Tangsel InsertRakyat.com— Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengingatkan mahasiswa bahwa perkembangan kecerdasan artifisial atau AI tidak sepenuhnya dapat menggantikan kemampuan manusia, terutama dalam hal nurani, kebijaksanaan, dan nilai.
Pesan itu disampaikan Bima saat menjadi narasumber Talk Show Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (27/8/2026).
Bima menyebut AI sebagai bagian dari perubahan zaman yang tidak dapat dihindari. Karena itu, mahasiswa perlu memahami teknologi tersebut, bukan sekadar melihatnya sebagai ancaman terhadap peran manusia.
“AI itu keniscayaan, AI itu adalah tanda-tanda zaman. Tapi yakinilah, AI memudahkan dan menghubungkan, tapi tidak semua tergantikan oleh AI,” kata Bima.
Menurut Bima, perkembangan teknologi tetap memiliki batas ketika berhadapan dengan kemampuan manusia yang berkaitan dengan hati, nurani, kebijaksanaan, dan nilai. Kemampuan tersebut menjadi alasan manusia tetap memiliki posisi penting di tengah perkembangan AI.
“AI tidak punya hati. AI tidak punya nurani. AI tidak akan menghasilkan wisdom dan value. Selamanya manusia akan jadi pemenang, karena manusia memiliki nilai, memiliki value,” ujarnya.
Perubahan teknologi, kata Bima, juga berlangsung semakin cepat. Jika sebelumnya perubahan dapat berlangsung dalam rentang satu dekade, lima tahun, atau tiga tahun, kini perubahan dapat terjadi dalam hitungan hari.
Perubahan itu terlihat dari cara informasi dan gerakan sosial berkembang melalui berbagai platform digital. Bima menilai mahasiswa perlu memahami perubahan tersebut sekaligus mampu membaca dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
“Kultur dan teknologi berubah dengan sangat cepat. Sekarang bayangkan, revolusi itu digerakkan bukan lewat buku, bukan lewat pamflet, tapi lewat TikTok, lewat Threads, lewat platform di sosial media,” tuturnya.
Untuk menghadapi perubahan tersebut, Bima menyebut tiga kemampuan yang perlu dimiliki generasi muda, yakni digital skills, thinking skills, dan human skills. Penguasaan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan berpikir analitis, memecahkan masalah, serta membangun hubungan dengan orang lain.
Bima juga menekankan pentingnya pengalaman di luar ruang perkuliahan. Menurut dia, pengetahuan tidak hanya diperoleh dari textbook, tetapi juga melalui diskusi, pergaulan, dan interaksi dengan masyarakat.
Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, ia mengajak mahasiswa tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Karakter dan kematangan juga perlu dibangun agar teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
“Saya mendoakan teman-teman semua, mahasiswa baru UIN, tidak saja mewarisi kecerdasan para penerus kalian, tapi juga mewarisi kebijaksanaan dan kematangan para pendahulu kalian yang lebih dulu mentas,” tandasnya.
.
.
.
Penulis : Anggytha
Editor : Supriadi Buraerah


































































