Oleh Muhammad Subhan
PERJALANAN darat ke Aceh itu asyik. Apalagi beramai-ramai. Dan, itulah yang saya lakoni hampir dua pekan kemarin, memenuhi undangan panitia Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh-Indonesia, 22—29 Juni 2026.
“Naik apa ke Aceh?” tanya penyair Jambi, Ramayani Riance, ketika tahu saya hendak ke Aceh.
“Bus,” jawab saya.
Memang, mulanya saya hendak naik bus bersama penulis produktif yang banyak memenangkan lomba menulis, Budi Saputra. Ketika nama saya muncul sebagai salah seorang peserta PPN, Budi, yang kini bermukim di Lubukbasung, Kabupaten Agam, menghubungi saya karena puisinya juga lolos kurasi. Bahkan, ia sudah lebih dulu survei harga tiket bus tujuan Padang—Banda Aceh.
Jadilah saya dan Budi berencana naik bus ke Negeri Serambi Mekah. Saya juga menghubungi penyair Bukittinggi, Refdinal Muzan. Rupanya, ia bersama istri dan Syifa, putrinya, sudah lebih dulu memesan tiket bus. Kalau belum, saya berencana mengajak Refdinal berangkat ke Aceh dalam satu bus yang sama.
Beberapa hari menjelang berangkat, Ramayani Riance menawarkan jalan darat dengan mobil pribadi. Kebetulan ia dan Rian Juskal, sang suami, turut diundang sebagai peninjau. Saya diskusikan dengan Budi, dan Budi setuju. Saya juga dihubungi Dedy Bachta, yang karyanya turut lolos kurasi dan ingin bareng saya ke Aceh. Dedy asal Batipuh—kampungnya Hayati dalam novel “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck” karya Hamka—tapi bermukim di Sijunjung. Satu lagi yang menghubungi saya adalah Yusnal Didi, penulis dan jurnalis asal Batusangkar, Tanah Datar, yang mendaftarkan diri sebagai peninjau.
Penuhlah isi satu mobil: enam orang. Dua di depan, tiga di tengah, dan satu di belakang. Sisa satu bangku kosong di belakang dipakai menumpuk tas berisi pakaian dan peralatan lainnya.
Saya teringat Juni 2025 lalu, saat saya juga melakukan perjalanan darat ke Aceh bersama Komunitas Seni Kuflet. Tur literasi ke 11 kabupaten/kota di provinsi di ujung Sumatera itu. Setahun kemudian, Juni 2026 ini, saya kembali ke Aceh untuk kegiatan berbeda, tapi punya benang merah semangat yang sama: sastra, literasi, dan perjumpaan dengan banyak orang.
Maka, benar-benar berangkatlah kami ke Aceh.
Melelahkan, pasti. Namun, asyiknya pasti juga. Setiap kali lelah tiba, kami singgah ke warung kopi, masjid, dan SPBU. Di mana ada tempat dengan spot rancak, kami berhenti, “berkodak-kodak”, sekaligus memungut inspirasi.
Perjalanan darat memang selalu menyediakan kejutan, seperti obrolan di dalam mobil disertai gelak tawa yang tiba-tiba pecah, berbagi cerita masa lalu, sampai senyap yang karib sebab menahan kantuk berat.
Sudah lama juga saya tidak menghadiri pertemuan sastra. Terakhir rasanya pada 2019, saat Festival Sastra Internasional Gunung Bintan di Kepulauan Riau dan Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Di Banjarbaru, puisi saya lolos tiga terbaik sehingga menjadi tiket pergi-pulang ke dan dari perhelatan itu. Tahun 2022, Padang Panjang juga menggelar Temu Penyair Asia Tenggara II, tapi saat itu saya terlibat sebagai panitia.
Perjalanan ke Aceh kali ini seperti membuka kembali kenangan yang sempat tertutup. Ada kegembiraan yang sulit saya jelaskan ketika bertemu lagi dengan kawan-kawan penyair, baik yang telah lama bertungkus-lumus di jalan berkesenian maupun penyair-penyair muda dengan berbagai latar belakang mereka yang datang dari berbagai penjuru Tanah Air dan Nusantara.
Banyak inspirasi perjalanan ke Aceh. Selain silaturahmi bertemu sesama penyair, setiap kegiatan di PPN menyisakan bahan renungan. Pertunjukan baca puisi, diskusi publik, hingga kunjungan ke sejumlah destinasi menghadirkan banyak hal yang bisa dikutip-pungut, dicatat, lalu diolah kembali menjadi puisi, esai, atau karya lainnya. Bagi saya, sebuah pertemuan sastra tidak pernah berhenti pada acara seremonial belaka. Sebaliknya, ia menjadi ruang perjumpaan, pertukaran pengalaman, sekaligus ruang belajar.
Setiap kali menghadiri sebuah perhelatan sastra dan literasi, saya selalu melihat bagaimana sebuah acara dikelola, apa saja konten kegiatannya, dan cerita-cerita di baliknya. Saya selalu belajar banyak dari setiap perjalanan dan penyelenggaraan sebuah kegiatan. Di balik panggung megah, selalu ada kerja luar biasa yang sering luput dilihat orang.
Tentu tidak mudah mengadakan sebuah pertemuan sastra. Mulai dari menyusun konsep, menyiapkan proposal, mengelola anggaran, berhubungan dengan banyak pihak, mengatur jadwal, memastikan perpindahan peserta dari satu titik ke titik lain, hingga mengoordinasikan relawan yang menjadi pendamping atau liaison officer (LO) bagi tamu dan undangan. Kerja kebudayaan memang sering tampak romantis dari luar, tapi sesungguhnya penuh urusan teknis yang memusingkan kepala, melelahkan, bahkan kadang menguras emosi.
PPN XIV Aceh dikelola cukup baik, terlepas dari sejumlah kekurangan. Sudah pasti, jika ada yang kurang, itu menjadi bahan evaluasi. Dan, kegiatan berikutnya pun punya catatan agar bisa lebih baik.
Saya senang panitia turut melibatkan saya sebagai salah seorang tim perumus yang memberikan rekomendasi. Dari kedekatan itulah saya melihat langsung bahwa dalam acara sebesar ini, yang penting bukanlah menghadirkan kesempurnaan, sebaliknya kesungguhan untuk bekerja, kemampuan mengatasi persoalan di lapangan, dan kerelaan untuk terus memperbaiki diri.
Apalagi, medan yang ditempuh peserta PPN Aceh tidak ringan. Ada empat kota yang dilalui peserta (Banda Aceh, Bireuen, Aceh Tengah, dan Aceh Besar), dengan jarak dari satu kota ke kota lainnya yang bisa ditempuh 5—7 jam. Bahkan, perjalanan Banda Aceh—Takengon hari itu hampir 11 jam karena kondisi medan di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang parah pascabencana alam akhir tahun lalu. Jalan panjang, tikungan yang tidak sedikit, tanjakan dan turunan bukit, melintasi jalur sungai berbatu sisa banjir bandang—yang sekaligus menjadi pengingat duka bagi kami yang melintas—serta waktu tempuh yang melelahkan tentu menjadi tantangan tersendiri, baik bagi panitia maupun peserta.
Saya bisa membayangkan betapa rumitnya mengatur mobilisasi peserta dalam kondisi seperti itu. Soal waktu yang molor, peserta yang kelelahan bahkan ada yang sakit, kebutuhan makan dan istirahat, perubahan agenda, hingga urusan penginapan, semuanya harus dihadapi dengan kepala dingin. Dan, di titik inilah saya melihat kerja panitia PPN Aceh patut diapresiasi.
Tahun 2018 dan 2022 saya turut mengelola perhelatan Temu Penyair Asia Tenggara (TPAT) I dan II di Padang Panjang yang melibatkan ratusan penyair Asia Tenggara. Saya tahu benar susah-senangnya mengelola acara seperti itu. Ada hal-hal yang di atas kertas tampak mudah, tapi di lapangan bisa berubah seketika. Ada tamu yang datang terlambat, ada jadwal yang mesti dirombak, ada urusan teknis yang mendadak muncul, dan semua itu harus diselesaikan tanpa membuat acara kehilangan marwahnya.
Sungguh, saya senang melihat semangat panitia PPN Aceh dan anak-anak muda relawan yang begitu bersemangat menyambut dan melayani berbagai keperluan peserta. Mereka lincah bergerak ke sana-sini, menjawab pertanyaan, membantu kebutuhan tamu, memastikan acara berjalan, sambil tetap ramah meski wajah sudah tampak lelah. Di tangan orang-orang seperti inilah kerja kebudayaan turut ditopang: oleh mereka yang tidak banyak tampil di panggung, tapi justru membuat panggung itu bisa tegak-berdiri.
“Senang jadi LO?” tanya saya kepada Ica dan Asya, dua relawan muda yang baru tamat kuliah dan mendaftarkan diri mereka sebagai LO PPN XIV Aceh.
“Senang banget,” jawab keduanya. “Banyak pengalaman,” kata mereka lagi. Saya coba ajak Ica dan Asya berbahasa Aceh, karena saya paham Bahasa Aceh sebab ayah saya orang Aceh, tapi keduanya menjawab dengan bahasa Indonesia. Mungkin sebuah bentuk kesantunan anak muda dalam menjamu tamu dari luar daerah.
Dari perjalanan ke Aceh itu, saya kembali diingatkan bahwa sastra tidaklah semata menulis puisi, lalu membacakannya, atau menerbitkan buku. Sastra juga hidup dari perjumpaan, perjalanan, kerja kolektif, dan dari kesediaan banyak orang untuk menyisihkan waktu dan tenaga demi sebuah acara yang mungkin tidak mendatangkan keuntungan materi apa-apa. Sastra bertahan karena ada orang-orang yang percaya bahwa kata-kata tetap penting dirawat dan diingat.
Jalan darat ke Aceh memang melelahkan. Dan saat esai ini saya tulis, saya dan kawan-kawan serombongan sudah tiba di Pekanbaru, Riau, jalan menuju Sumatera Barat dan Jambi. Lelah yang sungguh asyik. Dan, di balik itu, saya pulang membawa sesuatu yang lebih penting, yaitu keyakinan bahwa ekosistem sastra di negeri ini masih dijaga oleh orang-orang yang bekerja dengan hati. Mereka adalah panitia, relawan, peserta, penyair, peninjau; semua mengambil peran masing-masing. Pun, hal serupa telah atau sedang dilakukan oleh banyak pertemuan dengan nama dan tempat lain yang terus berikhtiar menyalakan api literasi di Nusantara. (MUHAMMAD SUBHAN)











