Oleh Muhammad Subhan

DUA surat digital ditulis Uda Yulfian Azrial (Yum A.Z.) secara bersambung di laman Facebook-nya. Masing-masing berjudul “Menjadi Penulis dan Aktor Pujaan Emak-Emak: Sebuah Cerita Tak Biasa untuk Dinda Subhan dan Pegiat Literasi Lainnya” dan “Koran Dinding Binneda dan Prestasi yang Mendunia: Sebuah Cerita Tak Biasa untuk Dinda Muhammad Subhan dan Pegiat Literasi Lainnya (Bagian 2)”.

Saya resapi setiap kata Uda Yum, seperti puluhan tahun lampau saya duduk di beranda rumah, membuka amplop surat yang baru saya terima dari tukang pos, lalu pelan-pelan membaca isinya. Saya selami setiap kata, sembari menikmati secangkir kopi ditemani sepoi angin lembut yang datang dari bukit.

Uda Yum sudah lama saya kenal. Beliau penulis prolifik, budayawan, dan pejuang literasi adat. Banyak buku-bukunya tentang adat dan budaya Minangkabau. Sebagian buku-buku itu menjadi koleksi bacaan saya di perpustakaan saya di rumah, di kaki Singgalang.

27 Desember 2026 mendatang, genaplah usia Uda Yulfian 60 tahun, seperti ia tulis di suratnya itu. Tentu saya sepakat, dan sebelumnya saya tulis pula di beberapa esai saya, bahwa soal rezeki Allah Swt. sudah mengatur, dan terkadang datang dari pintu tak diduga-duga.

Sejujurnya saya senang membaca catatan Uda Yum. Seperti halnya Uda, sejak SMA saya juga sudah menikmati honor tulisan yang terbit di media massa. Itu nikmat sekali. Rasanya tak terkatakan. Jantung berdebar ketika menandatangani selembar wesel pos di kantor pos, meski setelah itu tulisan yang dikirim lama tembus lagi di koran. Tapi sebab dorongan semangat itu, saya masih suka menulis, mengetik tulisan di mesin tik yang berisik suaranya itu, dan saya sering dimarahi emak yang di zaman itu tak tahu kalau dari pekerjaan ini bisa menghasilkan. Tapi pahamlah saya sikap emak, bahwa yang tampak di matanya bukanlah apa yang ada di mata dan hati kita, dan syukurnya, setelah bertahun-tahun kemudian, saya dapat menafkahi emak di hari tuanya dengan tulisan-tulisan saya. Alhamdulillah.

Uda Yum …. Saya sepakat bahwa soal cuan tergantung kita saja. Mau dapat banyak, bekerja keraslah. Tak ada hasil yang tiba-tiba datang, walau hadiah lotre sekalipun. Tetap ada keringat dan usaha yang dilakukan. Yang malas, akan sulit pula mendapatkan cuan. Kalaupun ia berasal dari keluarga berada, berapa lamalah harta itu kalau tak terus diusahakan yang baru, lama-lama akan habis pula, apalagi kalau tak dapat bernegosiasi dengan gaya hidup yang hedonis.

Syukurlah, sebagai penulis yang kecil-kecilan dan honor kecil ini, kita tetap kuat menjalaninya hingga hari tua, meski pandangan orang masih ada juga yang miring, menganggap bahwa pekerjaan sebagai penulis ini hanya membuang-buang waktu, tak ada untungnya, dan ada pula kawan saya yang ditolak calon mertuanya karena dianggap pekerjaannya tak jelas. Datang ia ke rumah saya, berurai air mata, betapa cintanya dia kepada gadis pujaannya itu, tapi berakhir kandas karena orang tuanya menganggap pekerjaan sebagai penulis adalah pekerjaan yang tak jelas.

BACA JUGA :  Selamat Jalan, Kuyut…

Kasihan kawan saya itu, tapi soal jodoh juga, seperti di awal surat ini pula, dan kita bersepakat, layaknya rezeki, Allah Swt. yang mengatur. Dan itu pula yang saya lihat, kini ia mendapat jodoh yang lebih baik dari apa yang dipikirkan sebelumnya, sementara masa lalunya telah ia jadikan buku, dan dari buku itu ia memperoleh cuan yang terus mengalir hingga hari tuanya.

Begitulah Uda, terkadang Tuhan menghadirkan masalah bukan semata untuk menguji hamba-Nya, tapi bagi seorang penulis, pengarang, masalah-masalah itu adalah anugerah, menjadi sumber ide dari tulisan-tulisannya.

Saya salut kepada Uda, sejak muda telah produktif menulis, menjadi trainer kepenulisan, konsultan media, dan dari cuan-cuan yang dihasilkan itu menyisihkan uangnya untuk membeli buku dan koran. Tentu, di zaman itu, belum ada media sosial, gawai masih di angan-angan. Satu-satunya yang asyik dibaca adalah buku dan koran.

Saya juga demikian, dorongan membaca buku kuat sejak sekolah dasar, karena saya punya sosok kepala sekolah yang rajin sekali menyuruh murid-muridnya ke perpustakaan. Apa pun hukuman atas ketidakdisiplinan muridnya, kami disuruh ke perpustakaan. Apakah duduk nongkrong begitu saja? Tidak, Uda. Kami disuruh memilih dan membaca buku yang kami sukai. Siapa yang tak senang, coba? Sebab hukuman itu, saya terbiasa datang ke perpustakaan sekolah di hari lainnya, duduk berlama-lama membaca buku, hingga kebiasaan itu terus berlanjut ke masa SMP dan SMA.

Di SMP dan SMA, di perpustakaan sekolah saya banyak sekali buku-buku sastra terbitan Balai Pustaka. Selain itu, ada majalah Horison yang setiap bulan datang dan kami berebutan membacanya. Gara-gara itu pula, hingga tamat SMA keinginan saya menjadi penulis tumbuh kian kuat, apalagi setelah merantau dari Aceh ke Padang.

Saya bersyukur menapakkan kaki di Padang, sebab di Ranah Minang inilah banyak tokoh-tokoh pengarang Indonesia yang karya-karyanya banyak sekali saya baca sewaktu sekolah dulu. Tak disangka pula, di kemudian hari saya bertemu sastrawan Taufiq Ismail yang mendirikan Rumah Puisi di Aia Angek hingga saya diminta beliau dan keluarga untuk mengurus kegiatan sastra di rumah itu sepanjang tahun 2009—2012.

Siapa sangka bisa demikian, Uda? Kalau bukan Allah Swt. yang berkehendak, atas cita-cita yang dibingkai sejak kecil dan remaja, mana mungkin semua “keajaiban” itu dapat ditemui. Sungguh, saya bahagia sekali, dan hingga kini saya masih terus menulis, hidup dari pekerjaan menulis maupun aktivitas di sekitar tulis-menulis.

Uda Yum, terkait lomba kepenulisan, dan setelah beberapa kali Uda meraih juara di tingkat lokal, provinsi, dan nasional, namun akhirnya Uda cenderung menghindari lomba-lomba itu, saya menaruh hormat. Uda sudah sampai di tahap puncak pencarian jati diri sebagai seorang penulis. Ibarat seorang pendaki gunung tertinggi di dunia, setelah kakinya sampai di puncak, satu-satunya keinginan yang ditempuh adalah kembali turun. Uda melakukan itu, selain Uda tak ingin kreativitas Uda terreduksi karena terperangkap kacamata kuda yang dipasangkan atas nama kriteria-kriteria atau subjektivitas untuk harus mengikuti selera panitia atau juri.

BACA JUGA :  Mendesak Penguatan Ekosistem Literasi dari Hulu ke Hilir

Objektivitas dan netralitas juri memang samar dan abu-abu. Soal selera juri ini juga sering diperdebatkan, sehingga yang benar-benar objektif susah ditemukan. Tapi bukankah itu cermin kehidupan, Uda? Siapakah hakim di dunia ini yang benar-benar adil? Hanya Allah Swt. saja Sang Juri dan Sang Hakim yang Mahaadil itu.

Tapi layaknya kehidupan pula, dunia ini penuh kompetisi. Sejak calon bayi di kandungan ibunya hingga ia lahir, dan hidup dengan segala ujian dan cobaan, semuanya penuh kompetisi. Lomba-lomba kepenulisan, dan lomba-lomba lainnya, bukan soal menang kalah saya kira, tapi soal bagaimana seseorang mampu melalui prosesnya, dalam benturan-benturan, yang semua itu akan membuat dirinya kuat dan tangguh. Tentu Uda sepakat dengan kata Tan Malaka, “terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.”

Saya salut pada Uda, sejak remaja telah menulis beragam genre, mulai fiksi hingga drama, sekaligus pertunjukannya, termasuk melukis. Tak banyak anak atau remaja yang seberbakat seperti Uda. Uda menjadi aktor pujaan anak-anak hingga emak-emak. Asyik sekali, Uda. Saya saja dulu hanya menulis puisi dan cerpen, itu pun dengan susah payah, hingga kemudian pelan-pelan saya belajar menulis esai, novel, dan karya jurnalistik. Jurnalistik, tak lebih karena keterpaksaan harus bekerja di media massa di Padang, tak lebih sebagai usaha bertahan hidup di tengah zaman yang susah di masa itu.

Tapi syukurnya, belajar jurnalistik membawa saya pada dunia yang lebih luas, tidak sempit, dan betapa asyiknya melakukan perjalanan ke mana saja, dan dari perjalanan itu sampailah saya pada satu tujuan bahwa saya harus menulis karya kreatif berbentuk buku yang dapat dibaca lebih luas. Ternyata memang asyik menulis buku.

Uda Yum yang baik, saya senang juga membaca pengalaman Uda saat mengurus majalah dinding sewaktu masih sekolah di SMP Negeri Bunga Setangkai, sekolah yang berada di perbatasan Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh. Uda telah aktif di BINNEDA (Bina Generasi Muda), mading sekolah Uda itu. Koran dinding itu terbit setiap pagi Senin sekali sepekan. Pasalnya, Uda sangat mengagumi seorang penulis yang paling dominan di koran dinding itu, Pria Takari Utama namanya, kakak kelas Uda yang rajin menulis di sana.

Agaknya samalah cerita Uda dengan cerita saya. Gara-gara mengagumi tulisan seorang senior di SMP, saya jadi tertarik menulis pula di mading. Itulah keramatnya menulis di mading, susah “move on” kata anak muda sekarang. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga SMA, dan siapa sangka pula, menulis menjadi jalan hidup di kemudian hari.

Memang begitulah kedahsyatan menulis, Uda. Kita terbuai dengan keasyikannya, hingga siapa sangka dari hobi itu menjadi pekerjaan, setidaknya buat saya dan Uda.

BACA JUGA :  Sarjana, Daya Juang, dan Adaptasi di Era Ketidakpastian

Tidak sampai di situ saja, lewat literasi, dan telah kita mulai sejak masa remaja dulu, banyak prestasi kita raih, Uda. Uda juga menceritakan itu, yang di kemudian hari banyak memenangkan lomba menulis hingga tingkat nasional, bahkan prestasi ilustrator koran dinding Uda (Yostin dan Lasunarti) bergantian menjadi Juara Lomba Melukis Internasional di India, bahkan Redaktur Teknologi koran dinding Uda ramai diberitakan banyak media mainstream karena mengejutkan dengan sukses eksperimen peluncuran roket miniaturnya. Tapi yang lebih dari itu, pada masa kejayaan Koran Dinding BINNEDA itu, ia menjadi bacaan “wajib” dan bacaan rebutan para siswa dan guru setiap pagi Senin. Salut saya, Uda, koran dinding Uda menjadi topik utama pula pada ulasan pidato kepala sekolah di saat upacara bendera.

Sudah pasti, karena ulasan yang ditulis redaksi koran dinding sekolah Uda itu berkelas, tajam, dan kritis, hingga menjadi rujukan. Dan saya ikut terkejut, di saat Uda menceritakan bahwa bagaikan petir di siang bolong, tiba-tiba keluar pengumuman Koran Dinding BINNEDA yang sangat dibanggakan itu dibredel kepala sekolah, karena terlalu tajam mengkritik kebijakan rezim di sekolah Uda di zaman itu.

Rupanya, tidak koran dinding Uda saja yang dibredel pihak sekolah di zaman itu. Penguasa Orde Baru juga melakukan pembredelan sejumlah media massa, di antaranya majalah Tempo pimpinan Goenawan Mohamad, lalu beberapa tahun setelah itu giliran Koran Sinar Harapan dibredel, kemudian Tabloid Detik dan Koran Prioritas pimpinan Surya Paloh juga ikut dibredel.

Ya, memang begitulah risiko sebagai penulis dan jurnalis, Uda. Selalu ada konsekuensi. Bukan semata yang kuat yang bertahan, tapi yang selalu mengikuti perubahan. Dan terkadang, agaknya perlu juga jurus ‘jurnalisme kepiting’ gaya Kompas itu, Uda, di mana harus tajam mengkritisi, di mana harus mundur selangkah sebagai jaga-jaga. Dan saya senang, Uda dan kawan-kawan Uda hingga kemudian hari banyak yang menjadi penulis sukses, seniman, dan tokoh di bidang literasi lainnya, termasuk Uda sebagai guru saya.

Tapi kembali ke majalah dinding (mading) atau koran dinding, memang sangat penting ada di sekolah, Uda. Sekolah-sekolah hari ini harus memungut semangat mading di masa lalu. Bukan sekadar tempelan di papan pengumuman sekolah, tapi dikelola secara profesional sehingga dari sana akan lahir calon-calon penulis yang di kemudian hari beberapa di antara mereka juga menjadi penulis andal.

Menurut hemat saya, meski zaman telah digital, mading tetap diperlukan, tinggal menyesuaikan saja konsepnya, sehingga produk literasi di sekolah tetap ada, dan menjadi wadah kreativitas bagi siswa.

Demikianlah Uda. Saya menyampaikan terima kasih atas surat bersambung Uda itu. Sungguh, saya senang membacanya, dan saya tunggu dengan harap-harap cemas surat selanjutnya. Tabik. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis