BULUKUMBA, INSERTRAKYAT.COM– Sekolah UPT SMA Negeri 10 Bulukumba memanfaatkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Pelajaran 2026/2027 untuk membekali peserta didik baru dengan pemahaman tentang etika digital dan keamanan siber. Langkah ini dilakukan sebagai upaya membangun karakter pelajar yang cakap memanfaatkan teknologi sekaligus mampu menghadapi berbagai risiko di ruang digital.
Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Muhammad Yusran, S.Kom., M.Kom., guru SMAN 15 Bulukumba yang juga Fasilitator Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), pada Kamis (16/7/2026).
Kepala UPT SMA Negeri 10 Bulukumba menempatkan penguatan karakter digital sebagai bagian penting dalam pelaksanaan MPLS. Kegiatan tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali siswa dengan pengetahuan yang relevan di era media sosial, kecerdasan artifisial (AI), dan meningkatnya ancaman kejahatan siber.
Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Yusran menegaskan bahwa aktivitas di dunia digital memiliki konsekuensi yang sama dengan kehidupan nyata. Penggunaan gawai, interaksi di media sosial, penyebaran informasi, hingga perlindungan data pribadi menjadi tanggung jawab setiap pelajar.

Peserta didik juga diperkenalkan dengan prinsip 3S, yakni Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break. Melalui konsep tersebut, siswa diajak mengatur durasi penggunaan gawai, memilih tempat yang tepat saat menggunakan perangkat digital, serta memberi jeda agar tetap sehat, fokus, dan produktif.
Selain itu, siswa diajak mengevaluasi kebiasaan digital sehari-hari, seperti menggunakan gawai secara berlebihan, membuka media sosial saat belajar, hingga mengakses tautan yang mencurigakan. Materi tersebut bertujuan membangun kesadaran agar siswa mampu membedakan perilaku digital yang aman dan yang berisiko.
Aspek keadaban digital juga menjadi perhatian utama. Peserta diingatkan bahwa setiap interaksi di ruang digital harus tetap menjunjung sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan kepada orang lain.
Materi lainnya mengulas pentingnya menyaring informasi sebelum membagikannya. Siswa diajak menerapkan langkah sederhana, yakni berhenti, pikirkan, periksa, baru bagikan, sebagai upaya mencegah penyebaran hoaks dan informasi yang belum terverifikasi.
Pada sesi keamanan siber, peserta dikenalkan dengan berbagai ancaman digital, seperti phishing, pencurian data, peretasan akun, hingga penyalahgunaan informasi pribadi. Siswa juga diingatkan agar tidak pernah membagikan kata sandi, OTP, PIN, maupun kode pemulihan akun kepada siapa pun.
Suasana pembelajaran dibuat lebih interaktif melalui studi kasus dan permainan bertema “Aman atau Tidak Aman?”. Melalui metode tersebut, peserta belajar mengenali tindakan yang berisiko, seperti memberikan OTP kepada orang lain, menggunakan tanggal lahir sebagai kata sandi, atau menyalin seluruh jawaban dari AI.
Siswa juga diperkenalkan pada pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mencari ide, memahami materi, membuat latihan, memperbaiki tulisan, hingga merangkum informasi. Namun, AI tidak boleh dimanfaatkan untuk mencontek, memalsukan informasi, maupun memasukkan data pribadi.
Kehadiran Dr. Muhammad Yusran sebagai guru SMAN 15 Bulukumba sekaligus Fasilitator Koding dan Kecerdasan Artifisial menunjukkan kontribusi tenaga pendidik dalam memperkuat literasi digital dan karakter peserta didik.
Melalui MPLS Ramah Tahun Pelajaran 2026/2027, SMAN 10 Bulukumba menegaskan komitmennya membentuk generasi yang tidak hanya siap mengikuti proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi secara santun, aman, kritis, dan bertanggung jawab.
Informasi ini diterima InsertRakyat.com melalui rilis UPT SMA Negeri 10 Bulukumba yang diterbitkan pada 16 Juli 2026. (rina/rina).


































