Oleh Muhammad Subhan

MENYIAPKAN siswa juara sebenarnya tidak terlalu sulit. Setidaknya itu pengalaman saya selama mendampingi siswa-siswa dari sejumlah sekolah yang disiapkan mengikuti kompetisi, khususnya di bidang literasi, wabil khusus tulis-menulis.

Alasan tidak terlalu sulit adalah sepanjang dukungan yang kuat dari pihak sekolah dan orang tua, siswa punya peluang untuk meraih prestasi. Dukungan tentu tidak sekadar motivasi, tapi juga seperti apa bentuk fasilitasi yang diberikan.

Fasilitas dimaksud, wadah yang diberikan kepada siswa sifatnya seperti apa, “kagetan” atau keberlanjutan. “Kagetan” ya “penyakit” umum sebagian sekolah yang “kaget” alias “terkejut” ketika tiba-tiba menerima undangan lomba, lalu krasak-krusuk menunjuk siswa yang mungkin berbakat untuk mewakili sekolah. Latihan terbatas, hanya satu dua kali, lalu siswa dimaksud didorong maju ke tengah gelanggang untuk bertanding. Karena tidak punya bekal dan kesiapan yang matang, siswa tersebut harus pulang dengan kekalahan.

Tapi walau demikian, cukuplah. Sudah mau berpartisipasi dan mau menunjukkan keberanian berlaga meski belum juara. Di titik ini mental juaranya sudah ada, masih sangat minim, tinggal diasah lebih tajam sehingga di masa mendatang tampil sesuai harapan.

Sejatinya, menyiapkan siswa juara bukan “kagetan”, tapi memberikan pendampingan berkelanjutan. Jauh-jauh hari sudah melakukan seleksi calon siswa juara dengan memberikan mereka program pendampingan dan pelatihan rutin. Siswa bisa didampingi guru yang keahliannya teruji, atau juga dapat belajar dari praktisi ahli di luar sekolah.

Mengundang praktisi ahli dari kalangan profesional memang punya konsekuensi biaya, maka penting pula jauh-jauh hari menyiapkan anggarannya. Tapi anggaran juga bukan satu-satunya penghalang agar sekolah dapat mendatangkan praktisi dari kalangan sastrawan, wartawan, seniman, dan lainnya. Sepanjang dapat didialogkan, anggaran bukan satu-satunya tujuan, meski tetap penting.

Setelah didapatkan praktisi ahli sesuai keinginan sekolah, wadah latihannya harus dilakukan rutin dan terus-menerus. Paling bagus persiapan dilakukan setahun sebelum kompetisi diikuti, atau sekurang-kurangnya enam bulan. Selama waktu latihan, siswa benar-benar didampingi, tidak dilepaskan begitu saja kepada praktisi. Harus ada ruang dialog antara praktisi, guru, siswa, dan orang tua agar perkembangan siswa dapat dilihat bersama, termasuk kekurangan yang harus diperbaiki.

Menyiapkan siswa bermental juara bukan berarti membuat mereka selalu menang. Yang lebih penting adalah membentuk anak yang berani mencoba, tahan menghadapi kegagalan, disiplin berlatih, dan mampu bangkit ketika hasil belum sesuai harapan.

Saya kira ini yang sering luput. Kita terlalu cepat menyebut seorang anak memiliki mental juara ketika ia memenangkan lomba dan membawa pulang piala. Padahal mental juara justru lebih jelas terlihat ketika ia kalah. Bagaimana ia menerima kekalahan, bagaimana ia menghadapi kekecewaan, lalu apakah ia masih mau kembali berlatih.

Guru dan orang tua punya peran penting di sini. Anak perlu dibangun keyakinannya bahwa kemampuan bisa dilatih. Jangan hanya mengatakan, “Kamu memang pintar.” Lebih baik katakan, “Kamu berkembang karena mau berlatih.” Dengan begitu, anak belajar bahwa prestasi bukan semata-mata urusan bakat.

Anak juga perlu dibiasakan memiliki target. Target tidak harus selalu juara satu. Bisa saja minggu ini menyelesaikan satu tulisan, memperbaiki teknik membaca, berani tampil di depan kelas, atau menyelesaikan latihan yang sebelumnya belum mampu dilakukan. Target-target kecil semacam itu akan membuat anak melihat sendiri perkembangan dirinya.

Kegagalan pun perlu dikenalkan sejak dini. Siswa yang kalah dalam lomba bukan berarti dirinya gagal. Yang perlu dilakukan adalah melihat apa yang sudah baik, apa yang masih kurang, dan apa yang akan dilakukan berikutnya. Jangan sampai kekalahan membuat anak merasa dirinya tidak berbakat, lalu berhenti mencoba.

Di sinilah pentingnya menghargai proses. Kedisiplinan, keberanian, ketekunan, kemampuan menerima kritik, dan kemajuan kecil perlu diapresiasi. Anak tidak boleh hanya bersemangat ketika ada hadiah atau ketika namanya disebut sebagai pemenang.

Pengalaman berkompetisi juga penting. Dari kompetisi anak belajar mengelola rasa gugup, menerima kemenangan, menghormati lawan, dan tetap berdiri menegakkan kepala setelah kalah. Kompetisi yang sehat bukan sekadar mencari siapa yang terbaik, tapi juga ruang belajar menghadapi kehidupan.

Mental juara juga dibangun dari kebiasaan sederhana: datang tepat waktu, berlatih rutin, menyelesaikan tugas, membaca, menulis, memperbaiki karya, dan tidak cepat puas. Keinginan menjadi juara saja tidak cukup. Bakat mungkin membuka pintu, tapi disiplin yang membuat anak mampu bertahan.

Jangan pula membandingkan seorang anak dengan anak lainnya. Setiap anak memiliki kecepatan dan kekuatannya sendiri. Lebih baik ia dibandingkan dengan dirinya sendiri. Apakah hari ini lebih baik daripada kemarin? Dari sana motivasi tumbuh dari dalam, bukan karena terus-menerus ingin mengalahkan orang lain.

Guru juga harus menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk gagal. Anak yang takut salah akan sulit berkembang. Kelas seharusnya menjadi ruang untuk mencoba, salah, bertanya, menerima kritik, lalu mencoba lagi. Begitu pula orang tua. Jangan setiap kekalahan langsung disambut dengan kemarahan atau pertanyaan, “Kenapa tidak juara?”

Yang tidak kalah penting adalah mengajarkan sportivitas. Anak yang benar-benar bermental juara tidak meremehkan lawan ketika menang dan tidak menyalahkan orang lain ketika kalah. Ia mampu mengakui keunggulan orang lain, menerima kritik, dan tetap rendah hati ketika berdiri di podium.

Piala hanya sebuah benda, dan pada masanya kelak akan lapuk, berkarat, atau berdebu. Pun medali bisa disimpan. Sertifikat suatu hari mungkin terlupakan. Yang harus tumbuh dari semua proses itu adalah karakter anak. Prestasi sebaiknya bukan sekadar untuk mendapatkan tepuk tangan, tapi menjadi jalan agar kemampuan yang dimiliki anak berguna bagi dirinya, keluarga, sekolah, dan orang lain.

Jadi, rumusnya: berani mencoba, mau berlatih, berani gagal, belajar dari kesalahan, mencoba lagi dan lagi, berkembang, lalu berprestasi.

Dan satu hal penting, jangan terlalu cepat menyebut anak “mental juara” hanya karena ia memenangkan sebuah perlombaan. Kita baru benar-benar melihat mental juara ketika ia kalah, kecewa, lalu mampu pulih, kembali berlatih, dan mau bertanding kembali.

Mental juara tidak dibentuk ketika anak menang. Mental juara dibentuk ketika anak gagal, kecewa, lalu memilih untuk bangkit dan mencoba lagi dan lagi. Di titik itulah ia telah menjadi “juara sejati”. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Burarerah

‹
›