INSERTRAKYAT.COM — Jejak megalitik, tradisi leluhur, dan kehidupan spiritual menjadi pintu untuk mengenal kekayaan budaya Flores melalui Camino de Flores. Perjalanan berjalan kaki ini mengajak peserta menyusuri tempat keagamaan, mengunjungi warisan budaya, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.

Pada hari kedua, Sabtu (24/10/2026), sebanyak 70 peserta menempuh perjalanan sejauh 25,5 kilometer. Rombongan berangkat dari Gereja Mater Boni Consili (MBC) Bajawa, kemudian melewati Gereja Paroki Maria Ratu Semesta Alam di Langa, Kampung Adat Bena, dan Paroki Rakateda I. Perjalanan berakhir di Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko.

Peserta Camino de Flores berfoto bersama dalam rangkaian perjalanan wisata religi dan budaya di Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (24/10/2026).
Peserta Camino de Flores berfoto bersama dalam rangkaian perjalanan wisata religi dan budaya di Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (24/10/2026). Dok. Foto. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Afri Juang/Insertrakyat.com

Camino de Flores:  Kampung Adat Bena

Kampung Adat Bena memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat Ngada melalui peninggalan megalitik dan tradisi penghormatan terhadap leluhur. Rumah adat, susunan batu, dan praktik adat menjadi bagian dari identitas masyarakat yang terus mereka jaga lintas generasi.

Mengenal Bena tidak cukup hanya dengan melihat susunan batu atau rumah adat. Pengunjung juga perlu memahami makna tradisi dan menghormati masyarakat yang merawat warisan tersebut. Dengan pendekatan itu, wisata budaya dapat membuka ruang belajar tentang sejarah, identitas, dan pengetahuan lokal.

Dari Bena, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko. Para peserta bermalam di Kemah Tabor Mataloko, lalu makan malam bersama para seminaris, imam, pastor, dan tenaga pengajar. Pertemuan tersebut memberi kesempatan kepada peserta dan komunitas seminari untuk berbincang serta membangun kedekatan.

Penggagas Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, mewakili peserta menyerahkan rosario kepada para seminaris. Ia juga menyampaikan komitmen untuk membantu memperbaiki bangunan seminari yang terdampak gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7.

Peserta Camino de Flores dalam perjalanan wisata religi dan budaya di wilayah Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Mari mengaku tersentuh oleh sambutan masyarakat selama perjalanan. Percakapan dengan warga dan anak-anak membuat peserta merasakan kedekatan yang tumbuh melalui perjumpaan langsung.

“Sepanjang hari kemarin dan hari ini, kami sangat tersentuh dengan semuanya. Sepanjang perjalanan kami banyak ngobrol dengan masyarakat, tidak ada yang tidak menyapa, dan kami merasa disambut dengan sukacita. Hanya di sini, seperti diterima di rumah sendiri,” kata Mari.

Perjalanan yang Menyatukan

Praeses Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko, RD Stef Wolo, menyambut rombongan sebagai bagian dari keluarga seminari. Ia memandang kunjungan tersebut sebagai wujud persaudaraan dan kepedulian terhadap masyarakat Flores, termasuk perhatian terhadap pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak bencana.

RD Stef juga mengapresiasi pilihan Mari merayakan ulang tahunnya yang ke-70 melalui perjalanan berjalan kaki bersama masyarakat Flores. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka kesempatan untuk menjalin hubungan dengan warga dan mengenal kehidupan masyarakat di sepanjang rute.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, melihat Camino de Flores sebagai perpaduan perjalanan spiritual, alam, budaya, dan interaksi dengan masyarakat. Ia menyatakan Kementerian Pariwisata siap mendukung promosi melalui jaringan pariwisata, media, dan industri perjalanan.

Promosi tersebut dapat memperkenalkan Camino de Flores kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Meski demikian, pengelola perlu menjaga penghormatan terhadap adat, lingkungan, dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, melihat peluang untuk menghubungkan destinasi religi Katolik, kampung adat, pusat pendidikan keagamaan, dan kawasan alam dalam satu rangkaian perjalanan.

“Camino de Flores ini menjadi salah satu peluang pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores, bagaimana dari satu titik destinasi wisata religi, destinasi wisata budaya, dan alam serta interaksi dengan masyarakat saling terhubung dan dikemas dalam satu kegiatan,” ujar Andhy.

Andhy berharap pola perjalanan tersebut dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan dan menyebarkan kunjungan ke lebih banyak lokasi. Dengan pola itu, aktivitas pariwisata berpeluang menjangkau berbagai wilayah, bukan hanya terpusat pada satu destinasi.

Kegiatan ramah tamah turut dihadiri Bupati Nagekeo, Wakil Bupati Ngada, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ngada, serta Romo Vikaris Episkopal (Vikep) Ngada.

Warisan Budaya sebagai Pengalaman

Camino de Flores mengajak wisatawan mengenal Flores lebih jauh daripada panorama alamnya. Jejak megalitik, tradisi leluhur, kehidupan spiritual, dan keramahan masyarakat memberi warna pada setiap persinggahan.

Ketika pengelola mengembangkan pariwisata dengan menghormati warisan lokal, perjalanan dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap masyarakat. Dengan begitu, wisata budaya tidak sekadar menghadirkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga membantu pengunjung memahami nilai yang hidup di dalamnya.

Jurnalis: Afri Juang

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL