MAKASSAR, Insertrakyat.com – Di tengah meningkatnya tekanan media sosial, budaya hustle, hingga krisis kesehatan mental yang banyak dialami generasi muda, penulis asal Makassar Wirda atau yang dikenal dengan nama pena Dardawirdhaa meluncurkan buku ke-14 berjudul “Dari Aku Untuk Aku”. Melalui buku tersebut, ia mengajak pembaca memahami bahwa mencintai diri sendiri bukan sekadar menerima segala kekurangan, tetapi dilakukan dengan mengikuti kehendak Allah sebagai jalan menuju ketenangan hidup.
Lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Alauddin Makassar itu mengungkapkan, buku tersebut lahir dari perjalanan panjang dalam memahami diri setelah bertahun-tahun berusaha memenuhi ekspektasi orang lain hingga kehilangan kesempatan untuk mendengarkan suara hati sendiri.
Saat dikonfirmasi InsertRakyat.com, Senin (3/8/2026), Dardawirdhaa mengatakan bahwa judul “Dari Aku Untuk Aku” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan simbol dialog batin yang lahir dari pengalaman hidup dan proses mengenal diri lebih dalam.
“Frasa ini seperti surat untuk diri saya yang pernah lelah, pernah terluka, dan merasa harus selalu kuat. Namun buku ini bukan sekadar mengajak mencintai diri. Ia adalah perjalanan belajar mencintai diri dengan cara yang Allah ridai. Sebab saya percaya, cinta kepada diri tidak akan pernah utuh jika ia tidak berangkat dari kedekatan kepada Sang Pencipta,” ujarnya.
Menurutnya, isu penerimaan diri (self-acceptance) semakin mendesak disuarakan karena banyak orang kini lebih sibuk mengejar pengakuan dari luar daripada mengenal dirinya sendiri. Standar kehidupan yang terus ditampilkan di media sosial membuat sebagian orang merasa tertinggal, gagal, bahkan kehilangan rasa syukur.
Berangkat dari kondisi tersebut, Dardawirdhaa tidak ingin menghadirkan buku yang hanya dipenuhi kalimat motivasi. Ia memilih mengajak pembaca merenung melalui refleksi dan pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari pengalaman nyata.
“Saya tidak ingin menulis buku yang hanya berkata, ‘Kamu pasti bisa’. Saya lebih ingin mengajak pembaca menemukan kesadarannya sendiri. Sebab perubahan yang bertahan lama lahir dari proses memahami diri, bukan dari nasihat yang terdengar indah,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap kisah dalam buku ini ditulis dengan batas yang jelas. Alih-alih mengumbar luka pribadi, Dardawirdhaa memilih membagikan hikmah yang dapat dipetik pembaca.
“Yang saya bagikan adalah pelajaran, bukan kronologi. Saya berharap pembaca menemukan dirinya sendiri dalam setiap refleksi, bukan mencari siapa tokoh di balik setiap cerita,” katanya.
Melalui “Dari Aku Untuk Aku”, Dardawirdhaa berharap bukunya menjadi teman bagi siapa saja yang tengah berjuang menghadapi imposter syndrome, kecemasan sosial, kelelahan mental, maupun tekanan hidup yang semakin kompleks. Ia ingin pembaca memahami bahwa mencintai diri bukan berarti menjadikan diri sebagai pusat kehidupan, melainkan mengenal diri, memperbaiki diri, dan menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah.
Perempuan yang mulai aktif menulis sejak 2015 itu telah menghasilkan 14 buku, dengan “Dari Aku Untuk Aku” menjadi karya terbarunya. Ia mengaku bersyukur karena setiap tulisannya mendapat apresiasi positif dari para pembaca. Baginya, setiap buku adalah ikhtiar untuk menghadirkan harapan dan mengingatkan bahwa ketenangan sejati lahir ketika seseorang mampu mencintai dirinya dengan mengikuti jalan yang diridai Allah.
Editor: Azhari

























Komentar 1
Sudah punya bukunya, daannn sangat relate 🥹
Semangat terus berkarya kak, dan tidak pernah lelah menunggu buku-buku kak wirdaaa kedepannya ✨🤍