Jakarta, InsertRakyat.com — Kecerdasan buatan (AI) semakin digunakan untuk membantu manusia mengolah data, menemukan pola, dan menjalankan berbagai pekerjaan.

Namun, kemampuan teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia sebagai pengendali dalam menentukan bagaimana AI digunakan. Nilai kemanusiaan menjadi batas agar perkembangan teknologi tetap memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Nilai kemanusiaan dalam konteks ini berkaitan dengan penghormatan terhadap manusia, hak, martabat, moral, serta tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Karena itu, perkembangan AI tidak cukup dilihat dari kecanggihan sistemnya. Penggunaan teknologi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan kehidupan sosial.

Pandangan tersebut dikemukakan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto saat menghadiri perayaan HUT ke-187 GPIB Immanuel Jakarta, Selasa (25/8/2026).

Bima menyampaikan pesan tersebut ketika berbicara mengenai perjalanan GPIB Immanuel serta nilai yang diwariskan lintas generasi. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu berjalan bersama nilai dan kebijaksanaan.

Ia mengingatkan bahwa AI harus diarahkan untuk memperkuat kemaslahatan manusia, bukan mengikis nilai-nilai moral.

Teknologi Berkembang, Nilai Tetap Menjadi Pegangan
Teknologi Berkembang, Nilai Tetap Menjadi Pegangan. Bima Arya saat berbicara di kegiatan HUT ke-187 GPIB. (Dok Puspen Kemendagri).

Menurut Bima, kemajuan teknologi membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut perlu dihadapi dengan tetap mempertahankan nilai yang menjadi dasar kehidupan manusia.

AI dapat membantu manusia mengolah informasi dan menjalankan pekerjaan tertentu. Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pertimbangan manusia agar manfaatnya tidak terlepas dari tanggung jawab moral.

Dalam pandangan Bima, manusia tidak boleh kehilangan nilai ketika berhadapan dengan teknologi yang semakin berkembang.

Pesan tersebut menjadi bagian dari refleksinya mengenai warisan nilai di GPIB Immanuel Jakarta yang telah berusia 187 tahun.

“Di sini ada ajaran-ajaran keimanan yang menembus generasi, yang diwariskan lintas generasi, yang membuat kita semua berada di sini pada hari ini,” ujar Bima.

Ia menilai usia GPIB Immanuel bukan hanya menunjukkan ketahanan bangunan bersejarah. Perjalanan tersebut juga memperlihatkan keberlanjutan nilai dan ajaran dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Filosofi Teratai dan Makna Karya
Filosofi Teratai dan Makna Karya. (Foto bersama).

Bima kemudian menyoroti bunga teratai yang terpahat pada kubah GPIB Immanuel.

Menurutnya, teratai tetap bersih dan indah meskipun tumbuh di lingkungan berlumpur. Filosofi tersebut dinilai dapat menggambarkan manusia yang tetap menghadirkan kebaikan di tengah dinamika kehidupan.

Bima menghubungkan filosofi itu dengan karya dan pengabdian manusia.

Menurutnya, kehidupan manusia bersifat sementara. Sementara itu, karya dan bakti yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan manfaat lebih panjang bagi generasi berikutnya.

“Artinya apa? Itulah manusia. Hidup kita fana, hidup kita sementara, tetapi karya kita, bakti kita abadi dan selamanya,” katanya.

Pesan tersebut memiliki kaitan dengan tantangan generasi muda yang hidup dalam lingkungan teknologi yang terus berkembang.

Bima menilai kehadiran generasi muda dalam perayaan HUT GPIB Immanuel menjadi bagian dari keberlanjutan nilai keimanan dan moral.

Wamendagri Bima Arya Sugiarto menyampaikan pandangan tentang AI dan nilai kemanusiaan di GPIB Immanuel Jakarta.
Wamendagri Bima Arya Sugiarto menyampaikan pandangan tentang penggunaan AI dan nilai kemanusiaan saat menghadiri HUT ke-187 GPIB Immanuel Jakarta, Selasa (25/8/2026)

Bima juga menyoroti orgel bersejarah yang hingga kini masih berfungsi di GPIB Immanuel Jakarta.

Keberadaan orgel tersebut dinilainya menunjukkan kepedulian pengurus dan jemaat dalam merawat warisan yang telah menemani perjalanan gereja selama lebih dari 180 tahun.

Ia juga melihat keterpaduan orgel dengan sistem akustik bangunan sebagai gambaran harmoni antara gereja dan lingkungan sekitarnya.

“Ini adalah harmoni, ini adalah nilai yang luhur dari gereja ini,” ujar Bima.

Menurutnya, perjalanan panjang GPIB Immanuel perlu dilihat lebih luas daripada sekadar keberadaan bangunan sebagai warisan sejarah.

Nilai yang hidup di dalamnya juga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bima juga menyampaikan komitmen Kementerian Dalam Negeri terkait pembangunan yang inklusif.

Ia mengatakan pemerintah daerah perlu memastikan pembangunan kota dapat dirasakan seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang.

“Kementerian Dalam Negeri hari ini terus memastikan bahwa seluruh gubernur, seluruh wali kota, dan seluruh bupati di Indonesia dalam kesehariannya tidak pernah meninggalkan warganya. Memastikan bahwa kotanya dibangun untuk semua,” jelasnya.

Bima juga menyampaikan bahwa pemerintah berkewajiban menjamin masyarakat menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing.

Menurutnya, hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan dan kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman Indonesia.

Kendati, mengenai AI persisnya kembali pada posisi manusia sebagai pengguna sekaligus pengendali teknologi.

Kemampuan AI dapat membantu berbagai pekerjaan manusia. Namun, arah penggunaannya tetap membutuhkan pertimbangan mengenai nilai, hak, dan martabat manusia.

Karena itu, perkembangan teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana yang mendukung kehidupan manusia.

Bima berharap GPIB Immanuel terus menjadi ruang tumbuhnya iman, pelayanan, kasih, serta pembentukan generasi muda.

“Bukan hanya bangunan yang terpelihara Bapak-Ibu, tetapi mari kita yakini iman yang terus hidup, pelayanan yang semakin berdampak, dan kasih yang menjadi berkat bagi sesama adalah menjadi ciri khas dari gereja Immanuel di Jakarta ini,” pungkasnya.

Pesan tersebut mempertemukan dua hal yang berjalan bersamaan dalam kehidupan masyarakat: warisan nilai dan perkembangan teknologi.

Teknologi dapat terus berkembang, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang menentukan arah penggunaannya.

Dalam konteks AI, kemajuan teknologi pada akhirnya perlu berjalan bersama nilai kemanusiaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab publik.

.

.

.

Reporter : Syamsul Bahri

Editor      : Supriadi Buraerah