Oleh Muhammad Subhan

“Caci maki adalah bahasa mereka yang tidak memiliki argumen, dan ia bertindak seperti asam yang membakar habis rasa hormat manusia dalam sekejap.” — Jonathan Swift (1667–1745), penulis, penyair, dan rohaniwan Anglo-Irlandia

TULISAN usang sastrawan agung adiluhung, Sunlie Thomas Alexander, berjudul “Bersihkan Sastra Indonesia dari Para Penipu Munafik Bertopeng (Pseudo-)Kesantunan!”[1] melintas di beranda media sosial saya beberapa hari kemarin. Tidak hanya lewat, tapi secara khusus Sunlie menandai akun saya dengan—seperti gaya kesehariannya—caci maki.

Tidak perlu saya kutip kembali bualannya, sebab dapat sangat mudah ditemui di beranda media sosial.

Sebenarnya saya tidak perlu lagi memberi tanggapan atas tulisannya itu, sebab pesan yang ingin saya sampaikan sudah tuntas pada esai saya beberapa tahun lampau berjudul “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki”.[2] Namun, karena Sunlie yang “pseudo-intelektual” ini sudah capek-capek menulis panjang, dan saya iba sekali, baiklah saya berikan juga respons setelah bertahun-tahun tulisannya itu tak saya anggap penting.

Sebagai pembuka esai ini, saya telisik judul tulisan Sunlie: “Bersihkan Sastra Indonesia dari Para Penipu Munafik Bertopeng (Pseudo-)Kesantunan!” Kalau dicerna lebih dalam, Sunlie justru terjebak dalam perangkap kepalsuan yang ingin dilawannya. Menuntut ‘pembersihan’ dengan bahasa yang menghantam seolah-olah menempatkan diri sebagai hakim moral paling suci. Ini adalah pseudo-kejujuran, sebuah topeng amukan yang dipakai untuk memanen tepuk tangan instan di media sosial. “Hebat, Toean Sunlie. Hebat, Toean!” Dan, orang-orang bertepuk tangan, tapi sebagian memunggungi sambil mencibir.

Kesantunan, seburuk dan sesemu apa pun yang dituduhkan Sunlie terhadapnya, adalah infrastruktur peradaban yang menjaga agar manusia tidak saling menerkam saat berbeda pendapat. Ketika ruang sastra dibersihkan dari kesantunan dan digantikan oleh budaya caci maki yang telanjang, seperti gaya Sunlie, kita tidak sedang menyelamatkan akal sehat. Sebaliknya mengundang barbarisme masuk, di mana dialog mati, dan sastra berubah dari panggung estetika menjadi arena jagal karakter.

Namun baiklah, karena Sunlie adalah sastrawan agung yang karya-karyanya adiluhung dan dipuja-puja oleh pengikutnya, kita tetap menaruh hormat. Dan, karena dia menyebut kata “Penipu-Munafik” dengan gaya seperti berkhotbah itu—sekaligus menunjukkan secara terang kesuciannya—kita tambahkan saja satu sebutan lagi kepadanya: “soleha” (baca: saleha). Ya, Sunlie Thomas Alexander yang soleha.

Seperti halnya Sunlie yang tidak menanggapi seluruh esai saya karena ia buta kebenaran dan miskin gagasan, sebab tulisannya lebih banyak mengutip pendapat orang lain daripada isi kepalanya sendiri, saya juga tidak menanggapi seluruh ocehannya yang panjang. Saya hanya menanggapi beberapa paragraf yang saya anggap perlu saja dan kekinian, terutama komentar-komentarnya yang merasa suci sebagai seorang sastrawan soleha, tapi sangat keliru besar dan tentu membahayakan bagi masyarakat awam.

Komentar Sunlie: “Bukannya justru lantaran sastrawan adalah seorang ahli sastra, maka mereka seyogianya tahu betul dalam konteks seperti apa seorang narator maupun para karakter dalam karya-karyanya mesti berkata-kata dengan sopan dan dalam konteks apa pula harus menggunakan kata-kata yang kasar atau caci maki/umpatan?”

Justru karena seorang sastrawan dianggap sebagai ‘ahli bahasa dan sastra’, argumen Sunlie ini menjadi sangat ironis. Apakah predikat ‘ahli’ itu otomatis memberi Sunlie yang soleha ini lisensi moral untuk menentukan kapan caci maki menjadi sah? Logika Sunlie justru menelanjangi satu hal: ketika seorang sastrawan gagal menemukan diksi yang kuat, metafora yang presisi, atau kedalaman narasi untuk menggambarkan konflik, ia akan melarikan diri pada jalan pintas yang paling gampang, yaitu caci maki dan umpatan yang vulgar.

Mengatasnamakan ‘konteks’ untuk melegitimasi kata-kata kasar tak ubahnya seperti menutupi miskinnya imajinasi dengan jubah realisme. Jika untuk menggambarkan kemarahan atau kebusukan karakter Sunlie harus selalu mengeja caci maki secara telanjang, di mana letak keahlian sastra Sunlie yang agung ini? Orang awam di pasar pun bisa melakukan itu tanpa perlu menjadi sastrawan.

Lebih jauh lagi, klaim ‘tahu konteks’ ini justru memperlihatkan kegagalan mendasar dalam memahami tugas tertinggi seorang sastrawan. Sastra lahir bukan untuk sekadar memindahkan (fotokopi) mentah-mentah bahasa jalanan atau umpatan pasar ke dalam lembar-lembar buku atas nama realisme, melainkan untuk melakukan sublimasi, yaitu mengolah, menyaring, dan mengangkat realitas yang kasar itu menjadi sesuatu yang bernilai estetika tinggi.

Ketika seorang sastrawan dengan bangga melegitimasi caci maki telanjang sebagai representasi konteks, ia sebenarnya sedang mengalami kemalasan kreatif. Ia gagal menciptakan tegangan batin, mengonstruksi ironi, atau merajut dialog yang tajam tanpa perlu mengotori tangannya dengan kosakata yang banal (murahan). Menyerahkan ekspresi emosi sepenuhnya pada umpatan vulgar bukanlah tanda pemahaman konteks, melainkan bukti kepasrahan seorang penulis yang kehilangan daya magis bahasanya. Sastra yang agung justru diuji ketika ia mampu menggambarkan situasi yang paling busuk dan penuh amarah sekalipun, namun tetap menggunakan kekuatan jalinan kata yang membuat pembaca merenung, bukan malah merasa mual.

Komentar Sunlie: “Apakah ia juga luput membaca sejarah sastra Indonesia, sehingga tidak tahu bagaimana di luar politik literasi Balai Pustaka bentukan pemerintah Hindia Belanda, para penulis peranakan Tionghoa dan kaum Indo-Belanda ikut memberikan sumbangsih begitu besar bagi sastra (berbahasa) Indonesia melalui karya-karya mereka yang menggunakan bahasa Melayu Pasar?”

Hmm. Argumen sejarah yang Sunlie bawa justru memperlihatkan sesat pikir (logical fallacy) yang sangat akut. Sunlie sengaja membenturkan Balai Pustaka dengan sastra peranakan Tionghoa atau Indo-Belanda demi mendapatkan legitimasi sejarah untuk menghalalkan bahasa caci maki.

Tahukah Sunlie bahwa para penulis peranakan Tionghoa seperti Kwee Tek Hoay atau Lie Kim Hok menggunakan bahasa Melayu Pasar bukan sebagai pembenaran untuk mengobral umpatan kasar? Sebaliknya, mereka menggunakannya karena bahasa itu adalah lingua franca yang inklusif, demokratis, dan hidup di tengah masyarakat urban kala itu. Menyamakan bahasa Melayu Pasar yang kaya dengan budaya caci maki hari ini adalah bentuk pseudo-sejarah yang sangat dipaksakan.

Jika mau jujur membaca sejarah, kekuatan sastra tidak pernah diukur dari seberapa patuh ia pada sensor kolonial Balai Pustaka, atau seberapa vulgar ia di jalur Melayu Pasar. Kekuatan sastra diuji pada estetika dan kedalaman visi kemanusiaannya.

Kalau Sunlie berani objektif, mari bandingkan. Di jalur Balai Pustaka, kita punya roman Sitti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli. Konflik kemarahan, kelicikan Datuk Maringgih, dan penindasan kolonial digambarkan dengan sangat menusuk, tajam, dan penuh intrik, namun tanpa satu pun kata makian murahan yang keluar dari naratornya. Estetikanya berdiri kokoh tanpa perlu mengemis pada kevulgaran.[3]

BACA JUGA :  Makna, Hidup dari Menulis di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja

Sekarang mari lihat di luar Balai Pustaka, pada karya peranakan Tionghoa yang diagungkan Sunlie. Ambil contoh drama monumental Kwee Tek Hoay, Allah jang Palsoe (1921) atau roman Drama di Boeven Digoel (1928). Apakah karena mereka menggunakan Melayu Pasar lalu karyanya berisi caci maki jalanan yang banal? Sama sekali tidak! Kwee Tek Hoay mengkritik feodalisme, membongkar kemunafikan sosial, dan menggambarkan konflik batin tokoh-tokohnya dengan bahasa Melayu Pasar yang sangat terhormat, taktis, dan sarat perenungan filosofis.[4]

Jadi, membela caci maki dengan jubah ‘sejarah Melayu Pasar’ adalah apologi yang malas sekaligus penghinaan terhadap kualitas sastra peranakan itu sendiri. Sastra peranakan Tionghoa menyumbang saham besar bagi Indonesia bukan karena mereka menulis dengan ‘kasar’, melainkan karena mereka merekam denyut kehidupan masyarakat dengan jujur.[5] Ketika seorang penulis seperti Sunlie yang soleha hari ini berlindung di balik sejarah Melayu Pasar hanya untuk melegitimasi diksinya yang miskin dan hantam-kromo, ia sebenarnya sedang gagal menjadi sastrawan di era modern, sekaligus gagal memahami warisan masa lalu.

Komentar Sunlie: “Tidak tahukah Subhan kalau karya sastra pada hakikatnya merupakan cermin kehidupan, yang memantulkan kembali wajah kita apa adanya (buruk rupa atau elok rupawan, berjerawat batu atau semulus pualam)??? Tidak pahamkah pula dirinya jika karya sastra seyogianya selalu merefleksikan wajah jaman maupun lokalitas latarnya?”

Khotbah Sunlie tentang ‘sastra sebagai cermin zaman’ justru menelanjangi kedangkalan pemahamannya sendiri terhadap hakikat estetika. Jika tugas sastra hanya sekadar menjadi cermin yang memantulkan wajah zaman apa adanya—lengkap dengan ‘jerawat batu’ dan caci makinya yang vulgar—maka sastra tidak lagi dibutuhkan hari ini. Mengapa? Karena kamera CCTV, laporan berita kriminal, dan rekaman pertengkaran di media sosial jauh lebih jujur dan akurat dalam memantulkan realitas kasar itu daripada sebuah novel.

Jika sastrawan hanya bertindak sebagai tukang fotokopi realitas yang banal, di mana letak kerja intelektual dan kreatifnya? Sastra yang agung tidak pernah menjadi cermin pasif yang buram. Sastra adalah lensa kristal. Ia menangkap realitas yang buruk rupa, menyaringnya melalui perenungan yang dalam, lalu memancarkannya kembali sebagai sebuah kesadaran baru yang menggugah jiwa, bukan malah membuat mual dengan reproduksi sampah verbal yang klise.

Mari kita buka kembali lembaran emas sejarah sastra Indonesia di era Balai Pustaka; roman Salah Asuhan (1928) karya Abdul Muis adalah salah satunya. Roman ini adalah puncak refleksi wajah zaman dan lokalitas latar yang paling genial pada masanya. Abdul Muis memotret benturan budaya Barat dan Timur, sebuah zaman transisi yang penuh gejolak psikologis, rasisme kolonial, kemarahan, dan frustrasi batin yang luar biasa pada karakter Hanafi dan Corrie.[6]

Apakah untuk memantulkan ‘jerawat batu’ konflik rasial dan frustrasi sosial tersebut Abdul Muis harus mengobral caci maki vulgar di sepanjang narasi? Sama sekali tidak! Jeritan zaman itu digambarkan dengan dialog-dialog yang tajam, metafora yang menusuk hati, dan ironi yang tragis. Abdul Muis membuktikan bahwa lokalitas Minangkabau dan Jakarta tempo dulu yang penuh ketegangan bisa dihadirkan dengan sangat hidup dan bertenaga tanpa perlu mengemis pada kosakata sampah jalanan.

Berlindung di balik jargon ‘cermin kehidupan’ untuk melegitimasi diksi yang miskin dan hantam-kromo hanyalah apologi dari seorang penulis yang malas melakukan sublimasi estetika. Sastra bukan tempat sampah untuk menampung seluruh umpatan zaman. Ketika seorang penulis gagal mengangkat lokalitas dan realitas sosial menjadi sebuah karya seni yang tinggi, ia sebenarnya tidak sedang merefleksikan zaman, sebaliknya ia sedang menelanjangi ketidakmampuannya sendiri dalam mengolah bahasa.

Komentar Sunlie: “Jika Subhan benar, bahwa pertaruhan “mutu (sebuah) karya” sastra terletak pada “keindahan tutur gaya bahasa” dan bahwa seorang penulis sastra mesti “mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan”, maka sudah bisa diperkirakan seperti apa nantinya teks-teks karya sastra Indonesia yang bakal dihasilkan di bawah jargon konyol itu! Dan jika hal itu sampai terjadi, tamatlah sudah sastra Indonesia, bahkan sastra dunia!”

Ramalan Sunlie tentang ‘tamatnya sastra Indonesia dan dunia’ akibat penyaringan bahasa adalah sebuah melodrama intelektual yang menggelikan. Jika membiarkan bahasa pasaran tanpa saringan masuk secara brutal ke dalam teks adalah satu-satunya cara menyelamatkan sastra, maka tamatlah fungsi sastrawan. Jika bahasa yang ditulis sama persis dengan bahasa yang didengar di terminal, di pasar, atau di kolom komentar media sosial, untuk apa publik masih perlu membaca karya sastra? Sastra dunia bertahan hidup selama berabad-abad justru karena ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh realitas jalanan: yaitu keindahan tutur dan kedalaman bahasa yang telah disublimasikan.

Sunlie tampaknya gagal membedakan antara ‘bahasa sehari-hari’ sebagai objek tangkapan realitas, dengan ‘proses penyaringan’ sebagai kerja estetika penulis. Menyaring bahasa bukan berarti mensterilkan karya menjadi teks yang kaku dan munafik. Menyaring bahasa adalah kerja intelektual untuk menemukan diksi yang paling presisi, tajam, dan memiliki daya magis agar konflik yang digambarkan terasa menusuk hingga ke tulang sumsum pembaca.[7]

Jika Sunlie butuh bukti sejarah bagaimana prinsip penyaringan kata ini justru melahirkan mahakarya abadi dan bukannya menamatkan sastra, mari kita bedah roman Dian yang Tak Kunjung Padam (1930) karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) era Balai Pustaka. Dalam roman tersebut, STA memotret benturan kelas sosial yang sangat kejam antara Yasin yang miskin dan Molek yang bangsawan di Palembang. Ketegangan sosial, keputusasaan, kemarahan terhadap adat, dan patah hati yang teramat dalam digambarkan dengan sangat hidup.[8]

Apakah STA menggunakan bahasa pasaran tanpa saringan atau umpatan kasar jalanan untuk menggambarkan kepedihan dan ketidakadilan itu? Sama sekali tidak! STA dengan sadar memilih dan mengolah tutur gaya bahasa yang indah, puitis, namun sekaligus sangat bertenaga.

Resultannya? Roman itu tidak menamatkan sastra Indonesia; ia justru menjadi salah satu batu penjuru yang memperkokoh fondasi sastra modern kita. Karya itu membuktikan bahwa rasa sakit, amarah, dan protes sosial yang paling radikal sekalipun justru berlipat ganda kekuatannya ketika disampaikan melalui bahasa yang disaring dengan kecerdasan estetika yang tinggi.

Ketakutan Sunlie terhadap keindahan tutur gaya bahasa sebenarnya hanyalah apologi dari seorang penulis yang enggan memeras keringat kreatifnya untuk mengolah kata. Menuduh proses penyaringan bahasa sebagai pembunuh sastra tak ubahnya seperti seorang koki yang malas memasak, lalu menuduh proses penyaringan bumbu sebagai tindakan yang merusak keaslian rasa bahan makanan. Sastra dunia tidak akan tamat karena bahasanya indah; ia justru mati ketika para penulisnya kehilangan imajinasi dan memilih jalan pintas berupa kevulgaran yang klise.

BACA JUGA :  Mendesak Penguatan Ekosistem Literasi dari Hulu ke Hilir

Komentar Sunlie: “Pertanyaan saya selanjutnya, sejak kapan seorang penulis sastra harus menjadi “anutan yang patut diteladani”??? Sejak kapan seorang penulis sastra memikul tugas mulia kaum ulama, sebagai pengawal moralitas apalagi kesantunan??? Sejak kapan seorang penulis sastra dituntut menjadi orang suci???”

Pertanyaan balik saya kepada Sunlie yang soleha: jika seorang sastrawan menolak menjadi anutan, menolak mengawal moralitas, dan emoh dituntut menjadi orang suci, lalu atas dasar apa seorang Sunlie yang agung menulis esai dengan nada mengamuk pakai jurus mabuk dan menuntut untuk ‘membersihkan’ sastra Indonesia dari orang-orang yang ia sebut penipu dan munafik?

Bukankah tindakan Sunlie yang sibuk menghakimi moralitas kepenulisan orang lain dan melabeli mereka ‘munafik’ adalah bukti nyata bahwa Sunlie sedang menobatkan dirinya sendiri sebagai ‘ulama sastra’ yang paling suci dan merasa berhak menentukan siapa yang kotor dan siapa yang bersih?

Ini adalah puncak dari logika terbalik yang lebih munafik: Sunlie menolak dibebani tanggung jawab moral, tapi di saat yang sama, dia menggunakan standar moral yang agresif untuk mengadili dan mencaci-maki penulis lain di ruang publik.

Sastrawan memang bukan pengawal moralitas agama, tapi sastrawan adalah pengawal moralitas bahasa. Ketika seorang sastrawan menulis, ia sedang memproduksi kesadaran publik. Menolak tuntutan untuk menjaga mutu tutur kata dengan dalih ‘bukan orang suci’ adalah apologi paling malas dari seorang penulis yang ingin menikmati privilese sebagai ‘intelektual kebudayaan’, tapi emoh memikul tanggung jawab peradaban yang melekat pada profesinya.

Ketakutan Sunlie untuk menjadi ‘teladan’ sebenarnya hanyalah topeng dari pseudo-kebebasan. Ia ingin bebas memaki, bebas mencela, dan bebas menggunakan bahasa kasar di ruang publik, namun menolak dimintai pertanggungjawaban ketika bahasanya merusak ekosistem dialog. Sastra bukan tempat pelarian bagi orang-orang yang tidak mau diatur oleh adab berpikir. Sastrawan memang tidak memanggul air mata dunia, tapi jika mengolah kata dengan bermartabat saja Sunlie merasa keberatan, maka mungkin beban sastrawan mahaagung Sunlie ini bukan terlalu berat, melainkan kapasitas imajinasi dan komitmen kebudayaannya yang terlalu ringkih. Patut dikasihani.

Komentar Sunlie: “Dalam bahasa Indonesia, kata-kata seperti “bodoh, monyet, jancuk, babi, idiot, cecunguk, taik” memang biasa dipakai untuk memaki. Apa saya harus menggunakan makian dalam bahasa Hakka atau Mandarin yang (mungkin) tidak dipahami oleh umumnya khalayak sastra (berbahasa) Indonesia? Atau, harus sering-sering memakai makian dalam bahasa Inggris seperti “fu€k” atau “assh0le”?”

Pernyataan Sunlie ini sebuah pertunjukan keputusasaan logis yang sangat menggelikan. Sunlie sengaja menyodorkan pilihan absurd: kalau tidak memaki dengan ‘babi dan jancuk’ dalam bahasa Indonesia, maka harus memaki dalam bahasa Hakka, Mandarin, atau Inggris.

Siapa yang meminta Sunlie mengganti bahasa makiannya? Yang digugat bukanlah pilihan bahasa makian Sunlie yang soleha, melainkan ketidakmampuan estetikanya untuk mengekspresikan konflik tanpa harus mengemis pada caci maki!

Pertanyaan mendasarnya: apakah bagi seorang Sunlie, satu-satunya cara untuk bersikap jujur, realis, dan berkomunikasi dengan khalayak Indonesia adalah dengan mengobral kata ‘taik, idiot, monyet’, dan sejenisnya secara telanjang? Jika seorang penulis menganggap bahasa Indonesia hanya menyediakan kosakata selevel dinding toilet umum untuk menggambarkan kemarahan atau kebusukan, maka yang bermasalah bukan bahasa Indonesianya, melainkan kemiskinan imajinasi dan kedangkalan imperium kosakata si penulis itu sendiri.

Mari kita sodorkan cermin sejarah untuk menguji klaim ‘keharusan memaki’ ini. Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia menggambarkan penindasan kolonial yang paling biadab, kelicikan murni, dan kemarahan yang membakar dada Minke terhadap ketidakadilan hukum Belanda. Apakah Pramoedya harus mengabsen kebun binatang seperti ‘monyet’ atau ‘babi’ untuk membuat pembaca merasakan kemarahan itu? Tidak. Pramoedya menggunakan ketajaman narasi dan argumen yang menguliti kemanusiaan.[9]

Armijn Pane dalam Belenggu (1940) era Balai Pustaka memotret frustrasi, keputusasaan, dan benturan psikologis modernitas yang sangat pekat. Konfliknya begitu menyesakkan, namun dihadirkan lewat disiplin kata yang berwibawa, bukan umpatan jalanan.[10]

Jadi, Sunlie, jangan memanipulasi perdebatan dengan berpura-pura bingung memilih antara memaki dalam bahasa Indonesia atau bahasa Hakka. Sastra Indonesia itu kaya, luas, dan bertenaga. Sastra Indonesia tidak akan miskin hanya karena kehilangan kata ‘taik’ dalam teks kreatif Anda. Ketika seorang sastrawan merasa tidak punya pilihan lain selain mengumpat secara vulgar agar terlihat ‘membumi’, ia sebenarnya sedang menelanjangi satu hal: bahwa di luar kosakata caci maki yang banal itu, ia sudah tidak memiliki daya magis lagi sebagai seorang penulis.

Komentar Sunlie: “Silakan sering-sering mampir ke akun Facebook saya, tapi jangan cuma intip status atau postingan saya saja dong! Kalau berani, kita berdebat terbuka. Berseberangan itu hal yang biasa, tetapi harus memiliki argumentasi logis kalau berkata-kata! Sehingga dengan begitu, diskusi maupun debat terbuka baru bisa berjalan! Namun persoalannya adalah dengan orang yang bernalar saja tidak bisa tetapi sok tahu asal nyerocos (ngeyel pula), hal apa lagi yang bisa dilakukan selain memaki ketololannya yang keras kepala dan tidak tahu diri itu, Subhan?”

Apakah Sunlie yang agung ini tidak paham bahwa beberapa esai saya dan esai ini juga merupakan bentuk debat terbuka yang mengandung argumentasi logis? Justru melalui ruang-ruang teks inilah sebuah dialektika intelektual yang bermartabat sedang diuji di hadapan publik kebudayaan.

Jika Sunlie mengklaim diri sebagai orang yang mengutamakan “argumentasi logis” agar diskusi bisa berjalan, maka keputusan Sunlie untuk memaki adalah bentuk pengakuan kekalahan intelektual yang paling telanjang. Di dalam ilmu logika (logika formal), ketika seseorang berhenti menyodorkan premis runtut dan mulai menyerang pribadi lawan dengan kata-kata makian kasar, ia sedang melakukan sesat pikir akut yang disebut “Argumentum ad Hominem”.

Artinya, caci maki yang Sunlie lepaskan bukan karena lawan bicaranya keras kepala, melainkan karena Sunlie sendiri sudah kehabisan argumen logis untuk mempertahankan asumsi-asumsinya. Caci maki adalah jalan pintas yang diambil oleh ego yang frustrasi ketika ia tidak mampu lagi merubuhkan argumen lawan dengan pisau analisis yang objektif.

Sangat ironis ketika seseorang berkhotbah tentang pentingnya “bernalar”, namun menjadikan “ketololan orang lain” sebagai lisensi sah untuk memaki di ruang publik. Logika terbaliknya: jika Sunlie menganggap dirinya jauh lebih pintar dan bernalar, maka tugas sastrawan soleha ini adalah menelanjangi “ketololan” itu dengan kecerdasan argumen yang tak terbantahkan, hingga publik bisa melihatnya dengan jernih. Ketika dia memilih memaki, sebenarnya dia sedang menurunkan derajat intelektualnya sendiri ke tingkat yang sama dengan apa yang disebut “tolol” itu.

BACA JUGA :  Mengembalikan Anak ke Dunia Buku

Komentar Sunlie: “Apakah si Subhan ini memahami dalam konteks apa dan di jaman seperti apa Raja Ali Haji menulis Gurindam Dua Belas itu? Jika saya mau mengutip pesan moral semacam ini dari puisi-puisi klasik Tiongkok, bisa nangis dia!”

He-he-he. Kutiplah puisi-puisi klasik Tiongkok itu, Toean Sunlie yang soleha. Barangkali saya tidak menangis, atau sebaliknya tertawa lepas karena disuguhkan bacaan yang justru akan menelanjangi blunder sejarah dan kepanikan logis Anda. Jika Sunlie benar-benar memahami dan mau mengutip puisi klasik Tiongkok—baik dari era Dinasti Tang hingga Dinasti Song—dia sebenarnya sedang menggali lubang kubur untuk argumennya sendiri.

Apakah Sunlie mengira puisi klasik Tiongkok adalah ruang bagi para penyairnya untuk mengobral kata “taik, babi, jancuk, atau idiot” secara telanjang demi merefleksikan zaman? Sungguh sebuah pseudo-intelektualisme yang sangat memprihatinkan!

Sejarah mencatat bahwa penyair besar Tiongkok seperti Du Fu, Li Bai, atau Su Shi hidup di zaman yang luar biasa brutal. Penuh perang saudara yang menumpahkan darah jutaan nyawa, korupsi dinasti yang busuk, kelaparan, dan kemiskinan yang menjerit. Namun, bagaimana mereka merefleksikan “jerawat batu” zaman itu? Mereka menggunakan prinsip Shi Yan Zhi (诗言志), puisi mengekspresikan maksud dan pemikiran yang luhur, serta disiplin estetika yang amat ketat melalui bentuk Gushi atau Jintishi.[11]

Ketika Du Fu meratapi kehancuran ibu kota akibat pemberontakan dalam puisinya yang legendaris, Chun Wang (Tatapan Musim Semi), ia tidak memaki para pemberontak dengan kata-kata kasar pasar. Ia menulis: “Negara hancur, gunung dan sungai bertahan; Kota memasuki musim semi, rumput dan pepohonan tumbuh lebat.”[12] Air mata zaman dihadirkan lewat metafora yang sublim dan megah, bukan lewat kedangkalan sampah verbal.

Sastra klasik Tiongkok justru tegak lurus dengan semangat Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji: keduanya memandang bahasa sebagai representasi dari adab, karakter, dan kedalaman batin (Wen atau Budi). Di sana, caci maki kasar dianggap sebagai bentuk kebangkrutan kreativitas dan kerendahan martabat berpikir.

Jadi, silakan kutiplah puisi-puisi klasik Tiongkok itu, Toean Sunlie. Saya tunggu dengan senyum lebar. Mari kita lihat, apakah puisi-puisi agung para filsuf itu akan membenarkan diksi hantam-kromo Anda yang miskin imajinasi, atau justru kutipan-kutipan itu akan berbalik menampar wajah Anda sendiri seraya mengingatkan: bahwa di hadapan peradaban sastra yang tinggi, caci maki telanjang hanyalah tanda bahwa sang penulis sedang kehabisan daya magis kata-kata.

Komentar Sunlie: “Tahun lalu (2017) saya memenangkan dua sayembara kritik sastra, yakni Pemenang III Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2017 dan Juara I Kritik Sastra dalam Lomba Sastra & Seni Universitas Gadjah Mada ke-4 Tahun 2017. Tapi mana “kritik-kritik yang cerdas dan berimbang” karya kau itu, Subhan??? Pada bulan Februari 2018 ini buku saya yang keempat, Makam Seekor Kuda (kumpulan cerpen) juga akan segera diterbitkan oleh Indie Book Corner.”

Wuih… Keren. Wow, pokoknya. Jadi, sudah pantas dan layaklah saya sebut Sunlie Thomas Alexander sebagai sastrawan agung dengan karya adiluhung plus soleha karena bukan penipu dan bukan munafik. Namun, apakah prestasi dan karya yang dianggap hebat itu otomatis menjadi tameng moral untuk melegitimasi perilaku caci makinya selama ini?

Logika Sunlie ini sungguh sebuah komedi intelektual. Ia terjebak dalam sesat pikir “Appeal to Past Achievement”, seolah pamer kejayaan masa lalu memberinya hak istimewa untuk berkata kasar di ruang publik sekarang. Sastra Indonesia tidak mengukur siapa Anda di lembaran usang penghargaan, melainkan apa yang Anda tawarkan bagi kewarasan publik hari ini dan masa depan. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Catatan Kaki:

[1] Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di gatholoco.com dan nalarpolitik.com (kini tidak aktif). Dibagikan kembali oleh Sunlie Thomas Alexander di akun Facebook-nya, https://web.facebook.com/sunliethomas.alexanderii, diakses pada 6 Juni 2026.

[2] Baca Muhammad Subhan, “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki”, blog Rinai Kabut Singgalang, 2018, https://rinaikabutsinggalang.wordpress.com/2018/01/25/bersihkan-sastra-indonesia-dari-politik-caci-maki/, diakses pada 7 Juni 2026.

[3] Lihat Marah Rusli, Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, (Weltevreden: N.V. Boekhandel Visser & Co./Balai Poestaka, 1922).

[4] Lihat Kwee Tek Hoay, Allah jang Palsoe (Batavia: Tjiong Koen Bie, 1921) dan Drama di Boeven Digoel (Batavia: Hoa Siang In Kiok, 1928). Karakteristik estetikanya dibahas lebih lanjut dalam Andries Teeuw, Modern Indonesian Literature (The Hague: Martinus Nijhoff, 1967).

[5] Lihat analisis sosiologis dan bibliografi komprehensif dalam Claudine Salmon (1981), Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography, Paris: Éditions de la Maison des Sciences de l’Homme; serta Leo Suryadinata (1996), Sastra Peranakan Tionghoa di Indonesia, Jakarta: Grasindo.

[6] Lihat Abdul Muis, Salah Asuhan (Weltevreden: Agentschap Pustaka/Balai Poestaka, 1928). Untuk kajian mengenai benturan psikologis dan rasial tokohnya, lihat Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Bandung: Binacipta, 1969).

[7] Lihat T.S. Eliot, “Tradition and the Individual Talent”, The Egoist (1919). Esai ini mengupas konsep depersonalisasi seni dan pentingnya distansi estetik (jarak estetis) penulis terhadap luapan emosi mentahnya.

[8] Lihat Sutan Takdir Alisjahbana, Dian jang Tak Koendjoeng Padam (Batavia Centrum: Balai Poestaka, 1930). Kajian mengenai kritik feodalisme roman ini dapat dibaca dalam H.B. Jassin, Sastra Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai I (Jakarta: Balai Pustaka, 1954).

[9] Lihat Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (Jakarta: Hasta Mitra, 1980).

[10] Lihat Armijn Pane, Belenggu (Batavia Centrum: Aliran Baroe/Poedjangga Baroe, 1940).

[11] Lihat pembahasan otoritatif mengenai konsep fungsi moral, prinsip Shi Yan Zhi, serta struktur Gushi dan Jintishi dalam James J.Y. Liu, The Art of Chinese Poetry (Chicago: University of Chicago Press, 1962).

[12] Lihat Du Fu, The Poetry of Du Fu, ed. dan terj. Stephen Owen (Boston: De Gruyter, 2016). Rujukan teks ini memuat manuskrip asli dan terjemahan akademis puisi “Chun Wang” (Spring Gaze).