LARANTUKA, INSERTRAKYAT.COM — Hampir dua tahun tinggal di hunian sementara (Huntara) tidak membuat warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi di Desa Konga, Kabupaten Flores Timur, berhenti bekerja. Bahkan mereka bertahan hidup dengan menanam  biji semangka, inilah dimensi kehidupan rakyat di tanah air hari ini, Jumat (28/8/2026).

Di tengah kehidupan yang masih berlangsung di tempat pengungsian, mereka mencari cara untuk tetap produktif.

Salah satunya dengan bertani.

Warga bersama dengan penyuluh di lahan yang mereka kelola. ( foto kemenag Flores Timur).

Di atas lahan yang terletak di sekitar Huntara. Warga Kelompok Binaan Peten Lewo menanam biji semangka. Tanaman itu mulai dibibitkan pada pertengahan Juni 2026. Lebih dari dua bulan kemudian, hasilnya mulai dipetik.

Panen perdana dilakukan bersama Tim Penyuluh Agama Katolik Peduli Pengungsi Lewotobi Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, dua hari lalu tepatnya pada Rabu (26/8/2026).

Sebelum mencopot buah semangka dari batangnya, mereka lebih dahulu menanam, merawat, membasmi hama. Alhasil (Berkat) ketekunan, kini mereka menikmati hasil yang manis untuk sementara.

“Tanam semangka”, (kegiatan) itu bermula sejak para penyintas erupsi Lewotobi menempati Huntara pada November 2024.

Lalu (kemudian, -red).

Para penyuluh agama mengajak warga membuka lahan di sekitar tempat pengungsian. Warga kemudian belajar bercocok tanam hortikultura, mulai dari memilih bibit, membuat pupuk organik, hingga merawat tanamannya dengan sepenuh optimistis.

Apa yang dipelajari dari para penyuluh  menjadi bekal bagi warga untuk mengelola lahan yang tersedia.

Namun berbagai hambatan sempat menemani hari- hari warga di sana selama ini. Tanaman semangka juga menghadapi gangguan hama. Sehingga warga harus lebih teliti dalam merawat tanaman.

Ketua Kelompok Binaan Peten Lewo, Andreas Tobi, mengatakan panen pertama memberi kegembiraan sekaligus pengalaman bagi anggota kelompok.

“Panen ini membuat anggota kelompok bergembira. Hasil yang mereka dapatkan menjadi pengalaman untuk terus belajar dan memperbaiki cara pemeliharaan tanaman,” ujar Andreas.

Penyuluh Agama Katolik Kemenag Flores Timur, Samuel Hajon, mengatakan perawatan menjadi salah satu faktor penentuan hasil dalam budidaya semangka.

“Perawatan maksimal berpengaruh terhadap hasil. Pemupukan harus tepat dan pemberantasan hama juga harus dilakukan,” kata Samuel.

Setelah panen, warga bersama tim penyuluh tidak hanya membicarakan hasil yang diperoleh.

Mereka mengevaluasi proses budidaya.

Teknik pemupukan dibahas. Pengendalian hama dibicarakan. Kendala selama tanaman tumbuh juga menjadi bahan pembelajaran.

Pembicaraan kemudian sampai pada persoalan pemasaran.

Warga mulai memikirkan bagaimana hasil pertanian dapat dijual sehingga kegiatan bercocok tanam tidak berhenti sebagai aktivitas selama berada di Huntara.

Ada peluang ekonomi yang ingin mereka bangun. Kedengaran menyindir perhatian om – om elite yang lagi duduk di kursi Parlemen Senayan Kota Jakarta.

Lahan di sekitar Huntara yang sebelumnya terbatas pemanfaatannya, kini mulai memberi hasil, meski demikian masyarakat butuh ditemani untuk menawarkan hadiah dari bumi kepada pembeli semangka.

Menanam biji dan lalu memanen buah semangka bagi warga yang hampir dua tahun menjalani kehidupan di tempat pengungsian, kegiatan itu menjadi bagian dari usaha untuk menjaga kemandirian.

Tim Penyuluh Peduli Pengungsi Lewotobi Kemenag Flores Timur pun terus mendampingi kelompok tersebut agar kegiatan produktif dapat dikembangkan selama warga masih menjalani kehidupan di Huntara.

Semangka itu menjadi hasil pertama.

Berikutnya, warga ingin menanam lagi. Moga – moga semangka di sana kedepannya masuk dalam lirikan MBG.

(Afri Juang).