Oleh Muhammad Subhan

1

SEJARAH sering kali mencatat angka, teknologi, dan infrastruktur, tapi sastra bertugas memulangkan ingatan pada tubuh-tubuh manusia yang menanggung beban zaman. Pada paruh akhir abad ke-19, khususnya medio 1890-an hingga 1896, Sawahlunto mengalami metamorfosis radikal. Sebuah lembah pedesaan yang mulanya senyap dan terisolasi mendadak disulap Hindia Belanda menjadi megaproyek industri pertambangan batu bara terbesar di Nusantara.

Penemuan cadangan emas hitam oleh Willem Hendrik de Greve pada 1868 berujung pada eksploitasi masif sejak 1892. Mesin-mesin kolonial bergerak presisi: jalur kereta api menuju Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) dibentangkan pada 1894, sementara Batang Lunto dikanalkan untuk memuluskan logistik. Secara keruangan, kota dirancang sangat segregatif. Kawasan elit Belanda (Het Kleine Holland) berdiri terpisah dari pemukiman Tionghoa dan kompleks tangsi buruh yang ketat. Sawahlunto pun tumbuh menjadi mesin kapitalisme kolonial yang megah sekaligus tertutup.

Namun, di balik kejayaan ekonomis tersebut, tersembunyi tragedi kemanusiaan yang amat kelam. Untuk mengeruk ratusan ribu ton batu bara dari perut bumi, kolonial Belanda mendatangkan puluhan ribu buruh paksa yang dijuluki Orang Rantai. Mereka adalah narapidana dan tahanan politik yang diangkut dari berbagai penjuru Nusantara. Kaki, tangan, atau leher mereka terikat rantai besi dingin sewaktu merayap di lorong-lorong gelap pertambangan yang minim ventilasi. Di bawah ancaman cambuk mandoer, impitan penyakit, dan intaian maut, hidup mereka direduksi sekadar menjadi nomor dada dan tenaga peras.

Uniknya, ruang kelam ini juga melahirkan resistensi kebudayaan yang sublim. Berhimpunnya para pekerja dari beragam suku di barak-barak tangsi memicu lahirnya Bahasa Tansi—sebuah bahasa kreol yang memadukan Melayu, kosakata Nusantara, dan istilah teknis Belanda. Bahasa Tansi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan lingua franca organik yang menegaskan identitas dan solidaritas kolektif kaum tertindas di tengah cengkeraman kolonialisme.

Latar historis yang pekat dan sarat luka inilah yang menjadi fondasi tempat novel Pohon Cinta (Draf naskah novel setebal 136 halaman ini saya terima sebagai bahan diskusi buku pada Festival Literasi Sawahlunto, Rabu, 14 Oktober 2026—Pen.) karya Willy Pangeran berdiri. Novel ini tidak sekadar menjadikan Sawahlunto abad ke-19 sebagai dekorasi latar (setting), tapi juga sebagai ruang dialektis tempat cinta, kemanusiaan, dan penderitaan diuji. Melalui pergulatan para tokohnya, Willy Pangeran mencoba menembus dinding-dinding lorong tambang dan barak-barak tangsi, menghidupkan kembali denyut nadi manusia yang selama ini terkubur dalam dokumen resmi sejarah.

Membuka dan membedah Pohon Cinta hari ini membawa kita pada sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana sastra mampu mengartikulasi kembali suara-suara yang dibungkam rantai besi masa lalu? Sejauh mana novel ini berhasil mengawinkan fakta sejarah dengan daya imajinasi fiksional tanpa terjebak pada sekadar romantisisme eksotis? Catatan ini mengajak kita untuk masuk lebih dalam ke lorong narasi Pohon Cinta, sebuah karya yang tidak hanya mengajak kita mengenang, tapi juga menguji nurani kemanusiaan kita hari ini.

2

BAB-BAB awal Pohon Cinta, Willy Pangeran secara cerdik merajut lanskap fisik dan psikologis tokoh-tokohnya melalui detail penceritaan yang intim. Novel ini dibuka tidak dengan dentum mesin pertambangan, melainkan dengan adegan perburuan yang metaforis: Pram kecil yang mengintai rusa di rimba perbukitan. Adegan seekor rusa sakaratul maut di bawah terik mentari, dengan mata yang sayup-sayup terpejam, menjadi alegori visual yang sangat kuat. Ia tidak hanya melukiskan proses pendewasaan seorang pemuda, tapi juga menjadi simpul ramalan atas nasib tanah kelahirannya yang kelak akan “dilumpuhkan” oleh ambisi kolonial.

Penceritaan Willy terasa begitu hidup ketika ia menggambarkan desa tempat tinggal Pram: sebuah permukiman yang terperangkap di tengah-tengah kepungan bukit. Metafora lanskap ini secara tepat merepresentasikan topografi asli Kota Sawahlunto yang menyerupai kuali raksasa—ruang ekologis yang subur sekaligus rentan terisolasi. Di sinilah dinamika konflik utama mulai dipantik. Surato (ayah Pram), seorang pejuang yang disegani, beserta tokoh adat seperti Pak Sukiman dan Karyono, dihadapkan pada ancaman eksistensial: ultimatum dari pihak kolonial Belanda yang mendesak warga merelakan desa mereka demi perluasan tambang batu bara Ombilin.

Ketegangan di Balai Desa menjadi ruang pertaruhan martabat. Lewat dialog-dialog yang singkat dan tajam, pengarang memperlihatkan benturan dua logika yang tak seimbang: logika kekuasaan kolonial yang mengancam pemblokiran jalur perdagangan dan kekerasan militer, berhadapan dengan logika masyarakat lokal yang bersandar pada ketahanan alam. Kalimat “Kita hidup di lembah yang dikelilingi perbukitan… alam sudah menyediakannya” menegaskan keintiman emosional warga dengan tanah ulayat mereka, sekaligus menyingkap kegagapan rakyat menghadapi superioritas amunisi modern lawan.

Di tengah gemuruh ancaman penggusuran dan pusaran konflik politik itu, Willy Pangeran menyelipkan benang merah romantisme sebagai penyeimbang narasi. Cinta monyet antara Pram dan Elisabeth (Elisa)—putri penjabat Belanda, Hendrik Samuel Hagemen—menjadi oasis emosional sekaligus manifestasi dari hubungan antar-identitas yang rumit. Sosok Elisa digambarkan dalam bingkai kesepian yang puitis; ia menatap jendela yang dipisahkan oleh jeruji kayu, merindukan kebebasan di luar kontrol ketat sang ayah dan para pengawal bersenjata.

Relasi rahasia Pram dan Elisa tidak sekadar menjadi bumbu asmara biasa, melainkan simbol perlawanan terhadap prasangka rasial. Ketika sang ayah mendoktrin Elisa bahwa pribumi adalah “sosok yang liar dan kejam”, nurani murni Elisa justru menolaknya. Di sini, Willy Pangeran berhasil menganyam isu realisme sosial tentang alienasi manusia, baik pribumi yang terancam kehilangan tanah airnya, maupun anak pejabat kolonial yang terasing di dalam rumahnya sendiri. Lewat garisan takdir Pram dan Elisa, Pohon Cinta menyuguhkan sebuah naskah sejarah yang bertulang konflik agrarian kokoh, namun berdarahkan kemanusiaan yang hangat.

3

NOVEL Pohon Cinta yang kita baca ini, Willy tidak sekadar menyajikan drama sejarah berlatar kolonialisme; ia secara teliti menguliti bagaimana mesin penindasan beroperasi melalui kombinasi kalkulasi geopolitik yang dingin, dehumanisasi buruh yang sistematik, serta perbenturan nilai dalam tatanan domestik. Perikatan antara Willem Daendels dan Hendrik Samuel Hageman di awal bagian novel ini menegaskan betapa dinginnya mekanisme kolonial. Keputusan-keputusan besar yang menindas dan memeras ribuan jiwa Nusantara tidak lahir dari luapan emosi atau kebencian personal, melainkan hasil kalkulasi rasional di atas kertas peta. Pernyataan bahwa daerah tersebut harus dikeruk habis demi memperbesar wilayah Belanda di Eropa menelanjangi poros utama logika kolonialisme: Nusantara hanyalah ladang pengerukan (extractive zone) bagi ambisi megalomaniak penguasa. Peta dunia yang ingin mereka ubah melambangkan pandangan hegemonik yang mereduksi ruang hidup, kekayaan alam, dan martabat manusia menjadi sebatas angka serta komoditas geopolitik.

Umpan narasi kemudian berpindah ke area pertambangan batu bara—sebuah miniatur neraka kekuasaan yang dihadirkan secara telanjang. Di sini, Willy memunculkan estetika kekerasan yang tajam melalui adegan perkelahian tangan kosong antara seorang pekerja bumiputra dan prajurit Belanda. Para buruh atau orang rantai diperlakukan tak ubahnya mesin yang dipaksa bekerja hingga melampaui batas fisik. Namun, di tengah gempuran teror dan ketakutan, perlawanan simbolis tetap menyala. Hantaman balasan serta pekikan “Belanda sialan!” dari buruh yang bersimbah darah melambangkan sisa-sisa harga diri bangsa terjajah yang menolak tunduk total. Eksekusi tembakan di kepala yang dilakukan sang Jenderal setelah perkelahian itu menjadi bentuk terror-in-action; sebuah instrumen psikologis untuk mematahkan setiap benih pembangkangan kolektif.

Baca Juga :  Anda Dibayar Setelah Membaca Buku, Mau?

Pergerakan narasi menjadi kian kaya ketika fokus bergeser ke dalam rumah dinas sang Jenderal, menghadirkan kontras yang tajam antara kekerasan fisik di luar dan ketegangan ideologis di dalam. Langkah Elisa yang mengendap-endap dan menguping percakapan ayahnya menegaskan posisinya sebagai pembangkang di jantung kekuasaan. Berada di lingkungan elitis kolonial tidak membuat nuraninya tumpul. Stigma “primitif” yang dilontarkan sang Jenderal terhadap bangsa Nusantara justru membentur tembok kesadaran Elisa, sebab ia mengenal sosok Pram. Pemuda pujaan hatinya itu seorang bumiputra yang terbukti cerdas dan bermartabat, jauh dari subordinasi rasial yang dibangun oleh ayahnya.

Bagian ini ditutup dengan ciamik melalui keheningan malam dan dialektika batin Elisa di dalam kamar. Lewat tatapan pada langit-langit dan bayang-bayang sosok Pram, Willy Pangeran berhasil menunjukkan bahwa ruang domestik adalah arena subversi yang sangat menentukan. Keretakan rasa hormat seorang anak terhadap ayahnya menjadi cermin bahwa kekuasaan kolonial yang tampak kokoh dan digdaya dari luar sebenarnya menyimpan kerentanan yang mendalam di bagian dalam. Narasi ini tidak hanya mengalirkan alur cerita, tapi juga menelanjangi wajah asli fasisme kolonial, yaitu sebuah sistem yang merusak tanah, membantai manusia, dan membusukkan moralitasnya sendiri.

4

MEMASUKI bagian-bagian berikutnya, intensitas narasi yang dikembangkan Willy Pangeran tidak lagi bertumpu pada letupan senjata di tambang, melainkan bergerak ke ceruk-ceruk tersembunyi tempat bertautnya perlawanan dan kerinduan. Narasi ini secara cermat mengaitkan dua ranah yang sepintas berseberangan: ruang privat kompleks perumahan elite kolonial dan keriuhan pasar tradisional yang menjadi jantung denyut hidup rakyat jelata. Melalui karakter Ningsih, seorang pelayan tunggal di rumah sang Jenderal, Willy menghadirkan figur kurir subversif yang menjembatani jurang pemisah antara dua dunia yang saling bermusuhan.

Kedudukan Ningsih sebagai satu-satunya pelayan pribumi di rumah penguasa kolonial mencerminkan paradoks ketakutan sang Jenderal. Paranoia akan ancaman mata-mata membuat penguasa membatasi jumlah personil domestik, namun justru memberi ruang bagi lahirnya perlawanan dari dalam. Di bawah pengawasan ketat prajurit berbadan kekar, Ningsih memainkan peran ganda yang berbahaya. Ia tidak hanya menjadi penawar kesedihan bagi Elisa—putri sang Jenderal yang terasing dalam sangkar emasnya—tapi juga bertindak sebagai rantai penghubung rahasia antara Elisa dan Pram. Interaksi emosional antara Elisa dan Ningsih yang melampaui sekat kelas sosial menegaskan bahwa simpati kemanusiaan kerap tumbuh subur di tengah tekanan sistem opresif.

Langkah Elisa meminta Ningsih membelikan pakaian yang mirip dengan busana rakyat pribumi menjadi simbol penyamaran identitas yang sarat makna. Hasrat Elisa untuk menanggalkan atribut kelas penguasa dan mengenakan pakaian rakyat biasa bukan sekadar dorongan impulsif kepolosan muda-mudi, melainkan manifestasi dari kerinduan mendalam untuk melintasi batas-batas rasial dan ideologis. Pakaian pribumi itu menjadi sarana subversi simbolis: sebuah kendaraan identitas yang kelak memungkinkannya keluar dari kungkungan benteng kolonial menuju ruang kebebasan di bawah pohon rindang di atas bukit, tempat cintanya pada Pram bersemi.

Operasi penyelundupan di pasar tradisional yang dilakoni Ningsih menghadirkan ketegangan dramatis yang berhasil ditata dengan apik. Strategi menyembunyikan surat rahasia di balik kaos kaki serta pakaian pribumi di balik lipatan baju di bawah ancaman introgasi prajurit pengawal menunjukkan betapa tindakan-tindakan kecil rakyat jelata mampu meloloskan diri dari ketatnya cengkeraman militer. Pasar dalam bagian ini bukan lagi sekadar pusat transaksi ekonomi, melainkan arena taktis bagi jaringan kurir bawah tanah untuk meretas barikade kekuasaan.

Kendati demikian, bagian ini menyisakan catatan kritis yang sangat mendasar terkait konsistensi teknik penceritaan sang pengarang, khususnya dalam pengelolaan sudut pandang (point of view). Willy Pangeran tampak terjebak dalam ambiguitas naratif yang lumayan membingungkan pembaca. Narasi dibuka dan berjalan cukup lama menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu (third-person omniscient), di mana narator mengamati gerak-gerik Ningsih, Elisa, hingga prajurit pengawal secara objektif dari luar. Namun, secara mendadak dan tanpa transisi struktural yang jelas, penceritaan meloncat menjadi sudut pandang orang pertama (first-person “aku”) saat Ningsih menemui tokoh di pasar (“Ningsih mendapatiku yang sedang duduk…”) dan berlanjut hingga adegan perenungan di balik rintik hujan bersama sang ibu.

Lompatan sudut pandang yang ganjil ini memperlihatkan celah dalam kontrol stilistika pengarang. Pembaca dibuat bertanya-tanya: siapakah sejatinya pemegang kendali cerita ini? Apakah narator yang berdiri di luar cerita, ataukah Pram yang tiba-tiba mengambil alih fungsi pencerita saat dirinya hadir dalam adegan? Inkonsistensi ini agak mencederai kerapian estetika novel, sebab pergeseran perspektif yang tidak disengaja dapat memutus fokus emosional dan merusak konvensi penceritaan yang telah dibangun sejak awal. Terlepas dari cacat teknis naratif tersebut, bagian ini tetap berhasil mempertegas pesan utama bahwa di tengah pekatnya awan kemelut kolonialisme, harapan akan kebebasan dan cinta selalu menemukan celahnya untuk terus bernapas.

5

AKSI pelarian Elisa dari kungkungan penjara emasnya dilukiskan dengan detail taktis yang mendebarkan. Merangkak di bawah barikade kawat berduri dan memperhitungkan jeda patroli prajurit lewat jam tangan menjadi simbol subversi pribadi yang nyata. Elisa bukan lagi sekadar figur perempuan pasif yang meratapi nasib di balik jendela. Gadis ini menjelma menjadi subjek yang merebut kebebasannya sendiri. Menariknya, keputusan Elisa untuk melarikan diri dan memilih tinggal bersama Pram menghadirkan perbenturan budaya yang unik sekaligus menyentuh di tingkat domestik.

Elisa akhirnya bertemu Pram dan tinggal di rumah Pram bersama ibunya. Adegan tatkala Elisa duduk di bangku kecil dengan jemari cantiknya memegang pisau untuk belajar mengupas ubi kayu bersama ibu Pram menjadi semacam “domestikasi” yang sarat makna simbolis. Pengalaman mengupas ubi dan mengenakan pakaian peninggalan ibu Pram mencabut seluruh privilese kelas kolonial yang melekat padanya, menyatukannya secara organik ke dalam ritme kehidupan rakyat jelata. Di sisi lain, penerimaan ayah Pram yang bersedia menepis ego batinnya demi sang anak menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan di kalangan masyarakat lokal jauh melampaui prasangka rasial yang sempit.

Baca Juga :  “Anarki Kreativitas” dan Gagal Paham Ala Doddi Ahmad Fauzi

Sementara di markas militer, sikap dingin Sang Jenderal dan Komando Belanda yang memandang penduduk lokal sebagai “bangsa primitif” justru berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Kegagalan patroli militer menembus ganasnya alam rawa dan bukit hingga memakan korban jiwa di pihak prajurit Belanda memperlihatkan keterbatasan kekuatan imperial. Alam Nusantara dan ketangguhan warga desa menjadi tembok tak kasat mata yang sulit ditundukkan oleh sekadar doktrin militer dan letusan senjata.

Puncak narasi bagian ini bermuara pada konsolidasi politik warga di balai desa. Penemuan kain bekas dan sisa arang oleh Pram dan Mawan yang membuktikan sabotase Belanda terhadap ladang serta persediaan makanan warga menjadi pemantik kesadaran kolektif. Di sini, karakter Pram tumbuh matang sebagai pemimpin muda yang responsif. Pembagian peran antara menjaga ketahanan pangan desa, menggalang pemuda untuk patroli malam, hingga mengintai benteng pertambangan menunjukkan bahwa perlawanan rakyat tidak lahir dari impulsivitas emosional, melainkan dari konsolidasi strategi yang terencana dan kolektif.

Secara teknis penceritaan, bagian ini memperlihatkan dinamika konflik yang dikelola dengan sangat baik oleh pengarang. Meskipun transisi sudut pandang pencerita (point of view) masih sesekali terasa melompat secara mendadak antara narator serbatahu dan perspektif “aku” tokoh Pram, ritme penceritaan yang cerdas dan kaya adegan membuat pembaca tetap terhanyut. Willy Pangeran berhasil membuktikan bahwa cinta antara Elisa dan Pram bukan sekadar kisah kasmaran picisan, sebaliknya poros utama yang menggerakkan roda perlawanan dan menelanjangi kebobrokan sistem kolonial hingga ke akar-akarnya.

6

KEPERGIAN Elisa bukan sekadar memicu konflik keluarga, melainkan meretakkan fondasi otoritas Sang Jenderal—ayahnya. Kehilangan putri tunggalnya membongkar paranoia mendalam yang selama ini disembunyikan di balik seragam militer dan moncong senjata.

Pelatuk yang kembali ditarik Sang Jenderal untuk mengeksekusi prajuritnya sendiri di dalam ruang tamu menegaskan bahwa fasisme kolonial selalu memakan korbannya tanpa pandang bulu, bahkan terhadap kaki tangannya sendiri. Kegagalan menjaga Elisa diposisikan sebagai ancaman fatal terhadap ego dan supremasi sang penguasa. Melalui sudut pandang Ningsih yang kembali mengintip dari balik lorong, Willy secara konsisten memperlihatkan peran rakyat kecil sebagai saksi bisu dari kerapuhan dan kekejaman struktur kekuasaan yang tampak digdaya namun membusuk dari dalam.

Di medan gerilya, narasi menghadirkan benturan yang kian kelam melalui krisis di area kamp militer Belanda. Serangan alam—gigitan ular berbisa, serangga rawa, dan penyakit misterius—menjelma menjadi benteng pertahanan alami Nusantara yang tidak mampu ditaklukkan oleh teknologi persenjataan kolonial. Kematian tragis para prajurit yang berujung pada aksi bunuh diri di dalam tenda menelanjangi ironi besar bahwa para penindas pada akhirnya hancur oleh teror ketakutan mereka sendiri. Perintah Komandan untuk menumpuk empat jenazah prajurit dalam satu liang kubur secara lugas menggambarkan betapa sistem militer kolonial mereduksi martabat manusia menjadi sebatas angka dan beban logistik.

Sementara itu, penerapan taktik racun pada ladang dan sumber air warga desa menandai puncak kejahatan dehumanisasi. Penerapan strategi bumihangus ini memperlihatkan ketidakmampuan kolonial menundukkan perlawanan warga melalui pertempuran terbuka, sehingga mereka memilih merusak daya hidup masyarakat hingga ke akar-akarnya. Adegan di pelataran desa yang berubah menjadi “kolam air mata”—ketika anak-anak, para petani, dan orang tua meratapi panen yang membusuk serta ternak yang mati—menjadi representasi paling tragis dari dampak kejahatan perang terhadap rakyat sipil.

Namun, di tengah reruntuhan keputusasaan komunal tersebut, Willy menyisipkan penyingkapan moral yang sangat krusial melalui masa lalu ibu Elisa. Pengakuan Elisa mengenai ibunya yang dihukum mati karena merawat pejuang pribumi—dan keputusan Sang Jenderal yang memilih mengorbankan nyawa istrinya demi mempertahankan jabatan—menelanjangi hakikat sejati dari hegemoni kolonial. Kekuasaan kolonial dibangun di atas penindasan nilai-nilai kemanusiaan dasar, di mana cinta dan kesetiaan keluarga harus ditumbalkan demi tingginya takhta jabatan.

Keputusan Pram untuk menikahi Elisa di tengah kepungan krisis menjadi klimaks emosional yang sarat makna simbolis. Pernikahan ini bukan sekadar pelarian muda-mudi yang dimabuk asmara, tapi sebuah tindakan perlawanan politik. Dengan menerima Elisa keluarga Pram merebut kembali hakikat kemanusiaan yang dicoba dihancurkan oleh mesin perang Belanda. Langkah nekat mereka menembus barikade militer demi mencari pemuka agama di desa tetangga melambangkan harapan yang menolak padam bahwa di atas tanah yang diracuni dan di bawah bayang-bayang moncong senapan, cinta dan keadilan tetap tembus mencari jalannya sendiri.

7

KEPUTUSAN kolektif para tetua dan pemuda desa—Pak Sukiman, Pak Karyono, Pak Suroyo, Mawan, hingga Pram—untuk mengalihkan taktik dari posisi defensif menjadi serangan balik merupakan titik balik ideologis yang krusial. Ketika racun kolonial mematikan ladang dan ternak, masyarakat tidak memilih pasrah. Gagasan nekat Pram untuk menyelinap ke atas kereta uap pendorong logistik dari Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur) memperlihatkan transformasi kesadaran bertarung rakyat bahwa perlawanan terhadap hegemoni militer tak selalu lewat adu senjata, melainkan lewat peretasan rantai pasok musuh. Aksi Pram dan Mawan yang menjatuhkan pasokan beras, daging, dan buah-buahan dari kereta berjalan dieksekusi pengarang dengan ritme yang sangat mendebarkan, sekaligus menghadirkan momen kemenangan kecil yang membangkitkan kembali martabat warga desa.

Di sisi lain, jalinan narasi di desa tetangga menghadirkan simpul-simpul keterikatan karakter yang tertata rapi. Perjumpaan Pram dan Elisa dengan Pak Malik—seorang pemuka agama yang juga kakak kandung Ningsih—membuka selubung bagaimana jaringan perlawanan bawah tanah beroperasi secara terorganisasi di belakang layar. Namun, kehangatan rencana pernikahan sakral di tepi sungai itu seketika pecah ketika patroli tentara Batavia memburu Pak Malik dan berujung pada penangkapan Elisa. Keberanian Bu Yanti yang menjadikan tubuhnya sebagai tameng manusia mempertegas solidaritas organik masyarakat pribumi yang siap melindungi sesamanya meski berada di bawah ancaman moncong senapan.

Konfrontasi antara Elisa dan Gubernur Jenderal Willem Daendels di dalam jeruji besi yang dingin menjadi puncak ketegangan yang amat tajam secara ideologis. Di hadapan penguasa tinggi Hindia Belanda, Elisa menolak memosisikan dirinya sebagai ras superior. Tindakannya meludahi dan menentang Daendels secara terbuka membuktikan pembangkangan moral yang tuntas. Penyingkapan fakta bahwa ibu Elisa dulu juga dihukum gantung karena menjadi relawan medis bagi pejuang pribumi—sebuah hukuman mati yang dibiarkan oleh suaminya sendiri demi mempertahankan takhta Jenderal—menegaskan adanya siklus tragedi keturunan. Pengorbanan sang ibu kini berulang pada diri Elisa.

Kesedihan mendalam dan penyesalan atas tertangkapnya Elisa tidak membuat Pram melarikan diri dari tanggung jawab sosialnya. Panggilan untuk kembali ke balai desa demi menyelamatkan warga dari ancaman kelaparan menegaskan kematangan karakter Pram sebagai calon pemimpin. Willy Pangeran secara brilian memperlihatkan bahwa dalam struktur novel Pohon Cinta, takdir cinta personal dan nasib perjuangan kolektif bangsa adalah dua sisi mata uang yang mustahil dipisahkan.

Baca Juga :  Ketika Harga-Harga Membengkak, Kita Bisa Apa?

8

ESKALASI konflik novel ini kian bergerak dari strategi penyusupan senyap menuju tragedi kolosal dan pertumpahan darah yang memilukan. Narasi dibuka dengan ketegangan operasional ketika Pram, Mawan, dan Pak Karyono menyusup ke dalam gudang logistik militer musuh. Aksi pencurian beras dan bahan makanan yang pada awalnya berjalan mulus berkat kecerdikan siasat berubah menjadi petaka ketika hilangnya Pak Suroyo menandakan jebakan sistematis yang telah dipasang oleh aparat kolonial. Di sini, Willy memperlihatkan bagaimana mesin militer Belanda tidak semata bertumpu pada kekuatan fisik, tapi juga pada kalkulasi teror yang terencana.

Kepedihan mencapai titik didihnya tatkala pembantaian di lapangan desa dieksekusi secara dingin oleh sang Komandan. Eksekusi mati terhadap Pak Sukiman sebagai kepala desa yang berani bertanggung jawab, disusul oleh pembunuhan keji atas Pak Suroyo, dan puncaknya adalah gugurnya ayah Pram di hadapan matanya sendiri, menjelma menjadi titik balik penceritaan. Adegan ini ditulis dengan sentuhan emosional yang mengoyak batin, mengubah ratapan warga dan kolam air mata di pelataran desa menjadi bahan bakar api perlawanan. Kematian para sesepuh desa bukan lagi sekadar duka personal, sebaliknya simbol pemusnahan martabat komunitas yang menuntut balas.

Transisi dari duka menuju aksi gerilya total digambarkan secara bernas. Ketika struktur kepemimpinan tradisional terkoyak, generasi muda yang dipimpin oleh Pram mengambil alih komando melalui taktik penyusupan bawah tanah ke markas musuh. Upaya penyusupan malam hari yang berujung pada baku tembak di ruang bawah tanah dan penyelamatan dramatis Elisa dari cengkeraman penjara kolonial memperlihatkan transformasi watak tokoh. Pram dan Mawan tidak lagi bergerak atas dasar emosi sesaat, melainkan menjalankan strategi militer bawah tanah yang terukur, meski harus bertaruh nyawa di bawah kepungan serdadu penindas.

Namun, kekuatan terbesar novel ini terletak pada tragedi akhir yang menumbangkan segala bentuk romantisme kepahlawanan. Tertangkapnya kembali Pram di padang sabana oleh pasukan besar di bawah komando Sang Jenderal, dan konfrontasi terakhir di hadapan Gubernur Jenderal Willem Daendels, memperlihatkan benturan ideologis yang absolut. Pernyataan tegas Pram sebelum pelatuk ditarik bahwa kemerdekaan adalah keniscayaan dan tanah ini adalah hak mutlak pribumi menegaskan bahwa perlawanan tidak pernah mati meskipun raganya dibinasakan.

Tragedi ini semakin sempurna dalam kepedihan saat Elisa, yang menolak tunduk pada tekanan darah dan bangsanya sendiri, memilih jalan kesetiaan mutlak dengan menyusul ibunya dan Pram lewat moncong senjata ayahnya sendiri. Pengorbanan Sang Jenderal yang menembak putri kandungnya demi mempertahankan kursi kekuasaan menjadi kritik sosial-politik yang sangat tajam mengenai bagaimana kolonialisme membusukkan nurani kemanusiaan hingga ke dalam relung keluarga terkecil. Melalui akhir yang heroik namun berdarah-darah ini, Willy Pangeran berhasil mengukuhkan Pohon Cinta bukan sekadar roman picisan, melainkan sebuah monumen sastra tentang harga mahal sebuah kemerdekaan dan cinta sejati yang ditebus dengan nyawa.

9

MEMBEDAH status keberadaan Pohon Cinta karya Willy Pangeran membawa kita pada pertanyaan mendasar: apakah karya ini layak disebut sebagai novel sejarah? Dalam konvensi sastra, sebuah novel sejarah (historical novel) idealnya tidak hanya meminjam nama tokoh atau peristiwa masa lalu, melainkan dibangun di atas kriteria yang ketat. Kriteria tersebut mencakup penggunaan latar waktu dan tempat yang faktual, akurasi sosio-politik yang mampu merekonstruksi suasana zamannya, serta kedalaman riset (historical accuracy) yang menjaga integritas realitas sejarah.

Jika diuji dengan kriteria tersebut, Pohon Cinta lebih tepat dikategorikan sebagai roman rekaan berlatar sejarah (historical romance/fiction), bukan novel sejarah murni. Pengarang memang menghadirkan figur historis seperti Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, lalu mengaitkannya dengan eksploitasi tambang batu bara, krisis 1898, serta Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur). Namun, hadir anakronisme yang amat mencolok: Daendels memerintah Hindia Belanda pada kurun 1808–1811, sementara Pelabuhan Emmahaven dan tambang batu bara Ombilin baru beroperasi aktif di akhir abad ke-19 (1888–1892). Pencampuran rentang waktu yang terpaut hampir satu abad ini menegaskan bahwa pengarang menjadikan latar sejarah sekadar sebagai panggung dramatisasi untuk menopang tema utama: cinta, kemanusiaan, dan perlawanan.

Di samping kelonggaran riset sejarah, naskah ini menyimpan beberapa kelemahan struktural yang perlu mendapat perhatian serius. Pertama, menyangkut kerapuhan logika cerita (story logic). Kemudahan Elisa—seorang putri Jenderal Belanda—meloloskan diri, merangkak di bawah kawat berduri, hingga diterima begitu cepat di tengah keluarga pribumi tanpa dicurigai sebagai mata-mata terasa sangat idealistis. Logika ini mengabaikan ketatnya paranoia militer serta tingkat kewaspadaan tinggi masyarakat lokal pada masa perang. Kedua, terjadi inkonsistensi sudut pandang (point of view) yang cukup fatal. Pengarang kerap berganti-ganti secara mendadak antara sudut pandang orang ketiga serbatahu (ia, Sang Jenderal, Elisa, Ningsih) dengan sudut pandang orang pertama (aku, Pram). Tanpa adanya pembatas bab atau transisi struktural yang rapi, lompatan perspektif ini mencederai kerapian estetika penceritaan.

Kebocoran teknis juga masih marak ditemukan di sejumlah halaman, menandakan bahwa naskah ini memerlukan penyuntingan (editing) yang lebih ketat sebelum terbit menjadi buku utuh. Kesalahan ketik seperti kata kaingin yang seharusnya keinginan, kata Ia bertuliskan huruf kapital di tengah kalimat, hingga kesalahan ejaan seperti Perjalan, pasukkannya, Nantik, Komanda, serta kerancuan ujaran seperti “Ia sikap pintu…” yang mestinya singkap, menjadi catatan kritis tersendiri. Begitu pula dengan kesalahan pola tanda baca pada kalimat pengiring dialog, misalnya “Dibakar saja.” Tungkas ayah. yang seharusnya diakhiri tanda koma dan huruf kecil (“Dibakar saja,” tukas Ayah.), atau “Kamu ikut besok.” Tegasnya. yang semestinya “Kamu ikut besok,” tegasnya.

Kendati menyimpan catatan teknis dan kelonggaran historis, Pohon Cinta tetap berhasil menyampaikan pesan moral yang sangat bernas. Melalui hubungan Pram dan Elisa, novel ini menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan mampu menembus sekat-sekat kaku rasialisme serta status sosial. Karakter Elisa dan ibunya mengajarkan bahwa keberanian untuk berdiri di atas kebenaran sering kali menuntut pengorbanan besar, bahkan ketika harus berseberangan dengan keluarga dan bangsanya sendiri. Sementara itu, sosok Sang Jenderal menjadi cermin peringatan tentang bagaimana ambisi jabatan dan doktrin militeristik dapat membusukkan nurani hingga tega menumbalkan darah daging sendiri. Sementara perjuangan warga desa menegaskan sebuah hakikat perlawanan bahwa kemerdekaan dan martabat tidak pernah diberikan secara cuma-cuma, sebaliknya ditebus lewat pengorbanan, persatuan, dan ketangguhan yang tak kunjung padam. []

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

 

BERITA TERKINI EDITORIAL