahirannya di Batang, Jawa Tengah dan bekerja sebagai jurnalis.
Senyummu Bukan Lagi Untukku
Masih adakah senyum di bibir indahmu?
Aku ingin melihat lagi setelah sekian lama hanya disuguhi tawa hambar berbumbu cemburu
Senyummu membuat semesta tersipu
Mengingatkan pada masa lalu
Tentang dia yang pernah hadir dan memaniskan impian semu
Akankah senyummu tak lagi untukku?
Aku merasakan itu
Meski megelak
Bahasa tubuhmu tak bisa menipu
Selalu ada alasan untuk menolak cumbu
mungkin
ini hanya sekeping fragmen tak berarti
tapi selamanya akan menghantui
selalu teringat
menjadi kerikil
menjadi penghalang
menjadi batu sandungan
Senyummu
Perlahan menghilang seiring perjalanan malam menuju dini hari
Bukan berharap lebih
Tapi hanya sekedar tahu
Jika di persimpangan ini telah tertera tanda tak setuju
Mengubah semua warna menjadi abu-abu
Gringsing, 09 Maret 2025
Rhe…
: Ada yang Menunggu Puisimu
Rhe…
Ada kalimat yang belum selesai kau tulis
Dan kau biarkan teronggok di rerumputan
Terputus di bait delapan
Rhe…
Puisimu ditunggu banyak orang
Ingin tahu
Apa yang menjadi akhir dari petualangan
Tapi kau malah diam
Membiarkan mereka terseret tanda tanya
Menunggu pada ketidakpastian
Hingga tersesat di persimpangan
Tanpa penunjuk jalan
Rhe…
Akankah tulisan tak kau selesaikan?
Hanya kurang satu baris
Sebelum berakhir di titimangsa
Mengapa justru kau tinggalkan?
Rhe…
Hidup memang tak selamanya seperti yang diinginkan
Tapi puisi tetap harus kau lanjutkan
Ingatlah
Masih ada biji saga berserakan
Masih ada aksara berlarian
Masih ada pucuk cemara melambaikan tangan
Bukankah semua itu imaji yang menemani setiap kali kau merasa kesepian?
Rhe…
Segeralah selesaikan
Selagi senja masih menawarkan kehangatan
Tak usah menunggu malam
.
Gringsing, 23 Juni 2025
.
Penulis: Edi S. Febri
Editor: Ayu K. Ardi
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InsertRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via urel: majalahelipsis@gmail.com
Tag:































