INSERTRAKYAT.COM — Untuk Pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) mulai menunjukkan hasil di sejumlah sektor. Jalan dan jembatan nasional telah pulih 100 persen.
Namun, pekerjaan besar masih tersisa. Pembangunan hunian tetap (huntap) untuk masyarakat terdampak baru mencapai 2.085 unit dari target 57.027 unit hingga 5 Oktober 2026.
Artinya, masih ada 54.942 unit huntap yang belum selesai dibangun hingga Selasa (6/10/2026).
Data tersebut disampaikan Ketua Satgas PRR, Tito Karnavian melalui Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Amran, di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin.
“Untuk infrastruktur jalan nasional dan jembatan nasional itu sudah 100 persen hingga hari ini,” kata Amran.
Pemulihan kemudian diarahkan pada infrastruktur daerah yang progresnya belum seragam.
Jalan daerah di Aceh telah pulih 94,20 persen, Sumut 98,53 persen, dan Sumbar 83,23 persen. Sementara progres jembatan daerah masih tertinggal, yakni 58,93 persen di Aceh, 93,98 persen di Sumut, dan 59,50 persen di Sumbar.
Amran mengatakan pembangunan jembatan daerah terus dipercepat. Sejumlah pekerjaan juga mendapat dukungan TNI Angkatan Darat dan Polri, termasuk pembangunan jembatan Bailey.
“Jembatan daerah ini berprogres, dan akan terus diupayakan hingga tuntas secepatnya,” ujarnya.
Berbeda dengan huntap, pembangunan hunian sementara (huntara) hampir seluruhnya rampung.
Dari target 20.803 unit huntara, sebanyak 20.770 unit telah selesai dibangun. Progresnya mencapai hampir 100 persen.
Satgas menjelaskan pembangunan huntap membutuhkan proses lebih panjang karena mencakup penyiapan lahan hingga pembangunan fisik.
Amran mengatakan proses tersebut terus dikawal agar masyarakat terdampak mendapat kepastian tempat tinggal.
“Capaian ini terus ditingkatkan karena masyarakat membutuhkan kepastian tempat tinggal tentunya, dan kita berharap bahwa ini akan selesai tepat pada waktu yang ditentukan,” katanya.
Di sektor layanan dasar, fasilitas kesehatan dan pendidikan telah berfungsi secara fungsional 100 persen.
Dari 1.593 rumah ibadah, sebanyak 1.558 unit telah kembali beroperasi. Sementara rehabilitasi dan rekonstruksi 490 lembaga pendidikan keagamaan masih dilakukan.
Listrik, layanan SPBU, dan akses internet di Aceh, Sumut, dan Sumbar juga telah berfungsi 100 persen.
Normalisasi sungai dan muara tetap berjalan untuk mengurangi risiko bencana lanjutan.
Pemulihan tidak hanya terlihat dari infrastruktur dan layanan publik. Aktivitas ekonomi masyarakat juga mulai kembali bergerak.
Satgas mencatat aktivasi pasar rakyat di Aceh telah mencapai 90 persen. Di Sumut dan Sumbar, pasar rakyat telah aktif 100 persen.
Akses pembiayaan usaha melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga terus berjalan. Hingga 5 Oktober 2026, tercatat 121.984 debitur KUR di Aceh, 44.049 debitur di Sumut, dan 27.670 debitur di Sumbar.
“Ini menandakan bahwa program yang sudah bergerak, masyarakat sudah mulai bangkit kembali dalam perekonomian,” ujar Amran.
Aktivitas UMKM melalui perdagangan elektronik juga tercatat tinggi. Hingga 26 Agustus 2026, terdapat 40.634.395 transaksi UMKM.
Pada sektor pertanian, pemulihan lahan sawah di tiga provinsi menunjukkan progres berbeda.
Di Aceh, pemulihan konstruksi mencapai 56,71 persen atau 17.844 hektare. Sumut mencapai 96,57 persen atau 7.085 hektare, sedangkan Sumbar telah mencapai 100 persen atau 3.902 hektare lahan terdampak.
Pemulihan sektor kelautan dan perikanan dilakukan melalui pemulihan budi daya ikan, bantuan perikanan tangkap, rehabilitasi tambak seluas 10,88 hektare, serta dukungan sarana pengolahan dan pemasaran ikan.
Data Satgas PRR menunjukkan pemulihan pascabencana mulai memasuki fase yang lebih panjang. Infrastruktur nasional telah kembali berfungsi, pasar dan layanan dasar bergerak, tetapi penyelesaian hunian tetap serta sejumlah infrastruktur daerah masih menjadi pekerjaan utama.
Satgas PRR menyatakan percepatan akan terus dilakukan untuk memastikan rehabilitasi dan rekonstruksi di tiga provinsi tersebut berjalan sesuai target.
Jurnalis : Syamsul Bahri
Editor : Supriadi Buraerah
























