Oleh De Eka Putrakha
“Apa kau merindukanku di sana, istriku? Kurasa tidak. Maksudku, tidak dengan cara ini.”
Tatapannya nanar memandangi lautan di hadapannya. Pantai tempat semua dimulai juga diakhiri. Lelaki tua itu ragu apakah sesuatu yang berakhir menjadi pertanda permulaan lagi baginya.
Awan kelabu tiada menampakkan semburat jingga. Mendung. Sebagaimana isi hatinya tatkala melihat lautan penuh dengan gelondongan kayu yang terbawa galodo sejak beberapa hari terakhir. Suasana pantai di kota Padang seketika berubah dengan adanya tumpukkan kayu serta sampah yang terbawa dari arah ketinggian sana.
Puluhan tahun dirinya berumah di tepi pantai baru kali ini menyaksikan hal yang tidak biasa. Meski diakuinya pantai ini bukanlah berpasir putih, namun tetap terlihat asri dengan adanya pepohonan yang berjajar sejauh mata memandang. Ditambah beberapa tumpukan batu berukuran besar yang menjorok ke laut sebagai pemecah ombak. Kemudian dijadikan tempat bersantai orang-orang untuk menghabiskan waktu menanti matahari tenggelam.
Angin pantai senantiasa membelainya setiap saat sembari mengingat kembali kenangan masa lalu bersama mendiang istrinya. Tempat hatinya terpaut kepada seorang gadis pantai.
“Gadis Laut! Ingat aku tidak suka disebut Gadis Pantai. Entahlah terkesan aneh bagiku.” Protes istrinya kala itu.
“Baiklah. Namun, kau bebas memanggilku apa saja; orang perbukitan, lelaki gunung, pemuda pohon …” balasnya.
Akhirnya, ‘Pemuda Pohon’ lebih melekat pada dirinya. Alasan istrinya karena dirinya menyukai pohon serta hal-hal tentang kehijauan. Bukan maksud selalu mengalah, namun sebutan itu disukainya apalagi keluar langsung dari mulut istrinya.
“Pemuda Pohon dan Gadis Laut!”
Pasangan muda itupun tertawa. Perjalanan rumah tangga bak asam di gunung garam di laut mempertemukan mereka dalam ikatan pernikahan.
*
Sudah berhari-hari langit masih mendung. Sebentar cerah kemudian kembali mendung. Gerimis dan hujan berkepanjangan. Di televisi sudah mulai memberitakan mengenai banjir bandang serta longsor yang ternyata terjadi merata di tiga provinsi! Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Setiap hari berita duka itu menayangkan angka-angka jumlah korban dan kerusakan yang kian bertambah. Tidak luput kampung masa kecilnya dulu ikut tersapu banjir bandang. Sekejap mata, semua langsung berubah.
“Sebagai Pemuda Pohon aku bersyukur perbukitan di sekitaran kota ini masih terjaga. Meskipun sekarang menghabiskan hari bersamamu di tepi laut”
“Asal kita masih berada di kota yang sama. Kau bisa mengajakku ke sana. Kenalkan pula aku mengenai pepohonan”
“Aku berkeinginan menanam satu pohon untuk setiap anak kita nanti. Durian, pala, cengkih, atau apa saja yang mungkin …”
“Mungkinkah seribu pohon?” Rayu istrinya.
“Seribu pohon hanya untukmu, Gadis Laut. Eh, Ibu Laut!” Balasnya sambil mengucek rambut istrinya yang bergelombang seperti ombak.
Sepanjang tepian pantai selalu didapati potongan kayu yang terbawa ombak entah dari mana, kemudian mengering. Istrinya begitu telaten memunguti setiap kayu yang dilihatnya untuk dijadikan kayu bakar. Jika ukurannya agak besar bisa untuk pagar. Seolah dirinya ingin mengajarkan alam akan memberi segala yang diperlukan.
“Bagimu ranting kecil pun masih bermanfaat. Begitulah pepohonan itu jika sampai ke tanganmu …” pujinya kepada istrinya.
“Sebab, karena kerinduan seorang Gadis Laut kepada Pemuda Pohon.” Ucap istrinya memberikan perumpamaan.
*
“Dua pasang anak kita kurasa tidak ada yang mengikuti langkah orang tuanya. Mereka berempat lebih memilih jalannya sendiri-sendiri. Walaupun si bungsu masih berada di kota ini. selebihnya merantau mengamalkan adat Minangkabau ke manapun angin berembus.”
“Tak apa, anak-anak kita serupa angin. Menggoyangkan pepohonanmu juga menggulung ombak lautku. Mereka selalu hadir dalam kehidupan kita berdua, meski semuanya telah berumah tangga.”
Pasangan berumur itu saling merangkul seiring munculnya warna kemerahan di ufuk barat. Menjelang petang, suasana pantai semakin ramai. Banyak anak muda sengaja menghabiskan waktu sekadar ingin melihat sunset kemudian membubarkan diri saat azan magrib berkumadang. Hampir setiap hari, ditambah lagi para mahasiswa yang memilih pantai untuk melepas penat seharian.
Begitulah laut senantiasa melarutkan kegundahan, ucap istrinya memakukan pandangan ke lautan lepas. Lelaki tua itu menambahkan bahwa ketenangan didapatkannya di sini, di sisi belahan jiwanya.
Dua cangkir kopi sudah tandas. Seduhan dari air rebusan tungku kayu yang sengaja dibuat. Mereka merasa ada kenikmatan tersendiri menjerang air kemudian membancuh kopi dan menikmatinya di bawah pepohonan sambil menghadap ke laut.
“Sekali-kali cobalah seduh kopimu sendiri,” ucap istrinya menatap lelaki tua itu lekat-lekat, “boleh jadi air tanganmu lebih nikmat.” Lanjutnya lagi.
*
Firasat istrinya begitu kuat dan kali ini tangannya yang menyeduh kopi. Bukan untuk dinikmati bersama, melainkan untuknya sendiri. Tidak disangka ucapan istrinya menjadi pertanda sebuah perpisahan akan terjadi.
Suasana petang di tepi pantai masih sama, yang membedakan hanyalah kesendiriannya. Sekarang hanya secangkir kopi di meja. Ingatannya membuka kembali lembaran cerita yang dilaluinya bersama istrinya.
“Aku tidak dapat membayangkan jika kau menyaksikan lautmu sekarang. Airnya begitu keruh, kayu-kayu besar serta sampah telah menutupi sebagian pantai.” Batin lelaki tua itu.
Tatapannya sayu. Dirinya yakin kejadian ini bukanlah pertanda kerinduan istrinya atau caranya menagih seribu pohon yang pernah diucapkannya dulu. Pastinya dirinya yakin seribu pohon bukanlah secara harfiah, hanya pernyataan besarnya rasa cinta yang dimilikinya.
“Meskipun kau menemaniku seumur hidup di tepi laut ini, kau tetaplah ‘Pemuda Pohon’ yang dulu kukenal.”
Terngiang lagi ucapan istrinya sekian puluh tahun yang lalu. Hatinya telah larut kepada laut. Sebab pepohonan akan tetap ada dan tumbuh di manapun itu, termasuk di tepi laut. Sementara laut jangan sampai menjangkau perbukitan hijau penuh pepohonan. Itulah alasannya memilih hidup bersama istrinya di tepi laut.
*
Sebulan sudah bencana alam yang memilukan itu terjadi. Curah hujan masih tinggi. Di beberapa tempat kejadian tersebut terulang lagi. Keadaan belum sepenuhnya pulih. Aku tahu istriku, bahwa lautmu selalu tabah menerima apapun yang terbawa ke sana. Mungkin dengan cara ini cerita kita masih terus berlanjut, ucapnya meyakinkan.
Atas kejadian tersebut anak-anaknya serentak pulang dari rantau. Rumah kembali ramai, ditambah tingkah polah beberapa orang cucunya. Di usia senjanya kini dirinya masih terlihat kuat bertenaga. Ketenangan yang selama ini menyelimuti hatinya seolah mampu menguatkan raganya.
“Sekarang lihatlah istriku, anak-cucumu menyukai air tanganku.” Senyum lelaki tua itu menatap laut.
Beberapa cangkir kopi terhidang di meja tempat menghabiskan waktu bersama. Kemudian dengan ditemani semua anaknya, lelaki tua itu menyengaja melihat kembali daerah perbukitan tempat masa kecilnya tumbuh. Juga tempat tumbuhnya segala jenis pepohonan atas nama anaknya.
“Aku juga selalu berusaha menanam seribu pohon untukmu, istriku.”
Lelaki tua itu tersenyum sambil menatap hamparan laut dari kejauhan perbukitan. Angin dari arah laut membelainya dengan tenang. Saat dipejamkannya mata dirinya juga melihat istrinya ikut tersenyum.[]
DE EKA PUTRAKHA. Berasal dari Bukittinggi, Sumatra Barat. Tulisannya termuat dalam beberapa buku antologi bersama serta media cetak dan online (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura). Profilnya pernah dimuat media negeri jiran yaitu e-Jurnal DoeaJiwa Bil.11/2023. Sajak “Melangkah pada Pijakan Kaki” menjadi Juara Sayembara Nyala – Sastera Hijau 2024— Majalah KayuApi, Singapura. Buku terbarunya kumpulan puisi Ketika Semua Orang Sengaja Melupakan Setelah Kucari Cara Agar Selalu Mengingat Mereka (Penerbit Lumpur, Mei 2025).
Penulis: De Eka Putrakha
Editor: Ayu K. Ardi
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.
Follow: Berita Insertrakyat.com-whatsapp channel







































































