Oleh Muhammad Subhan

TADI malam, Rabu, 7 Oktober 2026, di sebuah lepau teh telur di sudut Kota Padang Panjang, saya dan pimpinan Komunitas Seni Kuflet, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., melepas Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, untuk kembali melanjutkan perjalanan Safari Literasi Sumatra Etape III Minangkabau. Kamis, 8 Oktober 2026, Gol A Gong didampingi dua asistennya yang juga relawan Rumah Dunia meneruskan perjalanan ke Kabupaten Pasaman Barat.

“Dari mana lewatnya, ya?” tanya Gol A Gong ketika saya menjelaskan rute menuju Pasaman Barat.

“Kalau ingin melihat pemandangan indah dan jalan menurun yang berkelok-kelok, lewat Kelok Ampek Puluah Ampek, terus bersua Danau Maninjau. Kalau ingin jalan datar, lewat Padang Pariaman,” jawab saya.

“Ya, jalan datar saja deh. Ada durian di jalan, ya?”

“Nah, durian nanti bisa dibeli di Kayutanam.”

Gol A Gong tertawa. Sejak kemarin ia memang terus bertanya soal durian. Sore sebelumnya, kami menyusuri Pasar Padang Panjang. Buah lezat dengan aroma khas dan kulit berduri itu kami cari di sudut-sudut pasar, tapi sayang tak bersua.

“Belum musim kayaknya nih,” kata saya.

“Tak apa. Besok kita cari di Kayutanam saja,” serunya.

Kayutanam memang gudangnya durian. Bahkan, di pasar Kayutanam, ada tugu buah durian yang menandakan kampung itu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil durian.

Duta Baca Indonesia Gol A Gong singgah di Padang Panjang setelah menempuh perjalanan darat dengan kendaraan pribadinya dari Banten sejauh ratusan kilometer. Kota-kota di ujung timur Sumatra hingga Sumatra Barat ditempuhnya. Ini sosok penulis dan pegiat literasi yang militan. Energinya seperti tak habis-habis. Padahal, usianya sudah 63 tahun. Luar biasa!

Saat akan melakukan Safari Literasi Sumatra, Gol A Gong menghubungi saya dan menyampaikan bahwa Padang Panjang akan ia singgahi. Kota ini sudah empat kali ia datangi.

Pertama pada 2011, saat novel saya, Rinai Kabut Singgalang, terbit. Gol A Gong tak sungkan datang dengan gaya backpackeran, menempuh perjalanan darat menaiki bus. Saya menjemputnya di terminal. Selain Gol A Gong, saya juga mengundang novelis Aceh, Arafat Nur. Mereka hadir membedah Rinai Kabut Singgalang yang saat itu dihadiri lebih dari 300 peserta di Graha Serambi Makkah. Tentu, saat itu, Gol A Gong belum menjadi Duta Baca Indonesia.

Kedatangan kedua pada 2017. Gol A Gong membawa “Generasi Jaguar” yang tak lain keluarganya. Ada Mbak Tias Tatanka (Asih Purwaningtyas Chasanah) dan dua putranya, Gabriel Firmansyah (Abi) dan Jordi Alghifari (Odi). Sementara Natasha Azka Nursyamsa (Bela), putrinya, saat itu tidak ikut karena sedang menempuh pendidikan di China.

Tahun itu Gol A Gong dan Generasi Jaguar berkegiatan di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang dan mampir di kediaman saya di kaki Singgalang.

Kunjungan ketiga pada 2022, saat ia telah menjabat sebagai Duta Baca Indonesia dan kembali melakukan Safari Literasi Sumatra. Bersamaan dengan itu, ia turut hadir sebagai peserta Temu Penyair Asia Tenggara (TPAT) II yang dihelat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang berkolaborasi dengan Komunitas Seni Kuflet.

Namun, di ujung kegiatan kondisi kesehatannya menurun dan ia harus segera kembali ke Banten. “Gara-gara makan pedes Nasi Padang, nih!” ujarnya tertawa. Sebelumnya ia direncanakan menyinggahi Pondok Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang untuk bertemu para santri. Karena sakit, momen itu belum terjadi.

Barulah pada kunjungannya yang keempat, Gol A Gong memenuhi janjinya hadir di Kauman, Rabu, 7 Oktober 2026, setelah sebelumnya kembali menyinggahi Perguruan Diniyyah Puteri. Di kedua pesantren itu ia disambut ratusan santri dan guru.

Sehari sebelumnya, Selasa, 6 Oktober 2026, Gol A Gong berbagi proses kreatif di Kuflet. Ia bersua dengan penulis, pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, pustakawan, dan pegiat literasi Sumatra Barat, khususnya Padang Panjang. Ia juga menginap di Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Museum Sastra Indonesia di Aia Angek.

Baik di Kuflet, Diniyyah Puteri, maupun Kauman, Gol A Gong memberikan motivasi tentang pentingnya membaca buku dan menulis. Ia punya jargon sebagai Duta Baca Indonesia Perpustakaan Nasional RI: “Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat.”

Meski jabatan Duta Baca Indonesia 2026 ia emban secara probono alias sukarela karena efisiensi anggaran negara, dan tahun 2027 berkemungkinan jabatan itu tidak ada lagi, ia mengatakan posisi Duta Baca Indonesia tetap strategis sebagai ikon gerakan literasi nasional. Ia berharap Duta Baca Indonesia masih ada meski yang menjabat bukan dirinya.

“Saya mendorong Duta Baca Indonesia tetap ada, siapa pun yang menjabat,” ujarnya.

Secara pribadi, saya sepakat Duta Baca Indonesia tetap ada. Jabatan itu bukan sekadar gelar atau posisi seremonial. Duta Baca Indonesia menjadi salah satu wajah yang membawa pesan membaca dan menulis ke tengah masyarakat. Apalagi Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang mau terjun langsung ke sekolah, kampus, komunitas, perpustakaan, dan ruang-ruang masyarakat untuk menghidupkan budaya baca.

Gol A Gong telah membangun jejaring dan gerakan selama bertahun-tahun. Jika posisi itu ditiadakan, bukan hanya sosok duta yang hilang. Simbol, kesinambungan gerakan, dan energi yang sudah dibangun juga berpotensi ikut melemah, meski penggantinya ada Relawan Literasi Masyarakat dan lainnya. Jika Duta Baca Indonesia tetap ada, tentu tidak harus Gol A Gong yang menjabat. Siapa pun yang diamanahkan, semoga memiliki energi yang sama, yaitu mau bergerak, datang ke tengah masyarakat, dan memberi teladan. Teladan dimaksud, bukan sekadar mampu memberikan motivasi secara lisan, tapi juga menulis.

Gol A Gong juga berkisah tentang kondisi fisiknya yang disabilitas. Sewaktu remaja ia mengalami kecelakaan, terjatuh, dan tangan kirinya harus diamputasi. Namun, dukungan kedua orang tua dan kebiasaan yang ditanamkan melalui literasi keluarga membuatnya tidak menyerah pada keadaan.

Ia rajin berolahraga, membaca buku, dan beribadah. Dari perjalanan hidup itu, ia kemudian menjadi juara bulu tangkis dunia di Jepang pada kelas disabilitas, menulis lebih 200 buku, dan mengelilingi 27 negara di dunia. Anak-anaknya pun berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan di China dan Arab Saudi.

Kisah Gol A Gong ini menunjukkan satu hal bahwa keterbatasan fisik tidak otomatis menjadi keterbatasan masa depan.

Baik di Kuflet, Diniyyah Puteri, dan di Kauman, ia berpesan kepada generasi Z dan generasi Alpha. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mereka adalah generasi terbaik pada zamannya. Orang tua dan guru tidak seharusnya terus menyalahkan anak-anak karena mereka tumbuh dalam zaman yang berbeda.

Sebaliknya, orang tua dan guru juga harus mau meng-upgrade diri. Dunia berubah, cara anak belajar berubah, teknologi berubah, pun tantangan berubah. Maka, pendidikan pun harus mampu menyesuaikan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Saya melihat perjalanan Gol A Gong bukan semata perjalanan seorang penulis dari satu kota ke kota lain, tapi ia seperti sedang menyambungkan titik-titik kecil gerakan literasi di daerah, mulai dari sekolah, pesantren, komunitas, perpustakaan, rumah baca, penulis, guru, pelajar, dan masyarakat. Yang pasti, saya angkat topi pada kebertahanan pegiat literasi satu ini.

Terima kasih, Kang Gol A Gong. Selamat menempuh perjalanan Safari Literasi ke kota-kota berikutnya. Tetap jaga kesehatan. Teruslah berjalan, memberi keteladanan pentingnya membaca, menulis, dan tiada henti menjadi inspirasi bagi generasi terbaik masa depan. Tabik! []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

InsertRakyat.com di WhatsApp
Ikuti berita terbaru langsung melalui WhatsApp.