Oleh Supriadi Buraerah

Sabtu, 10 Oktober 2026, pagi, saya berbincang dengan sejumlah warga Kabupaten Sinjai. Ada yang berada dikawasan Lappa, Kelurahan Lappa, Kecamatan Sinjai Utara. Kawasan ini menjadi salah satu simpul kehidupan masyarakat dan tidak jauh dari Bangunan Bersejarah Benteng Balangnipa.

Percakapan kami sampai pada topik Laha Bete, makanan khas yang ingin mereka siapkan jika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka suatu hari berkunjung ke Sinjai.

Saya tersenyum membayangkannya. Ada keramahan yang terasa dari keinginan sederhana itu. Mereka ingin menyambut tamu, menyuguhkan makanan khas, dan membawa cerita tentang daerahnya ke hadapan seorang pejabat negara.

Namun, percakapan itu meninggalkan sesuatu dalam pikiran saya. Di balik keinginan menyambut Gibran, ada harapan tentang Lappa yang belum selesai dibicarakan “penataan kawasan Minapolitan” Penting.

Pikiran saya kemudian melompat ke sebuah lagu yang pernah akrab di telinga saat Pilpres 2024. Oke Gas, Oke Gas! Irama itu mengingatkan saya pada suasana kampanye, ketika kegembiraan memenuhi ruang-ruang pertemuan dan harapan tentang masa depan begitu mudah menjadi bahan percakapan.

Lagu yang dipopulerkan Richard Jersey itu menjadi bagian dari kampanye Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Waktu itu, kegembiraan terasa sebagai suasana yang bisa dinikmati bersama. Orang datang, mendengar pidato, mengikuti irama, dan merayakan pesta demokrasi dengan caranya masing-masing.

Sekarang, kampanye telah berlalu (2 tahun). Pemerintahan berjalan. Tetapi, apakah kegembiraan yang pernah menyertai pesta demokrasi masih mempunyai tempat dalam kehidupan masyarakat?. Apakah kegembiraan masih menyatukan versi dalam visi misi Indonesia Emas 2045?.

Pertanyaan itu membawa saya kembali kepada Lappa.

Saya pernah menulis tentang keinginan warga menyambut Gibran dengan Laha Bete dalam artikel InsertRakyat.com, 8 Oktober 2026, berjudul “Gak Usah Ke MK, Mas Gibran Ayo ke Sinjai Aja: Ada Laha Bete dan Harapan Lappa Minapolitan.” Ceritanya sederhana, tetapi bagi saya ada sesuatu yang patut direnungkan. Masyarakat ingin menyambut seorang wakil presiden, sementara kawasan tempat mereka menjalani kehidupan sehari-hari juga menunggu perhatian.

Lappa bukan sekadar nama kawasan yang disebut dalam perencanaan pembangunan. Di sana ada kehidupan yang terus berlangsung. Ada lingkungan permukiman, jalan yang dilalui setiap hari, saluran air yang harus berfungsi, persoalan sanitasi, sampah yang perlu dikelola, dan ruang bersama yang semestinya layak digunakan.

Urusan seperti itu mungkin tidak seramai lagu kampanye. Tidak ada irama Oke Gas yang mengiringi pembicaraan tentang drainase atau sanitasi. Namun, justru di situlah masyarakat dapat merasakan apakah pembangunan benar-benar mendekati kehidupan mereka.

Pemerintah Kabupaten Sinjai telah membicarakan penanganan kawasan kumuh Minapolitan Lappa melalui forum diskusi kelompok terarah pada Oktober 2025. Pembicaraan tersebut menjadi bagian dari upaya merumuskan penanganan kawasan permukiman.

Tentu, sebuah forum bukan akhir dari pekerjaan. Setelah persoalan dibicarakan, masyarakat menunggu kelanjutannya. Rencana perlu diterjemahkan menjadi langkah yang terukur, program yang jelas, dan pelaksanaan yang dapat dilihat hasilnya.

Saya membayangkan warga yang setiap hari beraktivitas di Lappa. Mereka tidak harus menguasai bahasa perencanaan pembangunan untuk memahami kebutuhan lingkungannya. Mereka cukup menjalani kehidupan, melihat keadaan di sekeliling, lalu berharap sesuatu yang lebih baik benar-benar terjadi.

Harapan seperti ini tidak memerlukan kalimat yang muluk-muluk. Lingkungan yang tertata, saluran air yang berfungsi, sanitasi yang memadai, pengelolaan sampah yang berjalan, akses jalan yang layak, serta ruang publik yang nyaman sudah mempunyai arti besar dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, di mana Oke Gas, Oke Gas! dalam cerita ini?

Versi saya, lagu itu adalah pintu masuk menuju ingatan tentang suasana hati masyarakat ketika kampanye berlangsung. Saya merindukan kegembiraan yang pernah terasa saat orang berbicara tentang masa depan. Namun, kerinduan itu bukan keinginan agar suasana kampanye terus dipertahankan dalam intrik politik. Sebaliknya ada visi pembangunan yang lebih prioritas.

Kegembiraan bukan orang yang bisa diminta datang kembali. Ia adalah suasana hati yang tumbuh dari pengalaman. Ketika harapan terasa dekat, orang mempunyai alasan untuk bergembira. Ketika persoalan yang lama menunggu mulai mendapatkan penyelesaian, ada kepuasan yang tumbuh dengan sendirinya.

Karena itu, saya ingin kegembiraan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setelah pesta demokrasi selesai.

Jangan sampai kegembiraan hanya menjadi kenangan tentang panggung kampanye, sementara masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama tanpa mengetahui kapan penanganannya akan bergerak. Jangan sampai semangat yang pernah menghidupkan suasana hanya berhenti sebagai ingatan, padahal kehidupan sehari-hari terus meminta perhatian.

Kegembiraan tidak punya KTP. Jika suasana itu menghilang dari kehidupan rakyat, kami mau mencarinya ke mana? Ia tidak dapat ditemukan hanya dengan mengulang lagu atau menghidupkan kembali keramaian yang sudah berlalu. Maka pantas dirawat dengan suasana hati yang semula. “Oke Gas”.

Mula-mula masa itu, kegembiraan  mempunyai alasan untuk tumbuh. Bukan melalui slogan yang terus diucapkan, melainkan melalui pengalaman bahwa suara masyarakat didengar, kebutuhan mereka diperhatikan, dan pekerjaan pemerintah menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa penataan Lappa dapat selesai dalam sehari. Pekerjaan pembangunan membutuhkan proses dan tanggung jawab. Tetapi proses itu perlu bergerak. Masyarakat patut mengetahui apa yang dikerjakan, apa yang menjadi prioritas, dan bagaimana rencana yang telah dibicarakan diteruskan.

Sebab, harapan yang dibiarkan terlalu lama tanpa kabar akan membuat orang bertanya-tanya. Bukan karena mereka berhenti berharap, melainkan karena mereka membutuhkan kepastian tentang arah perubahan.

Saya kembali mengingat percakapan dengan warga Minalappa. Mereka ingin menyambut Gibran dengan Laha Bete. Ada kehangatan dalam cerita itu, ada kebanggaan terhadap makanan khas, dan ada keinginan agar Sinjai dikenal melalui sesuatu yang berasal dari masyarakatnya sendiri.

Saya membayangkan, jika suatu hari Gibran benar-benar berkunjung ke Lappa, masyarakat tentu dapat menyambutnya dengan keramahan yang sama. Tetapi akan lebih bermakna jika kunjungan semacam itu berlangsung di tengah kawasan yang penataannya bergerak maju, dengan perubahan yang dapat dirasakan warga.

Laha Bete dapat menjadi hidangan penyambutan. Sementara itu, lingkungan yang tertata merupakan bagian dari kehidupan yang terus mereka jalani setelah tamu pulang.

Di situlah saya ingin meletakkan kerinduan kepada Oke Gas, Oke Gas! Bukan pada bunyi lagunya, melainkan pada semangat yang pernah mengiringi harapan masyarakat. Semangat itu semestinya menemukan kelanjutan melalui kerja pemerintahan, termasuk dalam penataan Minapolitan Lappa.

Saya tidak tahu kapan seluruh harapan tersebut akan terwujud. Saya hanya berharap pembicaraan tentang penataan kawasan tidak berhenti sebagai catatan pertemuan. Masyarakat perlu melihat langkah berikutnya dan merasakan hasilnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, pada akhirnya, kegembiraan tidak membutuhkan panggung untuk membuktikan keberadaannya. Ia dapat tumbuh di jalan yang lebih layak, di lingkungan yang bersih, di permukiman yang tertata, dan dalam keyakinan bahwa masa depan daerahnya sedang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Maka, jangan tinggalkan gembira.

Aku rindu kepada Oke Gas, Oke Gas! Bukan semata-mata karena iramanya pernah mengisi suasana Pilpres 2024, melainkan karena aku ingin semangat yang pernah menyertainya tetap hidup dalam kerja nyata setelah pesta demokrasi usai.

Untuk Lappa, kerinduan itu mempunyai arah yang jelas, ialah penataan kawasan Minapolitan yang bergerak dari perencanaan menuju realisasi. Sebab, kegembiraan yang paling dekat dengan rakyat adalah ketika harapan mereka mulai menjadi kenyataan. []

Penulis : Supriadi Buraerah, Penulis, Pimpinan Redaksi Insertrakyat.com dan Dip.Sekolah Menulis Elipsis.

TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com